Selasa, 11 September 2012

Sebuah Cinta Berbeda


Kita berkenalan di bulan April lima tahun yang lalu. Apakah kamu ingat? Saat pertama kali diriku menangkap sosok wajahmu yang tersenyum dingin di dalam toko. Kala itu kamu mengenakan kaus oblong berwarna merah. Kaus yang tidak cukup berhasil menyembunyikan tubuh kurusmu.

Apakah kamu ingat? Saat kamu akhirnya memutuskan untuk memilihku dari sekian banyak pilihan lain. Saat kamu mengeluarkan pernyataan-pernyataan aneh yang mengawali perkenalan kita. Membuatku bingung sekaligus terkikik mendengar kata-katamu yang terus saja melantur.

“Sepertinya kita akan cocok.”
“Aku merasa hangat saat bersamamu.”

Kita tidak banyak berinteraksi kala itu. Bahkan mungkin lupa akan keberadaan masing-masing. Hanya helaan napas yang kau buang atau dengkuran halus saat kau tidurlah yang kudengarkan tiap malam. Atau saat kau menyentuh dan mendekatkanku ke tubuhmu atau ketika kita begitu menyatu. Semua yang membuat kita menjadi tahu. Setidaknya sedikit, tentangku, tentangmu.

Matahari bersinar dan bumi tetap berputar. Seperti biasanya.

Apakah kamu ingat tentang ini?  Ketika kamu semakin sering mendatangiku. Aku mencium wangi tubuhmu dan kamu lekat dalam kehangatanku. Ketika kamu mengajakku ke tempat-tempat menyenangkan dalam setiap kesempatan waktu. Dan ketika tetesan langit mulai membasahi kepala, wajah, dan tubuhmu, kamu memelukku erat. Seakan aku akan menghilang dan kamu tidak rela akan hal itu.

Aku tentu masih ingat, saat aku terluka dan kamu begitu lembut merawatiku. Kamu membuat luka yang menganga kembali merapat, menutup lubang yang terkoyak dan menambal rekat semua perih.

Hingga bumi terus berputar, tapi semua sudah tidak lagi sama.

...aku mulai mencintaimu.

Dengan cinta yang diam-diam tumbuh dalam kebisuan. Dengan cinta yang membuatku takut jika suatu waktu nanti aku akan melakukan kesalahan dan mulai keluar dari jalur yang sudah ditetapkan. Cinta yang kadang membuatku melompat kegirangan namun mendadak tenggelam dalam kegelisahan. Cinta yang membuatku bingung apakah memutuskan memelihara atau menghilangkan rasa ini secepat mungkin.
 
Aku mencintaimu, namun kamu tak tahu. Aku mencintaimu tapi kamu tak bisa mendengarnya. Aku mencintaimu dan kamu tak mampu melihatnya. Aku mencintaimu tanpa berdaya mengungkapkannya.

Musim berganti. Matahari bertukar posisi dengan bulan. Warna langit berubah. Bunga bermekaran dan gugur dalam siklus yang tak bisa dihilangkan satu saja komponennya.

Keadaan berubah. Airmata tertukar dengan senyum—atau sebaliknya. Hati yang dulu keras perlahan melicin—sekali lagi, atau sebaliknya.

Namun aku masih tetap sama. Hanya saja semakin tua dan lusuh. Aku, sebuah jaket tebal berwarna hitam yang kamu beli lima tahun lalu.

 

Andini Nova


nb : Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas GradienWriterAudition (Audisi penulis novel oleh penerbit Gradien)

Sunyi Senja Memerah



Semilir alunan angin memainkan rambut beberapa orang yang memilih mengunjungi pantai. Kala itu matahari hampir terpejam dan burung camar saling berteriak di atas ribuan pasir putih yang tergeletak. Orang-orang itu terdiam, sadar bahwa hari hampir habis. Semua telah berlalu, kecuali senja yang masih menyisakan nostalgia setelah banyak waktu direnggut secara paksa oleh keadaan.

Langit senja tetap begitu,
—masih berwarna jingga, dan abu-abu lembut untuk awan serta semu merah keemasan yang menghiasi pinggirannya.

Langit yang—anehnya—terasa begitu sama dengan langit sore kemarin.

Setiap orang-orang itu mendongak, ada perasaan familier yang mereka dapat. Semacam perasaan tenang dalam kesunyian. Perasaan yang mengingatkan mereka sepenggal cerita di masa lalu—ketika itu mereka merasa lebih bahagia dari yang bisa dirasakan. Perasaan yang selalu muncul setiap kali mereka mendengar suara kaokan burung di atas deru ombak, kikikan anak laki-laki yang berkejaran, dan helaan napas manusia yang berulang. Seperti saat ini. Saat sinar matahari membentuk siluet pepohonan, juga siluet mereka.

Senja di pantai memiliki kemampuan yang tak akan bisa dimengerti oleh manusia—untuk mewarnai langit, membuat mereka hidup; tampak memesona dan indah. Semua itu terasa luar biasa. Senja mengobati setiap bagian dari tubuh dan jiwa orang-orang itu. Setelah melalui hari yang begitu sibuk, mencoba ini, mencoba itu tapi berakhir melayang entah di mana.

Hal sederhana seperti langit keemasan, angin, pasir, dan bebatuan karang. 

Sayangnya, suasana yang dilewati bersama, dengan langit memerah darah dan butiran pasir yang bersembunyi di sela jari-jari mereka, begitu menenangkan dan penuh harapan di bawah matahari yang menerangi dengan sisa-sisa sinarnya, hampir selesai. Suasana itu tak bisa dirasakan lagi. Merah senja semakin pudar, dikalahi kelam. Kisahmu, kisahku, kisah mereka akhirnya menemui akhir. Sebentar lagi, saat matahari kembali ke peraduan.

Namun orang-orang itu percaya, pada akhirnya, nanti senja juga akan kembali. Entah apakah mereka bisa merasakannya lagi, entah dengan orang yang berbeda, namun ada bagian dari diri mereka yang yakin akan hal itu. Meskipun rasa pesimis menelusup halus dan nyaris merubuhkan semua asa dan menambah keletihan di ujung hari, tapi sejatinya mereka masih percaya. Sebab yang sering senja katakan pada mereka juga hal yang sama, bahwa aku akan kembali esok sore. Karenanya mereka selalu berpegang erat-erat, meskipun hal itu adalah hal terakhir yang bisa dijadikan pegangan. Orang-orang itu akan datang lagi, untuk menikmati senja di pantai yang menghangatkan. Dan tenang, dan sepi.


Andini Nova


nb : Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas GradienWriterAudition (Audisi penulis novel oleh penerbit Gradien)

Senin, 03 September 2012

September


Halo September. Selamat datang bersama musim hujan.


Dua



Pilihanku hanya dua : Mencintaimu atau mencintaimu.



 



sumber foto : tumblr