Senin, 28 November 2011

Antara Ada dan Tiada

Barusan baca statusnya Riri di facebook http://riri-huriyah.blogspot.com/

"Yang sering berbicara dengan bahasa kesunyian dan kadang muncul dalam ketidakhadirannya."

Serius, kalimat ini keren. Setidaknya menurut saya.

Kamis, 24 November 2011

Kebiasaan

Kamu tahu?
Dulu, entah mengapa, sudah menjadi kebiasaanku setiap ada kesenangan, kesedihan, kegalauan, kebingungan, kesakitan, nama manusia pertama yang melintas di otakku adalah namamu.

Setelah itu aku akan langsung membuka contact handphone, mencari namamu, dan mengirim pesan singkat atau meneleponmu atau minta kau yang menelepon. Yeah, dengan memanfaatkan bonus pulsa gratisan yang dulu kita dapatkan, haha.

Atau aku langsung menemuimu setiap kali kakiku menginjakkan kampus. Atau langsung bercerita tanpa henti ketika kita sedang bersama. Atau langsung menghampirimu ke rumah. Atau menjemputmu yang saat itu kutakutkan sedang marah.

Kamu tahu? Tidak mudah menerima kenyataan bahwa kebiasaan "namamu muncul pertama" itu masih ada tapi aku tak bisa lagi melakukan hal-hal setelahnya.

Jumat, 11 November 2011

Gerimis Telah Pergi

~Andini Nova



Jika orang bilang bahwa cinta tidaklah harus memiliki, mungkin aku adalah salah satu yang memilih untuk setuju dengan anggapan itu. Anggapan yang tidak salah, tapi mungkin juga menjadi tidak sepenuhnya benar saat kau berhadapan dengan mereka yang menyebut dirinya sebagai pejuang cinta sejati –yah, orang-orang yang berjuang sampai titik darah penghabisan hingga bisa bersama dengan orang yang dicintai. Tapi bagiku, para pejuang cinta seperti mereka sekalipun pada akhirnya mungkin akan ikut menyetujui anggapan orang –bahwa cinta tidak harus memiliki− ketika mereka sadar bahwa raga, hati, dan jiwa orang yang mereka cintai akan bahagia justru saat mereka melepaskannya.

Pilihan terbaik mungkin dengan membuang persepsi penuh egoisme dan ambisi yang menganggap bahwa memiliki adalah keharusan mutlak atas semua hal yang dicintai. Memaksakan keinginan untuk memiliki hanya akan menyakiti banyak orang. Tidak, bahkan tidak hanya orang lain yang akan tersakiti, tapi juga diri sendiri yang lambat laun akan ikut hancur. Apa kau merasa bahagia saat bersama dengan orang yang kau cintai namun tiap hari ia menangis dan melakukan segala sesuatu bersamamu dengan wajah terpaksa? Atau kau sudah cukup puas asal bisa hidup bersamanya dan persetan dengan perasaannya? Jika kau memilih yang kedua, kukatakan kau sudah gila. Dan sayangnya aku tidak gila –setidaknya belum.

***

Kita berkenalan di bulan April tahun lalu, apakah kamu ingat?
Saat pertama kali mataku menangkap sosok wajahmu yang tersenyum dingin dalam foto. Di foto itu kamu mengenakan kaus oblong berwarna merah. Kaus yang tidak cukup berhasil menyembunyikan tubuh kurusmu.

Apakah kamu ingat? Saat kamu seenaknya mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan aneh yang mengawali perkenalan kita. Membuat keningku mengkerut tiga lapis karena bingung menghadapi kata-katamu yang terus saja melantur tetapi sukses membuatku terkekeh.

Kita tidak banyak berbicara kala itu. Bahkan mungkin lupa akan keberadaan diri masing-masing. Hanya tulisan-tulisan yang tiap harinya terpajang di beranda yang membuat kita menjadi sedikit tahu. Setidaknya sedikit, tentangku, tentangmu.

Dan hari demi hari terlewati tanpa ada percakapan yang berarti.

Matahari bersinar, dan bumi tetap berputar. Seperti biasanya.

Apakah kamu ingat tentang ini? Ketika sikap acuhmu perlahan mulai berkurang, dan kita menjadi teman. Saat hari-hariku mulai diisi dengan nasehat darimu yang meluncur untuk menabahkanku yang kala itu jatuh terjerembab sangat dalam.

Dan ketika tetesan langit mulai membasahi atap-atap rumahmu,
Kamu, dengan sombongnya mengatakan padaku bahwa di tempatmu hujan sedang turun dengan lebat, begitu bersemangat memamerkannya untuk membuatku iri.
Karena kamu, memang tahu betul bahwa aku terlalu menyukai hujan.

Lalu suasana menjadi menyenangkan tiap kali aku mendengar guyonanmu walau masih tercetus dengan aura "dingin".

Aku tentu masih ingat, saat kamu lelah menasehatiku untuk berhati-hati namun aku tetap saja membandel. Saat kamu panik dan kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa untukku yang saat itu lemah tak berdaya seorang diri di tengah kota yang mulai didatangi malam. Kota yang tidak kukenal. Kotamu, kota hujan itu.

Tapi lagi-lagi kamu, dari jauh berhasil menenangkanku yang kala itu sebenarnya menangis ketakutan tapi sok berlagak tegar di hadapanmu.

Hingga bumi terus berputar, tapi semua sudah tidak lagi sama.

...aku mulai mencintaimu.

Dengan cinta yang diam-diam tumbuh dalam kebisuan. Dengan cinta yang membuatku takut kalau-kalau suatu waktu aku akan melakukan kesalahan dan mulai keluar dari jalur yang sudah ditetapkan. Cinta yang kadang membuatku melompat kegirangan tapi juga kecewa tiap kali melihatmu bersikap kurang bijaksana dan terus saja mengeluh. Cinta yang membuatku bingung apakah memutuskan untuk menunggumu dengan sabar atau menghilangkan rasa ini secepat mungkin.

Namun di saat aku terjebak dalam kegalauan tak berujung, tiba-tiba...

muncul orang lain.

Di bawah guyuran hujan tengah malam aku melihat gerak-gerikmu. Gerak-gerik yang mungkin akan mengubah hidup kita −atau lebih tepatnya hidupku. Ya, hanya hidupku.

Akuilah, kamu mencintainya.


Setidaknya itu yang bisa kusimpulkan dari caramu membicarakannya, caramu bergurau dengannya, caramu mengucapkan namanya tanpa kesalahan sedikitpun.

Semua yang membuat lututku lemas hingga rasanya tak mampu menopang tubuhku untuk berdiri. Dadaku begitu sesak, seolah oksigen telah habis menguap ke angkasa.

Selama ini aku mencintaimu dalam diam. Dan mungkin, di antara kita berdua, memang hanya aku yang jatuh cinta.

Dan jika akhirnya kini aku harus mengubur dalam-dalam cinta yang bahkan belum sempat tersampaikan. Lalu dituntut untuk turut mendoakan kebahagiaanmu,

...akan kulakukan.

Bukankah seharusnya cinta memang seperti ini?

Mengikhlaskan orang yang kucintai untuk menjemput kebahagiaannya, meski dengan orang lain. Merelakanmu berjalan lebih dulu dan meninggalkanku yang masih sibuk tertatih membetulkan ikatan tali sepatu.

Tapi yang belum aku yakin, apakah kamu akan benar-benar bisa terhapus dari ingatanku? Setidaknya untuk saat ini, dalam waktu dekat ini. Setelah satu tahun aku mencintaimu dengan cinta yang tidak pernah kubiarkan menguap sedikitpun. Cinta yang pada akhirnya terpaksa menua setelah kupupuk, kutumbuhkan, dan kunikmati… sendirian.

Apakah kamu bisa terhapus? Selama aku masih bisa mengingat dengan jelas suara dan gaya bicaramu yang angkuh. Selama aku masih mengenali senyum dinginmu yang terpatri di foto itu. Selama pesan singkat darimu masih tersimpan dengan rapi di folder handphoneku. Selama nada tertawamu yang khas dan ledekanmu yang menyebalkan terus berputar-putar di otakku.

Selama semua hal itu masih ada dan masih bisa kurasakan, kamu masih tidak akan benar-benar bisa terhapus.

Biarlah. Toh ini hanya kisah dengan persentase realitas kurang dari setengah, cerita tanpa adegan pertemuan yang melankolis, dan hanya sekedar bangunan yang kudirikan sendiri dengan permisalan-permisalan dan harapan indah yang dirajut tapi belum sempat −dan tidak akan pernah terwujud.

Semuanya memang harus berhenti di garis ini.

Tepat setelah kau selesai mengikrarkan janji sehidup semati dengannya di depan penghulu. Disaksikan kedua orang tuamu yang menangis haru, adik perempuanmu yang tersenyum bangga karena melihat kakaknya yang selama ini dingin terhadap wanita akhirnya bisa menikah, sahabat-sahabatmu yang terlihat sedikit sebal karena setelah ini mereka tidak akan bisa lagi meledekmu dengan pertanyaan “kapan nikah?”. Dan tentu saja juga –olehku.

Aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi menunduk menatap tanah. Dan mulai memandang lurus punggungmu yang perlahan mulai menjauh. Hatiku dipenuhi rasa sakit yang seharusnya tidak perlu kurasakan jika saja aku tidak bermain-main terlalu jauh.

Dan saat tangisanku tidak juga mengering, kulihat sekali lagi wajahmu yang menoleh dan tersenyum dingin tanpa arti. Masih dengan senyum itu. Masih dengan kaus merah yang kamu kenakan saat pertama kali aku melihatmu.

Semuanya seakan masih sama. Hanya "seakan",

Karena kenyataannya semua hal telah berbeda. Kamu tidak lagi terlihat. Bahkan bayanganmu telah hilang ditelan ratusan tamu yang mengirimu. Menyadarkanku bahwa sekarang kisah ini telah selesai, bahkan sebelum sempat dimulai. Dan kini aku harus membiarkanmu berjalan beriringan dengan wanita itu, bukan denganku. Membiarkanmu menjalani kisah cinta bertabur bunga, serta menghabiskan sisa hidup bersamanya. Sekali lagi −bukan denganku. Ya benar. Membiarkanmu, merelakanmu, mengikhlaskanmu,

...lalu mendoakanmu yang pergi bersama gerimis.


Bukankah seharusnya cinta memang seperti ini?




Jumat, 04 November 2011

Ingatan Malam Hari

"Kalau gue bukan Putri yang pinter, yang rajin, yang punya banyak prestasi, yang jago di semua pelajaran, apa orang-orang masih mau temenan sama gue? lo masih mau jadi sahabat gue?"

"Hanya orang-orang yang emang punya alasan terselubung aja yang temenan karena mengharapkan keuntungan dan ninggalin pas temen itu udah ngga punya apa-apa lagi atau udah ngga jadi siapa-siapa lagi. Gue sampe kapanpun akan jadi sahabat lo, bukan karena lo punya apa, tapi karena lo Putri. Seperti apapun lo, gue sahabat lo."

***

"Kalau gue bukan Nona yang gaul lagi, kalau gue berubah jadi lebih agamis, kalau terkadang gue jadi sedikit ekstrim, kalo gue ngomong dan update sering banget bahas-bahas agama, kalau beberapa kali gue mengingatkan lo dengan cara yang mungkin tanpa gue sadari udah menyinggung lo, kalau cara berpakaian gue udah beda dari yang dulu, lo masih mau jadi sahabat gue?"