Jumat, 23 November 2012

Tuju

Kemana jalan sempit ini menuju?
Apakah, ke arahmu?

Where will this path lead?
Whether, to you?





sumber gambar: dari sini

Kamis, 22 November 2012

Malu-malu(in)


Fenomena yang terjadi sekarang, banyak orang yang terang-terangan melakukan kemaksiatan tanpa merasa malu bahwa Allah melihat semua perbuatannya. Kalau orang telah hilang rasa malunya baik malu kepada Allah dan manusia, maka dia akan berbuat sesukanya tanpa memikirkan apakah itu perintah atau larangan, apakah nanti dilihat dan kemungkinan diikuti banyak orang. Dia sudah tidak peduli. 


Sesungguhnya malu adalah bagian dari iman.

“Jika tidak punya malu maka berbuatlah sesukamu”. (Rasulullah Muhammad)




Rabu, 21 November 2012

Sekali Lagi Ujian Hati

"Memangnya kamu yakin, dengan penampilan kamu yang seperti ini kamu bisa fleksibel dan mudah kesana-kemari bergerak aktif meliput berita? Jadi wartawan itu harus gesit, lho. Apalagi di sini kerjanya padat, ke berbagai tempat ngeliput acara dan cari berita. Oia satu lagi, kalau kamu nggak bersedia salaman dengan lawan jenis seperti terhadap kami tadi, gimana nanti pas ngeliput? Yang ada kalau kamu jadi wartawan bisa dikira sombong. Tadi kamu juga ngucapin salam segala. coba lebih general aja, Mbak. Nanti berdampak ke citra kami juga jadinya."

"Sebenarnya kami lihat potensi di diri kamu. Dilihat dari pengalaman kamu di bidang ini juga lumayan. Kami bisa pertimbangkan kalau kerudung lebar kamu dipendekin dikit dan kamu pakai celana, jangan rok, pasti ribet nanti pas ngeliput. Kamu juga harus bisa humble sama banyak orang, akrab. Ya itu mulainya ya harus mau salaman kan? Jangan terlalu islami, Mbak. Kami juga muslim kok, tapi ya yang biasa-biasa ajalah. Hehehe." 

"Terima kasih telah memberikan kesempatan interview ini kepada saya, Pak, Bu. Saya akan mencoba melamar di perusahaan lain yang bisa menghargai kinerja saya tanpa mempermasalahkan keputusan  saya yang memilih untuk berpenampilan dan bersikap sesuai yang ajaran agama saya perintahkan. Maaf ralat, ajaran agama Bapak dan Ibu juga. Terima kasih atas waktunya, permisi, Assalamu'alaikum warahmatullah."



Akan datang kepada manusia suatu masa, di mana orang yang berpegang teguh dengan agamanya ibaratnya seperti orang yang memegang bara api”. (H.R. At-Tirmidzi).


Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik

Ya Allah Yang Maha membolak-balikan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu.


 


Rabu, 14 November 2012

Suku Using dalam Foto



oleh Novayuandini Gemilang

JAKARTA, 13 November 2012 ― Dulu, sekitar tahun 80-an, fotografi dianggap sebagai hal yang masih eksklusif. Bayangkan, harga termurah untuk sebuah kamera SLR saja mencapai 30 jutaan rupiah. Mungkin hal tersebut yang menjadi salah satu alasan mengapa jumlah fotografer di masa itu sangat sedikit. Kondisi seperti itu berbeda sekali dengan saat ini dimana fotografi telah merebak di berbagai kalangan bahkan termasuk pelajar dan mahasiswa. Harga kamera yang cukup terjangkau, informasi mengenai fotografi yang mudah diakses di berbagai media, juga banyaknya komunitas, pelatihan, workshop, ataupun pameran fotografi.

Salah satunya adalah The Using, pameran foto dan seminar fotografi jurnalistik yang diadakan oleh KMPF (Kelompok Mahasiswa Peminat Fotografi) Universitas Negeri Jakarta ini, bekerja sama dengan Galeri Fotografi Jurnalistik Antara. Dengan mengusung tema Mengungkap Realitas Sosial lewat Fotografi, KMPF UNJ mencoba menggambarkan fenomena-fenomena yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia.  Lebih mengerucut, untuk pameran kali ini, sesuai dengan namanya, KMPF UNJ menjadikan Suku Using di Banyuwangi Jawa Timur menjadi sasaran jepretannya. Mulai dari cara hidup Suku Using, cara berpakaian, lingkungan tempat tinggal, pekerjaan yang dilakukan, tari-tarian, dan tentu saja kuliner khasnya.

Tadi sore, Ruangan pameran di Galeri Fotografi Jurnalistik yang terletak di Jalan Antara Pasar Baru, terlihat padat. Ternyata, sedang berlangsung acara Seminar Fotografi yang diisini oleh Arbain Rambey dan Tirto Andayanto. Keduanya adalah fotografer yang terbilang senior di Indonesia. Seminar semakin seru ketika keduanya saling menunjukkan foto-foto yang menunjukkan realitas sosial yang ada di negeri ini. Lewat tangan mereka, sebuah pasar  atau onggokan jagung bahkan bisa menjadi hal yang menarik untuk dilihat.

“Kalau mau bisa motret yang bagus, jangan sibuk dengan teknik. Motret aja dulu, nangkep realitas dulu, latih peka melihat fenomena yang menarik di sekitar. Menguasai teknik akan menyusul dengan sendirinya,” ujar Arbain Rambey dengan gaya khasnya.
Saat sesi tanya jawab, suasana seminar menjadi semakin menarik. Banyak peserta seminar yang tak segan-segan mengungkapkan pendapatnya tentang kondisi perkembangan fotografi di Indonesia saat ini, ada juga yang menanyakan mengapa kebanyakan fotografer berasal dari kota-kota besar, dan lain sebagainya.

Tirto mengatakan, “Hampir sama dengan menulis, ketika kita memotret, tanpa sadar kita merekam sebuah kejadian, sebuah realitas sosial. Bedanya, menulis lewat kata-kata, kita lewat foto.”

Kedua pemateri ini berharap akan lahir generasi-generasi penerus fotografer lebih hebat dari saat ini, fotografer yang mampu menghasilkan foto “berbunyi” (baca: ada pesan yang dapat tersampaikan). Mereka berdua sepakat bahwa realitas sosial adalah pengungkapan fotografi tertinggi yang intelektual. Seminar tadi berakhir pukul 18.05 dan diakhiri dengan tepuk tangan para peserta serta sesi foto bersama. Pameran foto The Using sendiri telah dibuka sejak tanggal 2 November 2012 lalu dan akan berakhir besok.




dari kiri ke kanan:
(Yoga, Taqin, Arbain Rambey, Nuning, Nova)

Rabu, 07 November 2012

Antara Ukhuwah dan Iman yang Compang-Camping


Kondisi keimanan seseorang memang naik turun. 

Yang dulunya rutin dhuha dan tahajud, sekarang lima waktu saja bolong-bolong. Yang dulunya tilawah setengah juz per hari, sekarang satu ayat saja beratnya minta ampun. Yang dulunya rindu menanti hari tambah ilmu (ngaji), sekarang ditanya kabar sama guru ngaji pun kabur. Yang dulunya gencar memeringatkan jangan mendekati zina, sekarang mengumbar asmara (tidak halal) tanpa ampun. Yang dulu semangat berdakwah, sekarang justru menjadi pendukung kemaksiatan. Yang dulunya saling mencintai karena Rabb, kini masing-masing acuh disibuki urusan dunia. Yang dulunya bangga dengan hijabnya, sekarang malu dilihat taat.

Ada yang membasahi tanah di kampungku. Tapi bukan hujan. Itu air mata. Seluruh penduduk menangisi dosa-dosanya dengan memohon ampun tiap malam. 
Ada bandang besar yang membanjiri kampungku. Tapi bukan air. Itu dosa. Seluruh penduduk mengumpulkannya tiap hari tanpa suara.

...karena saat ikatan kita melemah, saat keakraban kita merapuh, saat salam terasa menyakitkan, saat kebersamaan serasa siksaan, saat pemberian bagai bara api, saat kebaikan justru melukai. Aku tahu,yang rombeng bukan ukhuwah kita. Hanya iman-iman kita yang sedang sakit atau mengerdil. Mungkin dua-duanya, mungkin kau saja. Tentu terlebih sering, imanku lah yang compang camping.

Kita mengambil cinta dari langit. Lalu menebarkannya di bumi,sungguh di syurga menara-menara cahaya menjulang untuk hati yang saling mencinta. Mari membangunnya di sini, dalam dekapan ukhuwah (Salim A.Fillah)

Kalau melihat saudara/i nya lupa, khilaf, mulai jauh dari Rabbnya, mulai tak terkendali, asik berenang dalam kelalaian, ingatkanlah.

“Nasihati aku dikala kita hanya berdua, jangan meluruskanku di tengah ramai, sebab nasihat di depan banyak manusia terasa bagai hinaan yang membuat hatiku luka.”(Asy-Syafi’i, Diwan)