Selasa, 20 Maret 2012

Aktivis Dakwah, Sudahkah Kita?

AKTIVIS DAKWAH, SUDAHKAH KITA?

Oleh : Andini Nova dan Hilda

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. An-Nahl: 125).


Aktivis dakwah, apa yang ada dalam benakmu tentang kata ini? Apa bedanya aktivis dan pasifis? Dan mengapa harus disandingkan dengan dakwah? Mari kita lanjutkan membaca. Jika pasifis, ia bersifat reaktif, terkesan menunggu, dan mengharapkan orang lain memberikan sesuatu padanya. Beda halnya dengan aktivis, kata ini berhubungan dengan kata proaktif. Seorang yang proaktif tak menunggu apa yang harus ia lakukan. Namun, ia dengan sigap melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, dan cenderung memiliki inisiatif untuk bertindak. Bagaimana dengan dakwah?

Kata dakwah adalah derivasi dari bahasa Arab “Da’wah”. Kata kerjanya da’aa yang berarti memanggil, mengundang atau mengajak. Ism fa’ilnya (baca : pelaku) adalah da’I yang berarti pendakwah. Di dalam kamus al-Munjid fi al-Lughoh wa al-a’lam disebutkan makna da’I sebagai orang yang memangggil (mengajak) manusia kepada agamanya atau mazhabnya .

Merujuk pada Ahmad Warson Munawir dalam Ilmu Dakwah karangan Moh. Ali Aziz (2009:6), kata da’a mempunyai beberapa makna antara lain memanggil, mengundang, minta tolong, meminta, memohon, menamakan, menyuruh datang, mendorong, menyebabkan, mendatangkan, mendoakan, menangisi dan meratapi. Dalam Al-Quran kata dakwah ditemukan tidak kurang dari 198 kali dengan makna yang berbeda-beda setidaknya ada 10 macam yaitu:

1. Mengajak dan menyeru,
2. Berdo’a,
3. Mendakwa (red. Menuduh),
4. Mengadu,
5. Memanggil,
6. Meminta,
7. Mengundang,
8. Malaikat Israfil,
9. Gelar,
10. Anak angkat.

Menurut Syekh Muhammad Al-Khadir Husain, dakwah adalah menyeru manusia kepada kebajikan dan petunjuk serta menyuruh kepada kebajikan dan melarang kemungkaran agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dari defenisi secara bahasa dan menurut para ahli di atas maka bisa disimpulkan bahwa dakwah adalah kegiatan atau usaha memanggil orang muslim mau pun non-muslim, dengan cara bijaksana, kepada Islam sebagai jalan yang benar, melalui penyampaian ajaran Islam untuk dipraktekkan dalam kehidupan nyata agar bisa hidup damai di dunia dan bahagia di akhirat. Singkatnya, dakwah, seperti yang ditulis Abdul Karim Zaidan, adalah mengajak kepada agama Allah, yaitu Islam.

Jadi seorang aktivis dakwah, bisa dimaknai sebagai seorang yang proaktif terhadap tugas dakwah di manapun ia berada. Memanggil, menyerukan, mengajak pada kebaikan, kepada islam. Tugas dakwah, sungguh telah dicontohkan oleh para nabi dan rasul terdahulu. Tapi bukan berarti sepeninggal nabi dan rasul, tak ada lagi yang melanjutkan tugas dakwah.

Saat ini tak sedikit orang yang mulai meninggalkan ajaran-ajaran agama dalam tindakan kesehariannya. Kesibukan duniawi seakan melenakkan hingga banyak yang melupakan dan meninggalkan ajaran agama yang dianut sedari kecil. Kenyataan inilah yang menjadikan pentingnya keberadaan aktivis dakwah. Tak hanya sekadar bisa berbuat baik, tapi seorang aktivis dakwah mesti mengajak orang lain untuk melakukan amar makruf nahi munkar. Seperti yang menjadi tujuan dakwah, menyeru manusia kembali ke jalan Allah, mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya islam.

Bukan hal yang mudah menjadikan diri sebagai seorang aktivis. Karena dakwah menuntut komitmen yang mesti dipegang teguh hingga tugas dakwah selesai. Pertanyaannya, kapan tugas ini berakhir? Sungguh tak ada manusia yang tahu kapan terakhir kalinya kita akan menghembuskan napas. Inilah jalan dakwah yang panjang dan penuh beribu rintangan. Hanya orang-orang yang sabar dan istiqomah di jalan Allah yang mampu melalui ini semua. Semoga kita termasuk didalamnya.

Dalam konsep keutamaan, dibahas mengenai apa yang menjadi utama dalam suatu hal. Demikian halnya dengan aktivis dakwah. Aktivis dakwah yang utama yakni mereka yang mampu secara optimal menjalankan misi dakwah. Selain mentarbiyah dirinya, mereka pun berupaya menyebarkan nilai-nilai islam kepada sekelilingnya.

Tabiat dakwah ini berkembang dan menyebar ke berbagai pelosok dunia. Karena misi dakwah ini adalah menyebarkan rahmat bagi dunia untuk seluruh umat manusia (Al-Anbiya’: 107). Dengan begitu dakwah menjadi hak semua orang agar mereka meraih hidayah Allah. Amatlah pantas semua kalangan mendapatkan nikmat dakwah. Paling tidak, semua manusia dapat merasakan rahmat Islam. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh kepribadian dai dan aktivis dakwah.
Aktivis dakwah yang memikul tugas mengembangkan ajaran Islam ke segenap pelosok bumi seyogianya adalah orang yang mampu meningkatkan integritas diri dari masa ke masa.

Peningkatan diri aktivis dakwah selaras dengan perkembangan dakwah. Peningkatan integritas diri secara mandiri inilah yang disebut dengan tarbiyah dzatiyah (education self). Kita mencari ilmu dan pengetahuan untuk menambah wawasan kita terkait lingkungan sekitar. Pendidikan ini sungguh amat penting bagi para aktivis, karena tanpa ilmu mana mungkin ia bisa memberi untuk orang lain.

Kemampuan tarbiyah dzatiyah menjadikan aktivis mampu bertahan dalam berbagai ujian dan cobaan dakwah. Ia tidak futur (malas dan lesu), tidak kendur semangat dakwahnya, pemikirannya tidak jumud dan tidak akan bimbang dan ragu menjawab berbagai tuduhan miring serta yang sangat diharapkan dari efek tarbiyah dzatiyah adalah seorang aktivis mampu menyelesaikan persoalan yang menghadangnya.

Imam As Syahid Hasan Al Banna:

“Oleh karenanya, kewajiban pertama bagi kita sebagai aktivis da’wah adalah menyampaikan kepada manusia tentang batas-batas Islam secara jelas dan sempurna, tanpa ditambah dan dikurangi, dan tidak pula membuat rancu ajarannya. Hal yang demikian itu merupakan aspek teoritis dari fikroh kami. Kemudian pada saat yang bersamaan kami menuntut dan mengkondisikan mereka untuk mewujudkannya dalam amal nyata. Hal yang kedua ini merupakan aspek amali dari fikroh kami.”


Aktivis dakwah harus tak gentar untuk mensosialisasikan agama islam kepada semua muslim dengan cara yang benar dan tepat. Dia juga harus memiliki sifat ikhlas, pantang menyerah dan teguh. Memiliki semangat pembaharu di era seperti sekarang ini dimana muslim dangat heterogen. Dan butuh cara-cara kreatif untuk mendekati mereka. Aktivis dakwah harus memiliki jiwa pengabdian. Berpegang teguh pada alqu’an dan hadist. Amar ma’ruf nahi munkar.

Penyesuaian cara penyampaian dakwah pada masing-masing orang. Jangan sampai dakwah justru hancur di tangan seorang aktivis karena ketidaktahuannya tentang cara-cara berdakwah yang benar, baik, dan tepat. Oleh karena itu, seorang aktivis perlu mengetahui metode dan sarana dakwah yang dibutuhkan dalam kelancaran proses dakwah. Mengajak pada kebaikan sambil terus memperbaiki diri. Meningkatkan ilmu sambil terus menyebarkan ilmu. Memantapkan keimanan sambil terus menebarkan kebaikan.

Karena pada hakikatnya, dakwah adalah wajib dan setiap muslim adalah pendakwah…

Berikut adalah tulisan Almarhum Ustad Rahmat Abdullah, semoga bisa menjadi motivasi untuk terus berjuang di jalan dakwah ini.



Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.
Seperti itu pula kejadiannya pada rambut Rasulullah. Beliau memang akan tua juga. Tapi kepalanya beruban karena beban berat dari ayat yang diturunkan Allah. Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah.

Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam dua tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana. Kurang heroik? Akhirnya diperjelas dengan salah satu luka paling legendaris sepanjang sejarah; luka ditikamnya seorang Khalifah yang sholih, yang sedang bermesra-mesraan dengan Tuhannya saat sholat.

Dakwah bukannya tidak melelahkan. Bukannya tidak membosankan. Dakwah bukannya tidak menyakitkan. Bahkan juga para pejuang risalah bukannya sepi dari godaan kefuturan.

Tidak.

Justru kelelahan, justru rasa sakit itu selalu bersama mereka sepanjang hidupnya. Setiap hari. Satu kisah heroik, akan segera mereka sambung lagi dengan amalan yang jauh lebih “tragis”. Justru karena rasa sakit itu selalu mereka rasakan, selalu menemani. Justru karena rasa sakit itu selalu mengintai ke mana pun mereka pergi. Akhirnya menjadi adaptasi. Kalau iman dan godaan rasa lelah selalu bertempur, pada akhirnya salah satunya harus mengalah. Dan rasa lelah itu sendiri yang akhirnya lelah untuk mencekik iman. Lalu terus berkobar dalam dada.

Begitu pula rasa sakit. Hingga luka tak kau rasa lagi sebagai luka. Hingga “hasrat untuk mengeluh” tidak lagi terlalu menggoda dibandingkan jihad yang begitu cantik.
Begitupun Umar. Saat Rasulullah wafat, ia histeris. Saat Abu Bakar wafat, ia tidak lagi mengamuk. Bukannya tidak cinta pada abu Bakar. Tapi saking seringnya “ditinggalkan” , hal itu sudah menjadi kewajaran. Dan menjadi semacam tonik bagi iman..

Karena itu kamu tahu. Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya
adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar. Dan mereka justru jadi lelucon dan target doa para mujahid sejati, “ya Allah, berilah dia petunjuk… sungguh Engkau Maha Pengasih lagi maha Penyayang… “

Maka satu lagi seorang pejuang tubuhnya luluh lantak. Jasadnya dikoyak beban dakwah. Tapi iman di hatinya memancarkan cinta. Mengajak kita untuk terus berlari…

Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu
Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu
Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu
Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu
Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.


semangat!


Minggu, 18 Maret 2012

Kisah Ini Pernah Ada





Ia datang dengan hening, ia mencintai dalam diam, ia pergi membawa sepi.

...dan langkah kakinya tak berbunyi, seperti kematian.



#Bogor, 2012

ASING




Kita menjadi ASING karena prinsip hidup kita
Jujur itu ASING karena banyak orang berdusta
Shadaqah itu ASING karena bayak orang pelit
Berjilbab itu ASING Karena banyak orang yang telanjang
Tidak pacaran itu ASING karena banyak orang yang pacaran
Yakin pada Allah itu ASING Karena banyak orang yang tidak percaya lagi pada-Nya
Mewujudkan SYARI’AH Islam itu ASING karena banyak orang yang lebih percaya pada hukum buatan manusia.

“Islam mulai muncul dalam keadaan ASING dan akan kembali ASING sebagaimana awal munculnya. Maka, beruntunglah orang-orang asing itu”. (Hadist Muslim)

“Berbahagialah orang-orang yang ASING.” Siapakah orang-orang ASING itu wahai Rasulullah? “Yaitu orang-orang yang senantiasa melakukan perbaikan disaat kebanyakan orang berbuat kerusakan” (HR. Muslim)

(dari berbagai sumber)

Kakimu

Ini hanyalah tentang sepasang kaos kaki. Memang terdengar sepele, tapi kaos kaki ini cukup untuk merepresentasikan kepahaman seseorang, khususnya muslimah, tentang agamanya. Juga memperlihatkan komitmen dan kekuatan ‘azzam untuk memelihara kehormatan serta ‘izzah.

Rasulullah salallahu 'alaihi wassalam pernah menegur Asma’ binti Abu Bakar ketika beliau melihatnya menggunakan pakaian yang tipis. Sambil berpaling, beliau bersabda:

Wahai Asma’, sesungguhnya seorang wanita itu jika telah baligh (haidh), tidak pantas ditampakkan dari tubuhnya kecuali ini dan ini -seraya menunjuk wajah dan telapak tangan-.

Pastinya semua muslimah sudah tahu tentang ini. Tentang batasan aurat mereka. Yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan tangan (telapak dan punggung tangan).

Dan tentu saja kaki juga termasuk bagian aurat yang harus ditutup. Karena kaki tidak masuk dalam pengecualian yang disebutkan oleh Rasulullah.

Namun sebagian muslimah, terutama yang sudah mulai berkomitmen dengan hijab yang benar, mungkin terlupa dengan hal kecil ini. Sehingga dalam beberapa kesempatan yang seharusnya mereka menutupi kakinya dengan hijab, justru membiarkannya terbuka begitu saja.
Saudariku, bagaimana pun, aurat tetap aurat.
Meski hanya ke warung, nyapu teras, menjemur kain atau sekedar membukakan pintu untuk tamu yang bukan mahram.

Karena kau menjaga imanmu, memuliakan seluruh lekuk tubuhmu, memerlihatkannya hanya untuk suamimu kelak. Merahasiakan auratmu, termasuk kedua kaki halusmu.


(dari berbagai sumber)


Pada

Ketika itu senja habis,
Kau berdoa dengan kata-kata sedih dan hati yang sakit.

Pada suatu malam berhujan, di dalam kamar yang sempit, di bawah sinar lampu lima watt...



Who am I?

Kemudian kau mulai merasa semua yang dilakukan, dikatakan, dan tertera dalam hati begitu palsu.
Kau tidak lagi dapat membedakan mana kenyataan dan mana yang sekedar rekaanmu.
Batinmu pun terombang dalam sandiwara yang terus kau mainkan.

Akuilah, bahwa sesungguhnya kau berkawan, dengan setan-setan hitam merah yang kau benci dalam retorika.

Hingga akhirnya di suatu hari nanti, kau bahkan tak mampu mengenali dirimu sendiri.