Selasa, 31 Desember 2013

Kenapa Hujan?


"Kenapa harus hujan, Nov?"

"Maksudmu?"

"Kenapa harus hujan yang begitu kamu sukai, kenapa bukan langit, laut, atau bagian bumi yang lain, entahlah."

"Hujanku dikirim Tuhan, berasal dari birunya laut, naik ke langit, dan turun membasahi seluruh penjuru bumi."

"Tapi..."

"Sudahlah, aku tidak sedang memintamu untuk mengerti."

Senin, 30 Desember 2013

Desember Jangan Pergi

Aku menyukainya.
Hari-hari penuh awan kelabu yang menjadikan sendu.
Aku menyukainya.
Rintihan tetes hujan yang menjatuhkan diri beriringan.
Aku menyukainya.
Dingin, dingin, lalu bersembunyi dari angin.

Tuhan...
Kenapa hanya tiga puluh satu?


Selasa, 19 November 2013

Keep Them




If you find someone who makes you smile, who checks up on you often to see if you're okay. Who watches out of you and wants the best for you. Who loves and respects you. Don't let them go. People like that are hard to find.



Marriage Isn't For You

I just read this article from a fanspage of PureMatrimony on Facebook, and I found it is a great writing so i would love to share this with you all. :)

Marriage Isn't For You
By Seth Adam Smith
 (source )
Having been married only a year and a half, I’ve recently come to the conclusion that marriage isn’t for me.
Now before you start making assumptions, keep reading.
I met my wife in high school when we were 15 years old. We were friends for ten years until…until we decided no longer wanted to be just friends. :) I strongly recommend that best friends fall in love. Good times will be had by all.
Nevertheless, falling in love with my best friend did not prevent me from having certain fears and anxieties about getting married. The nearer Kim and I approached the decision to marry, the more I was filled with a paralyzing fear. Was I ready? Was I making the right choice? Was Kim the right person to marry? Would she make me happy?
Then, one fateful night, I shared these thoughts and concerns with my dad.
Perhaps each of us have moments in our lives when it feels like time slows down or the air becomes still and everything around us seems to draw in, marking that moment as one we will never forget.
My dad giving his response to my concerns was such a moment for me. With a knowing smile he said, “Seth, you’re being totally selfish. So I’m going to make this really simple: marriage isn’t for youYou don’t marry to make yourself happy, you marry to make someone else happy. More than that, your marriage isn’t for yourself, you’re marrying for a family. Not just for the in-laws and all of that nonsense, but for your future children. Who do you want to help you raisethem? Who do you want to influence them? Marriage isn’t for you. It’s not about you. Marriage is about the person you married.”
It was in that very moment that I knew that Kim was the right person to marry. I realized that I wanted to make her happy; to see her smile every day, to make her laugh every day. I wanted to be a part of her family, and my family wanted her to be a part of ours. And thinking back on all the times I had seen her play with my nieces, I knew that she was the one with whom I wanted to build our own family.
My father’s advice was both shocking and revelatory. It went against the grain of today’s “Walmart philosophy”, which is if it doesn’t make you happy, you can take it back and get a new one.
No, a true marriage (and true love) is never about you. It’s about the person you love—their wants, their needs, their hopes, and their dreams. Selfishness demands, “What’s in it for me?”, while Love asks, “What can I give?”
Some time ago, my wife showed me what it means to love selflessly. For many months, my heart had been hardening with a mixture of fear and resentment. Then, after the pressure had built up to where neither of us could stand it, emotions erupted. I was callous. I was selfish.
But instead of matching my selfishness, Kim did something beyond wonderful—she showed an outpouring of love. Laying aside all of the pain and aguish I had caused her, she lovingly took me in her arms and soothed my soul.
I realized that I had forgotten my dad’s advice. While Kim’s side of the marriage had been to love me, my side of the marriage had become all about me. This awful realization brought me to tears, and I promised my wife that I would try to be better.
To all who are reading this article—married, almost married, single, or even the sworn bachelor or bachelorette—I want you to know that marriage isn’t for you. No true relationship of love is for you. Love is about the person you love.
And, paradoxically, the more you truly love that person, the more love you receive. And not just from your significant other, but from their friends and their family and thousands of others you never would have met had your love remained self-centered.
Truly, love and marriage isn’t for you. It’s for others.
***
Well, after read this article, I talked to myself, "Nova, marriage is not for yourself. It's not about what would you take ONLY, but what could you give. Prepare yourself being a good woman who deserves for a good man. At the end of the day, a right man will come and you both will love each other in a happy marriage, with cute future children. With Allah as reason, and islam as foundation."
May Allah forgives me, forgives all of us...


Senin, 11 November 2013

One day


One day eventually you will realize who really matters, who never did, and who always will.


Rabu, 06 November 2013

Take and Give


There's no karma such thing in Islam. But remember,

"What you give you will get back"

"What goes around will eventually comes around"

Can not be Stolen





If someone really loves you, no matter how many other people they meet, their feelings for you won't change. 




A real lover can't be stolen.



sumber gambar : di sini

Senin, 04 November 2013

Discuss

 
Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk berdiskusi, bahkan dengan Tuhannya sendiri.
Not everyone has skill to discuss, even with their God.

Believe

 
I still believe that my happiness would come one day.

Jumat, 01 November 2013

Distance is Nothing



If distance is what I have to overcome to be with you, then give me a map, I am going to find you. 



sumber gambar : di sini

Minggu, 20 Oktober 2013

Planet Children



We talk about leaving a better planet to our children, but lets not forget to leave better children to our planet.




sumber gambar : di sini 

Rabu, 16 Oktober 2013

Selasa, 15 Oktober 2013

you and me



Allah created you. Allah created me. May Allah let us walk together as a huband and wife. 

Rabu, 18 September 2013

Parents




They were here, but you didn't see them. The parents are ninjas, they protect you from the shadows. 





sumber gambar : di sini 

Love is Hurt



Love hurts when it isn't for Allah...




sumber gambar :  di sini

Percaya Diri


Main-main saja dulu sampai puas. Nanti tobatnya, saat umur sudah beranjak dewasa atau mungkin senja. 


Hmm, percaya diri sekali. Siapa yang tahu umur kita akan sampai masa taubat "nanti", atau terlanjur berhenti saat masih di sesi main-main.


Rabu, 22 Mei 2013

Never Coming Home


Never Coming Home
Oleh : Novayuandini Gemilang


At the end of the world or the last thing I see.
You are never coming home. Could I? Should I? And all the things that you never ever told me. And all the smiles that are ever ever... (My Chemical Romance - The Ghost Of You)


Kata ibuku, aku adalah anak yang sangat dinantikan. Terutama oleh ayahku. Ketiga kakakku semuanya laki-laki. Maka, ketika aku ─si anak perempuan─ lahir, bukan main bahagianya kedua orang tuaku. Apalagi ayah. Tiap hari ia menggendongku, mencubit gemas pipiku, dan kadang menyanyikan lagu nina bobo untuk menidurkanku sesaat ia pulang dari tempatnya bekerja.

"Papa kamu pingin banget punya anak cewek."

Andina Noor Syinat. Itu adalah nama pemberian dari ayahku. Syinat, mengambil nama belakangnya, Ronald Syinat. Ah, beruntungnya aku mempunyai ayah dan ibu seperti kedua orang tuaku. Setiap hari hidupku dipenuhi dengan cinta yang melimpah, rasanya seperti menjadi orang paling bahagia saja.

Tapi sepertinya aku lupa, bahwa tidak ada yang abadi. Waktu berjalan dan musim berganti.

*
Andina usia tiga tahun

"Papa, jangan pukul mama. Kasian mama sakit. Kasian mama nangis."

Andina menangis, bahkan tangisannya terdengar jauh lebih memilukan dibandingkan tangisan ibunya. Ibunya yang menunduk tak berdaya dan meringis kesakitan.
"Allan!!! Bawa adik kamu ke kamar!" Lelaki itu memerintah dengan nada membentak.

"Jangan pukul mama, Pa! Jangan pukul mama. Pukul Allan aja, jangan pukul mama, Pa." Allan menarik-narik kemeja putih ayahnya. Lalu berjalan mendekati ibunya dan mencoba melindungi wanita tersebut dengan membentangkan kedua tangannya ke samping. "Jangan pukul mama lagi, Pa..."

"Allan!!! Bawa masuk adik-adikmu! Masuk!!! Lelaki itu mendorong Allan hingga anak berusia sebelas  tahun itu jatuh tersungkur ke lantai
.
Sekarang giliran wanita paruh baya itu yang berteriak, "Jangan, Mas! Jangan sentuh anakku!" Ia menarik Allan dan Andina ke dekapannya. Di pojok ruangan, Rezi dan Rezky mulai menangis tanpa mengerti apa yang sedang terjadi.

"Masuk kamar ya, Sayang. Denger kata-kata Mama, ya."

Dengan tangan dan kaki gemetar akhirnya Allan menyerah. Ia mengajak ketiga adiknya untuk pergi dari ruang tamu. Terpaksa, mengajak mereka meninggalkan ibunya. Mengajak mereka berhenti menyaksikan adegan menyakitkan itu.

Adegan ibunya dipukuli oleh ayah kandungnya sendiri.

Di kamar, Allan mencoba menenangkan ketiga adiknya yang menangis. Mereka semua gemetar ketakutan. Rezi, Rezky juga Andina saling memeluk. Allan masih berdiri memegang ujung pintu, ia dituntut untuk bisa menenangkan adik-adiknya yang terisak. Tidak peduli bahwa ia juga masih seorang anak kecil ─yang di saat memilukan seperti ini─ juga ingin ditenangkan.

Percayalah, Tuhan selalu bergerak dengan cara misterius.

Kekuatan itu datang. Entah dari arah mana. Yang jelas perasaan Allan menjadi lebih stabil. Ia mulai bisa berpikir jernih dan mencoba melakukan segala hal untuk menenangkan ketiga adiknya, meyakinkan mereka bahwa semua baik-baik saja. Hingga akhirnya, ketiga adiknya pun tertidur. Saling memeluk, mengusir rasa takut. Allan masih terjaga. Kini giliran ia yang menangis.

Malam semakin larut. Bunyi hujan yang bergemericik di luar jendela menjadi alunan melodi yang berirama bersama simfoni isak tangis. 

Andina tiga lima tahun

"Mama, Mama. Papa mana? Kok nggak pulang-pulang?"

"Papa lagi kerja, Sayang. Sebentar lagi pulang."

Beberapa minggu kemudian,

"Mamaaaaa, papa manaaa? Keljanya kok lama banget? Andina mau ketemu papa," Andina terus  merengek.

"Nanti, Sayang. Dina jangan bandel makanya, ya. Harus mau makan yang banyak, harus mau dengar kata-kata Mama. Nanti papa cepat pulang,deh."

"Kalo Andina nggak bandel, Papa pulang? Kalo Andina makan yang banyak, nanti Papa pulang?"

"Iya, Sayang."

Andina kecil mengangguk. Sejak saat itu ia selalu menurut tiap disuruh makan. Tidak membantah, tidak rewel, tidak cengeng.

Karena ia percaya bahwa ayahnya akan pulang jika ia menjadi anak baik.

...tetapi lelaki itu tetap tidak pulang.

Andina umur lima tahun

Andina tidak begitu mengerti apa yang dibicarakan ibunya malam itu. Dan saat ia bertanya pada Rezi, jawaban yang ia justru membuatnya semakin tidak mengerti.

"Papa sama mama udah pisah. Kita nggak punya papa. Papa punya mama baru."

Semua terdiam. Sang ibu menunduk, belum menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kepada keempat anaknya. Andina terlihat bingung, kedua mata bulatnya membesar seakan meminta penjelasan. Allan akhirnya bersuara, dengan sisa-sisa tenaga dalam dirinya yang baru saja tumbuh, ia mengucapkan sebuah tekad,

"Nggak apa-apa, Ma! Nggak apa-apa, Din! Nggak apa-apa, Zi! Nggak apa-apa, Ky! Ada Aa Allan yang akan jaga kalian. Aa akan jaga mama, jaga Dina, jaga Rezi, jaga Rezky. Kita akan baik-baik aja tanpa papa!"

Namun, beberapa detik setelah mengucapkan itu, Allan pun akhirnya roboh. Larut dalam tangisan dan mungkin juga kebencian.

Mereka meraung. Menangisi kepergian lelaki bertopeng setan itu.

Andina kelas satu Sekolah Dasar

"Aku besok mau pergi berenang sama papaku, dong."

"Papa aku setiap hari nganterin aku ke sekolah. "

“Kata papa, aku mau dibeliin sepeda yang ada keranjangnya, lho."

Andina kecil tidak iri. Ia mendengarkan tiap cerita teman-temannya tentang ayah mereka dengan seksama. Dengan mimik wajah polosnya yang bahagia, seakan ia juga mengalami hal yang sama.

...walaupun sebenarnya ia tidak.

"Kalo Andina dijemputnya sama Aa Allan, besok sama Aa Rezi, besoknya lagi sama Aa Rezky, besoknya lagi…," lalu ia tersenyum.

...walaupun terlihat begitu getir.

Andina kelas satu Sekolah Menengah Pertama

"Ma, Andina mau ketemu papa, Ma. Ma, Andina mau ketemu papa, dong."

Ketika itu pagi. Gerimis jatuh melambat. Wajah Andina terlihat sumringah. Ia baru saja berhasil membujuk sang ibu untuk mengijinkannya menemui sang ayah. Andina dan Rezky pergi menemui lelaki tersebut menggunakan bus kota. Menurut informasi yang mereka dapat dari sang ibu, lelaki tersebut saat tinggal di daerah Bandung. Akhirnya mereka pun berangkat. Tentu saja dengan membawa rindu yang bertumpuk.

Rezky yang saat itu kelas dua di Sekolah Menengah Atas, menggandeng adik perempuannya sepanjang perjalanan. Tanpa pernah melepaskannya sedetikpun.

Hingga rumah dengan cat warna cokelat itu pun mulai terlihat. Mereka sampai. Setelah tadi di perjalanan sempat tersasar ke beberapa tempat, sempat bingung di stasiun, dan panik saat angkutan kota yang mereka naiki mogok di tengah jalan.

Dan mereka memang sudah sampai.

Ayahnya, sebentar lagi mereka akan bertemu dengan ayahnya. Setelah hampir sembilan tahun lelaki itu pergi meninggalkan mereka tanpa menyisakan bayangan sedikitpun.

"Oh, ini yang namanya Andina sama Rezky?"suara wanita. Ya, seorang wanita berbicara kepada mereka dengan nada yang terdengar begitu sinis.

"Saya istrinya papa kamu."

Semua hening. Hanya suara deras rintik hujan dan gelegar petir yang beberapa kali memecahkan kesunyian.

Lelaki itu ─yang mereka panggil papa─ tidak banyak berbicara. Hanya memersilahkan dua anaknya yang datang jauh dari Jakarta untuk masuk dan makan.

"Jangan terlalu lama disini, lusa kalian pulang."

Lalu ia duduk di sebuah kursi dari kayu jati yang terletak di sudut ruangan sebelum kemudian menyalakan rokok.

CLIK. Suara pemantik saat dinyalakan.

Tidak ada sambutan hangat, pelukan kerinduan, atau tangis haru. Yang ada hanya salam sinis dan sindiran pengusiran secara halus. Dan lagi-lagi, Andina tidak marah, tidak protes tidak mendengus. Ia tetap tersenyum. Walaupun dalam diam, hatinya teriris-iris pedih.

Kalo Andina makan banyak, kalo Andina nggak bandel, kalo Andina nggak cengeng, kalo Andina nurut sama Mama, papa pasti pulang kan, Ma?

Di luar, hujan masih menari-nari.

Andina Kelas tiga Sekolah Menengah Atas

Tidak adalagi impian-impian tentang lelaki itu. Semuanya telah menguap habis.

"Seperti yang Aa Allan bilang dulu, kita baik-baik aja tanpa papa."

Ia terlihat kuat saat itu. Meski saat wisuda kelulusan SMA beberapa hari yang lalu, hatinya tetap saja tercabik melihat teman-temannya diantar kedua orang tua mereka. Ayah dan Ibu.

Ah, tapi itu sudah tidak terlalu menjadi masalah untuknya. Keberadaan ibu dan tiga kakaknya yang luar biasa selama ini sudah lebih dari cukup membuatnya menjadi orang paling bahagia. Mereka bersama menjalani hidup, meski beberapa kali harus merangkak untuk bertahan.

Ibunya terlihat cantik di hari wisuda itu. Tersenyum bangga setelah mendengar nama putrinya disebut oleh Master of Ceremony sebagai siswi berprestasi di angkatan tahun ini. Allan terlihat gagah dengan setelan jas yang resmi. Saat ini ia telah menjabat sebagai seorang manager di sebuah perusahaan swasta di Jakarta dan telah menikah dengan seorang wanita berdarah Betawi. Rezi bertepuk tangan melihat adik bungsunya menaiki panggung, ia kini menjadi seorang pengusaha kopi dan memasok untuk beberapa kafe dan kedai kopi di wilayah Jabodetabek. Rezky pun terlihat penuh senyuman, lelaki itu baru saja menyelesaikan kuliahnya untuk jenjang strata satu di bidang teknologi informasi dan telah menandatangi kontrak dengan sebuah perusahaan komputer di Singapura.

Semuanya, baik-baik saja, kan?

Andina saat di Perguruan Tinggi

"Kamu masih berpikir untuk mencari ayahmu?"

"Tidak."

"Lantas?"

"Aku sedang menikmati hujan."

"Ah, terkadang aku lupa, kamu seorang penikmat hujan."

"Aku memang tidak lagi mencarinya. Tapi, hujan ini baru saja mengingatkanku tentang hujan di rumahnya malam itu."

Ada satu kalimat. Hanya satu kalimat, yang hampir tiap hari berputar-putar di pikirannya dan tak berhasil ia enyahkan.

"Andina kangen papa..."

Waktu berlalu tanpa pernah membawa lelaki itu kembali. Namun, Andina tetap meyakini teorama jiwa yang serupa, seperti dulu. Bahwa ia akan baik-baik saja. Keluarganya baik-baik saja. Dengan atau tanpa ayahnya di sampingnya untuk memeluk dan melindunginya. Ia percaya, bahwa ia dan ayahnya selalu berada di bawah langit yang sama. Dan itupun sudah cukup.

Kalo Andina makan banyak, kalo Andina nggak bandel, kalo Andina nggak cengeng, kalo Andina nurut sama Mama, papa pasti pulang kan, Ma?



sumber gambar :  di sini





Yes, I am a muslim, Am I?


Being a muslim is not about how many you say "I am muslim", but how much you prove that it is true.

Believe in heart, say through words, prove with act. That is iman.



the picture is from here

Ambassador


Islam is perfect. But muslim is not. Others judge islam from its people. Muslim is an ambassador of islam. So, please try to practice islam properly, follow our Prophet behavior, and make dua may Allah accept our deeds and forgives our sins. 

Then, let others see the beautiful of islam from our good manners.


the picture is from here

Find You, Find Me, Find Us


What are you seek is seeking you. (Jalaluddin Rumi)

Keep praying for what it is you seek. Impossibility and possibility are merely concepts of your mind. To Allah, nothing is impossible.

...Let's find each other. So you know, that all this time, you never seek alone.


Rabu, 24 April 2013

Wanita Terhormat

Jika ingin dihormati, jadilah wanita terhormat. Wanita yang menjaga aurat dan kemaluannya. Wanita yang malu bila dipandang penuh napsu. Wanita yang tegas namun lemah lembut. Wanita yang berjuang luar biasa namun tetap mengingat fitrahnya. Wanita yang menunggu dan mencari dalam jalur yang diridhai.

Senin, 15 April 2013

Let You Go


Terkadang, meski banyak hal yang sangat ingin kau pertahankan, satu-satunya yang dapat kau lakukan adalah,

...melepaskan.



Senin, 08 April 2013

Limit

I can not always being strong, mature, and wise. I am just a human, a little woman...

Sabtu, 23 Maret 2013

Senin, 18 Maret 2013

Sabtu, 23 Februari 2013

Hujan Berhenti

Kau tidak bisa memaksa hujan untuk datang, Nova.
Sama seperti tak mampu dirimu menahannya untuk tetap turun,
di saat ia memang harus berhenti.

dan bersamamu dirimulah, musim hujan tahun ini berakhir...



Kamis, 21 Februari 2013

Insya Allah, Us

Cinta adalah harapan-harapan yang ingin kau capai bersama dia,


yang akan hidup denganmu dalam ikatan pernikahan.


Senin, 18 Februari 2013

Manusia Bodoh


Kita adalah sekumpulan orang kuno yang bodoh,
yang menikmati kebodohan,
dan senang membodohi orang lain.



sumber gambar : di sini

Tunda


Bagaimana jika tidak ada...
...esok?
dan tidak ada...
...nanti?



Minggu, 17 Februari 2013

Honesty, huh?


A clear rejection is always better than a fake promise.
(anonymous)



sumber gambar: di sini

Kembali

Jangan lari, jangan bersembunyi.
Jangan berdiri ditempat yang aku tidak bisa melihatmu.
Balikkan badanmu, lihat ke arahku,
bisakah semua hal kembali lagi?

Jumat, 01 Februari 2013

Kamis, 31 Januari 2013

Kata


Aku mencoba merasakan setiap kata darimu,
membaca tidak hanya dengan mata,
mendengar tidak hanya dengan telinga.



Senin, 28 Januari 2013

Same


Though separated by thousands of miles and many hours of time difference, we still under the auspices of the same sky. And with same doa.

KUN FAYAKUN


Ask to Allah,
say your dua,
do your effort,
then be tawakkal.
And if Allah says KUN, it will FAYAKUN.
For Allah, everything are possible. 


Fabiayya ala irabbikuma tukazziban.

Sabtu, 26 Januari 2013

Love you much!





Want to with you in Jannah too,
My lovely Mom, My lovely Grandmom.

Insha Allah.


Sabtu, 19 Januari 2013

Only for My Eyes


Hijab is not only about cover your hair, but also your body shape. Do you want wear clothes but you look like naked?

Husband says to his wife : As a muslima you have to wear hijab and jilbab when you go out or when your non mahram in front of you. You may wear whatever you want, show your sexy body, and your beautiful face as long as behind the door of our house and only for my eyes.


gambar: dari sini

Selasa, 15 Januari 2013

Taqlid

Imam Syafii said, "Everyone who labor without knowledge, then his deeds will be rejected in vain." 

Mu’adz bin Jabal mengatakan,

Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengatakan,

Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.” (Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil Mungkar, hal. 15)

Jumat, 11 Januari 2013

Shalat Fardhu


Prophet Muhammad (PBUH) was in heaven asking Allah (Swt) multiple times, at the advisory of Moosa (AS), to reduce our prayers. They went from 50 prayers to 5. Our purpose on this earth is to worship our Creator. We are asked is to conform to 5 prayers.

Don’t let down Prophet Muhammad (PBUH), he worked hard to ensure that his ummah could be caught up with their daily prayers. He asked Allah(Swt) in heaven to decrease it for our sake, so that worshiping Him could be made possible. What’s unfortunate is that we still manage not to make time for these 5 prayers. We avoid them. We make excuse. We forget about them.

Prophet Muhammad was able to have it be so easy for us, there’s no excuse to miss 5 prayers. Remember that it once supposed to be 50, don’t let Allah and Muhammad down. Your prayers don’t need you, but you definitely need them.


Why we still did not thankful and obey?




(Masjid Istiqlal, Jakarta, Indonesia)

Sabtu, 05 Januari 2013

Understanding Women, Sounds Difficult, Hm?

 
 
I wish that I could understand women. Know how they feel inside and what they're thinking when they give me the silent treatment. Know why they're crying, know what they really want when they say, 'Nothing'. Know how to make them truly happy....
 
 
sumber gambar: di sini