Rabu, 22 Mei 2013

Never Coming Home


Never Coming Home
Oleh : Novayuandini Gemilang


At the end of the world or the last thing I see.
You are never coming home. Could I? Should I? And all the things that you never ever told me. And all the smiles that are ever ever... (My Chemical Romance - The Ghost Of You)


Kata ibuku, aku adalah anak yang sangat dinantikan. Terutama oleh ayahku. Ketiga kakakku semuanya laki-laki. Maka, ketika aku ─si anak perempuan─ lahir, bukan main bahagianya kedua orang tuaku. Apalagi ayah. Tiap hari ia menggendongku, mencubit gemas pipiku, dan kadang menyanyikan lagu nina bobo untuk menidurkanku sesaat ia pulang dari tempatnya bekerja.

"Papa kamu pingin banget punya anak cewek."

Andina Noor Syinat. Itu adalah nama pemberian dari ayahku. Syinat, mengambil nama belakangnya, Ronald Syinat. Ah, beruntungnya aku mempunyai ayah dan ibu seperti kedua orang tuaku. Setiap hari hidupku dipenuhi dengan cinta yang melimpah, rasanya seperti menjadi orang paling bahagia saja.

Tapi sepertinya aku lupa, bahwa tidak ada yang abadi. Waktu berjalan dan musim berganti.

*
Andina usia tiga tahun

"Papa, jangan pukul mama. Kasian mama sakit. Kasian mama nangis."

Andina menangis, bahkan tangisannya terdengar jauh lebih memilukan dibandingkan tangisan ibunya. Ibunya yang menunduk tak berdaya dan meringis kesakitan.
"Allan!!! Bawa adik kamu ke kamar!" Lelaki itu memerintah dengan nada membentak.

"Jangan pukul mama, Pa! Jangan pukul mama. Pukul Allan aja, jangan pukul mama, Pa." Allan menarik-narik kemeja putih ayahnya. Lalu berjalan mendekati ibunya dan mencoba melindungi wanita tersebut dengan membentangkan kedua tangannya ke samping. "Jangan pukul mama lagi, Pa..."

"Allan!!! Bawa masuk adik-adikmu! Masuk!!! Lelaki itu mendorong Allan hingga anak berusia sebelas  tahun itu jatuh tersungkur ke lantai
.
Sekarang giliran wanita paruh baya itu yang berteriak, "Jangan, Mas! Jangan sentuh anakku!" Ia menarik Allan dan Andina ke dekapannya. Di pojok ruangan, Rezi dan Rezky mulai menangis tanpa mengerti apa yang sedang terjadi.

"Masuk kamar ya, Sayang. Denger kata-kata Mama, ya."

Dengan tangan dan kaki gemetar akhirnya Allan menyerah. Ia mengajak ketiga adiknya untuk pergi dari ruang tamu. Terpaksa, mengajak mereka meninggalkan ibunya. Mengajak mereka berhenti menyaksikan adegan menyakitkan itu.

Adegan ibunya dipukuli oleh ayah kandungnya sendiri.

Di kamar, Allan mencoba menenangkan ketiga adiknya yang menangis. Mereka semua gemetar ketakutan. Rezi, Rezky juga Andina saling memeluk. Allan masih berdiri memegang ujung pintu, ia dituntut untuk bisa menenangkan adik-adiknya yang terisak. Tidak peduli bahwa ia juga masih seorang anak kecil ─yang di saat memilukan seperti ini─ juga ingin ditenangkan.

Percayalah, Tuhan selalu bergerak dengan cara misterius.

Kekuatan itu datang. Entah dari arah mana. Yang jelas perasaan Allan menjadi lebih stabil. Ia mulai bisa berpikir jernih dan mencoba melakukan segala hal untuk menenangkan ketiga adiknya, meyakinkan mereka bahwa semua baik-baik saja. Hingga akhirnya, ketiga adiknya pun tertidur. Saling memeluk, mengusir rasa takut. Allan masih terjaga. Kini giliran ia yang menangis.

Malam semakin larut. Bunyi hujan yang bergemericik di luar jendela menjadi alunan melodi yang berirama bersama simfoni isak tangis. 

Andina tiga lima tahun

"Mama, Mama. Papa mana? Kok nggak pulang-pulang?"

"Papa lagi kerja, Sayang. Sebentar lagi pulang."

Beberapa minggu kemudian,

"Mamaaaaa, papa manaaa? Keljanya kok lama banget? Andina mau ketemu papa," Andina terus  merengek.

"Nanti, Sayang. Dina jangan bandel makanya, ya. Harus mau makan yang banyak, harus mau dengar kata-kata Mama. Nanti papa cepat pulang,deh."

"Kalo Andina nggak bandel, Papa pulang? Kalo Andina makan yang banyak, nanti Papa pulang?"

"Iya, Sayang."

Andina kecil mengangguk. Sejak saat itu ia selalu menurut tiap disuruh makan. Tidak membantah, tidak rewel, tidak cengeng.

Karena ia percaya bahwa ayahnya akan pulang jika ia menjadi anak baik.

...tetapi lelaki itu tetap tidak pulang.

Andina umur lima tahun

Andina tidak begitu mengerti apa yang dibicarakan ibunya malam itu. Dan saat ia bertanya pada Rezi, jawaban yang ia justru membuatnya semakin tidak mengerti.

"Papa sama mama udah pisah. Kita nggak punya papa. Papa punya mama baru."

Semua terdiam. Sang ibu menunduk, belum menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kepada keempat anaknya. Andina terlihat bingung, kedua mata bulatnya membesar seakan meminta penjelasan. Allan akhirnya bersuara, dengan sisa-sisa tenaga dalam dirinya yang baru saja tumbuh, ia mengucapkan sebuah tekad,

"Nggak apa-apa, Ma! Nggak apa-apa, Din! Nggak apa-apa, Zi! Nggak apa-apa, Ky! Ada Aa Allan yang akan jaga kalian. Aa akan jaga mama, jaga Dina, jaga Rezi, jaga Rezky. Kita akan baik-baik aja tanpa papa!"

Namun, beberapa detik setelah mengucapkan itu, Allan pun akhirnya roboh. Larut dalam tangisan dan mungkin juga kebencian.

Mereka meraung. Menangisi kepergian lelaki bertopeng setan itu.

Andina kelas satu Sekolah Dasar

"Aku besok mau pergi berenang sama papaku, dong."

"Papa aku setiap hari nganterin aku ke sekolah. "

“Kata papa, aku mau dibeliin sepeda yang ada keranjangnya, lho."

Andina kecil tidak iri. Ia mendengarkan tiap cerita teman-temannya tentang ayah mereka dengan seksama. Dengan mimik wajah polosnya yang bahagia, seakan ia juga mengalami hal yang sama.

...walaupun sebenarnya ia tidak.

"Kalo Andina dijemputnya sama Aa Allan, besok sama Aa Rezi, besoknya lagi sama Aa Rezky, besoknya lagi…," lalu ia tersenyum.

...walaupun terlihat begitu getir.

Andina kelas satu Sekolah Menengah Pertama

"Ma, Andina mau ketemu papa, Ma. Ma, Andina mau ketemu papa, dong."

Ketika itu pagi. Gerimis jatuh melambat. Wajah Andina terlihat sumringah. Ia baru saja berhasil membujuk sang ibu untuk mengijinkannya menemui sang ayah. Andina dan Rezky pergi menemui lelaki tersebut menggunakan bus kota. Menurut informasi yang mereka dapat dari sang ibu, lelaki tersebut saat tinggal di daerah Bandung. Akhirnya mereka pun berangkat. Tentu saja dengan membawa rindu yang bertumpuk.

Rezky yang saat itu kelas dua di Sekolah Menengah Atas, menggandeng adik perempuannya sepanjang perjalanan. Tanpa pernah melepaskannya sedetikpun.

Hingga rumah dengan cat warna cokelat itu pun mulai terlihat. Mereka sampai. Setelah tadi di perjalanan sempat tersasar ke beberapa tempat, sempat bingung di stasiun, dan panik saat angkutan kota yang mereka naiki mogok di tengah jalan.

Dan mereka memang sudah sampai.

Ayahnya, sebentar lagi mereka akan bertemu dengan ayahnya. Setelah hampir sembilan tahun lelaki itu pergi meninggalkan mereka tanpa menyisakan bayangan sedikitpun.

"Oh, ini yang namanya Andina sama Rezky?"suara wanita. Ya, seorang wanita berbicara kepada mereka dengan nada yang terdengar begitu sinis.

"Saya istrinya papa kamu."

Semua hening. Hanya suara deras rintik hujan dan gelegar petir yang beberapa kali memecahkan kesunyian.

Lelaki itu ─yang mereka panggil papa─ tidak banyak berbicara. Hanya memersilahkan dua anaknya yang datang jauh dari Jakarta untuk masuk dan makan.

"Jangan terlalu lama disini, lusa kalian pulang."

Lalu ia duduk di sebuah kursi dari kayu jati yang terletak di sudut ruangan sebelum kemudian menyalakan rokok.

CLIK. Suara pemantik saat dinyalakan.

Tidak ada sambutan hangat, pelukan kerinduan, atau tangis haru. Yang ada hanya salam sinis dan sindiran pengusiran secara halus. Dan lagi-lagi, Andina tidak marah, tidak protes tidak mendengus. Ia tetap tersenyum. Walaupun dalam diam, hatinya teriris-iris pedih.

Kalo Andina makan banyak, kalo Andina nggak bandel, kalo Andina nggak cengeng, kalo Andina nurut sama Mama, papa pasti pulang kan, Ma?

Di luar, hujan masih menari-nari.

Andina Kelas tiga Sekolah Menengah Atas

Tidak adalagi impian-impian tentang lelaki itu. Semuanya telah menguap habis.

"Seperti yang Aa Allan bilang dulu, kita baik-baik aja tanpa papa."

Ia terlihat kuat saat itu. Meski saat wisuda kelulusan SMA beberapa hari yang lalu, hatinya tetap saja tercabik melihat teman-temannya diantar kedua orang tua mereka. Ayah dan Ibu.

Ah, tapi itu sudah tidak terlalu menjadi masalah untuknya. Keberadaan ibu dan tiga kakaknya yang luar biasa selama ini sudah lebih dari cukup membuatnya menjadi orang paling bahagia. Mereka bersama menjalani hidup, meski beberapa kali harus merangkak untuk bertahan.

Ibunya terlihat cantik di hari wisuda itu. Tersenyum bangga setelah mendengar nama putrinya disebut oleh Master of Ceremony sebagai siswi berprestasi di angkatan tahun ini. Allan terlihat gagah dengan setelan jas yang resmi. Saat ini ia telah menjabat sebagai seorang manager di sebuah perusahaan swasta di Jakarta dan telah menikah dengan seorang wanita berdarah Betawi. Rezi bertepuk tangan melihat adik bungsunya menaiki panggung, ia kini menjadi seorang pengusaha kopi dan memasok untuk beberapa kafe dan kedai kopi di wilayah Jabodetabek. Rezky pun terlihat penuh senyuman, lelaki itu baru saja menyelesaikan kuliahnya untuk jenjang strata satu di bidang teknologi informasi dan telah menandatangi kontrak dengan sebuah perusahaan komputer di Singapura.

Semuanya, baik-baik saja, kan?

Andina saat di Perguruan Tinggi

"Kamu masih berpikir untuk mencari ayahmu?"

"Tidak."

"Lantas?"

"Aku sedang menikmati hujan."

"Ah, terkadang aku lupa, kamu seorang penikmat hujan."

"Aku memang tidak lagi mencarinya. Tapi, hujan ini baru saja mengingatkanku tentang hujan di rumahnya malam itu."

Ada satu kalimat. Hanya satu kalimat, yang hampir tiap hari berputar-putar di pikirannya dan tak berhasil ia enyahkan.

"Andina kangen papa..."

Waktu berlalu tanpa pernah membawa lelaki itu kembali. Namun, Andina tetap meyakini teorama jiwa yang serupa, seperti dulu. Bahwa ia akan baik-baik saja. Keluarganya baik-baik saja. Dengan atau tanpa ayahnya di sampingnya untuk memeluk dan melindunginya. Ia percaya, bahwa ia dan ayahnya selalu berada di bawah langit yang sama. Dan itupun sudah cukup.

Kalo Andina makan banyak, kalo Andina nggak bandel, kalo Andina nggak cengeng, kalo Andina nurut sama Mama, papa pasti pulang kan, Ma?



sumber gambar :  di sini





Yes, I am a muslim, Am I?


Being a muslim is not about how many you say "I am muslim", but how much you prove that it is true.

Believe in heart, say through words, prove with act. That is iman.



the picture is from here

Ambassador


Islam is perfect. But muslim is not. Others judge islam from its people. Muslim is an ambassador of islam. So, please try to practice islam properly, follow our Prophet behavior, and make dua may Allah accept our deeds and forgives our sins. 

Then, let others see the beautiful of islam from our good manners.


the picture is from here

Find You, Find Me, Find Us


What are you seek is seeking you. (Jalaluddin Rumi)

Keep praying for what it is you seek. Impossibility and possibility are merely concepts of your mind. To Allah, nothing is impossible.

...Let's find each other. So you know, that all this time, you never seek alone.