Jumat, 24 Februari 2012

Menunggukah Kau?



Aku terpaku dalam rinai hujan

Memandang sosokmu yang tergambar samar dalam imajinasiku

Sosok dengan wajah berulas senyum yang kuterka lewat sketsa

Yang kupelihara dengan cinta di sudut hati

−lirih.


Waktu berlari menyisakan percik basah di jalanan

Hanya sesekali terlihat angin menerbangkan daun satu-satu

Kita, bahkan belum bertemu.


Barangkali dugaanku benar, −atau salah.

Bahwa Tuhan ingin kita segera menyatu

Entahlah

Pikiran tentangmu hilang dan timbul begitu saja di kepalaku

Seperti gerimis yang datang dan pergi sesuka hati di sore hari


Cintaku mirip hujan yang sengaja dicipta oleh Pemiliknya

Yang dengan dingin ia turun. Dengan deras ia jatuh

Bukankah kau tahu bahwa setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mencinta?

Dan seperti inilah caraku mencintaimu

Mencintai dalam tarian gerimis yang hening

Ketika malam aku menangis

Ketika hujan aku berdoa

Semoga kutemukan dirimu di antara ribuan rintik yang menyerbu tanah.


Sayangku,

Menunggukah kau, sampai musim hujan t├Čba dan matahari tak lagi muncul

Kemudian berdua saling memandang di bawah payung yang tergenggam erat

Sama eratnya dengan genggaman tanganmu yang menyilang menghangatkan

Menunggukah kau, sampai Tuhan menurunkan hujan ke bumi lalu kita kuyup bersama

Dan cincin di jari manis melingkar selamanya disitu

Yang dengan cinta kita bersama. Dengan rindu kita menyatu.


Hujan, mengingatkan kita bahwa pertemuan itu hanyalah masalah waktu.

Maka, menunggukah kau? −atau menjemputku.


~Andini Nova~