Selasa, 23 Agustus 2011

Karena Aku Percaya


Akankah kita bersama?

Menelusuri jalan setapak yang dipenuhi genangan

Ketika senja, ditemani gerimis


Romantis.


Meski entah kapan saatnya tiba

Ini hanya masalah waktu

Misteri yang indah mengalir bersama air dan terbang bersama angin.


Matahari, takkan mungkin kupaksa terbit

Pukul tiga, baru pukul tiga

Hari, masih betah dengan dini.


Tapi, akankah kau percaya itu terjadi suatu hari nanti?

Karena aku percaya.


Untuk sebuah dialog tanpa ruang dan tepi

Ragaku, masih disini

Menanti.


~Andini Nova

Aku Adalah Hujan


Aku adalah hujan

Yang indah membentuk pelangi saat kembali di ujung waktu

Aku adalah hujan

Dengan mendung yang setia mengiringi.

Aku adalah hujan

Turunku hanya dengan izin-Nya

Bersama dingin, bersama berkah.

Untuk semua penghuni bumi.


"Allahumma shayyiban naafi'an"

Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat.



~Andini Nova



Senin, 22 Agustus 2011

Hujan Bulan Desember



...aku selalu suka sehabis hujan di Bulan Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, dan Desember


~Andini Nova

Minggu, 21 Agustus 2011

Ramadhan Tahun Ini


Oleh : Andini Nova

Jika Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhirmu, apa yang kamu lakukan?

Seminggu yang lalu aku kehilangan seorang sahabat terbaikku, Rindu namanya. Seorang aktivis wanita yang solehah, akrab dengan anak-anak yatim dan fakir, dan giat mendakwahkan ajaran islam. Pembawaannya kalem dan lembut namun juga tegas. Kegigihannya berdakwah dan ketulusan hatinya membantu sesama benar-benar membuatku kagum padanya sekaligus malu kepada diriku sendiri.

Rindu, seorang wanita yang jarang bicara namun kadang pandai bergurai, dia adalah sahabat yang menyenangkan. Sahabat yang membuatku tersadar bahwa sudah terlalu banyak kelalaian yang aku lakukan. Namun, Allah memanggilnya pulang. Tepat seminggu sebelum Ramadhan tiba. Innalillahi wa inna illaihi raji’un.

***

Mati. Ya, semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Semua dari kita. Aku, kamu, dia, kita, mereka, tidak terkecuali. Ini hanya masalah waktu. Sungguh, kematian adalah sebuah piala bergilir.

Malam ini aku jadi teringat pembicaraanku dengannya dua minggu yang lalu. Ketika itu senja, kami duduk di bangku sebuah halte yang terletak di depan kampus. Menunggu bus untuk pulang.

“Hen, sebentar lagi Ramadhan, udah nyiapin apa aja?”, tanyanya lembut.

“Nyiapin? Emangnya apa yang harus disiapin, Rin?, aku malah bingung.

“Misalnya, kamu udah bikin schedule mau menghabiskan Ramadhan dimana aja? mau muhasabah dimana saat sepuluh malam terakhir? Punya targetan khatam berapa kali selama bulan Ramadhan?”

Aku terdiam sejenak. Entah berpikir entah melamun. Jujur, tak pernah terpikirkan olehku untuk mempersiapkan diri apalagi membuat daftar kegiatan yang harus dilakukan serta targetan yang ingin dicapai selama Ramadhan.

“Waduh, jujur ya, Rin. Aku ngga pernah kepikiran kesitu. Yang ada di benakku pas Ramadhan tiba ya paling-paling sahur bersama keluarga, punya stok makanan yang lebih, dan shalat tarawih bareng deh.”, aku sama sekali tidak berusaha menutupi apapun. Memang beginilah aku. Kalau kata orang-orang sih, ya begini ini yang namanya “berislam pada umumnya”. Semua ibadah yang dilakukan ya hanya yang bersifat umum, yang sering dilakukan kebanyakan orang.

Rindu tersenyum mendengar jawabanku. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke langit. Sore itu tidak terlalu ramai, hanya suara ribut lalu lalang kendaraan saja yang terdengar oleh telinga. Bus yang aku tunggu belum juga datang. Memang, bus jurusan Pulogadung-Kalideres cukup jarang lewatnya, bisa setengah jam sekali. Kakaknya Rindu –Kak Lutfi− yang biasa menjemput pun belum juga tiba. Aku diam, menunggu Rindu mengatakan sesuatu.

“Hen, kalau Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhir kita, apa akan kita biarkan berlalu sia-sia?“, ia berkata tanpa menoleh ke arahku, tetap memandang langit yang mulai berubah warna menjadi jingga.

“Mak-maksudnya, Rin?”

“Iya, maksudku, seandainya Allah memanggil kita kembali pada-Nya usai Ramadhan tahun ini berakhir, berarti ini adalah Ramadhan terakhir yang bisa kita lalui, kan? Kalau seperti itu bagaimana ya, Hen?”

“Aku…”, belum sempat aku meneruskan jawabanku tiba-tiba bus yang kutunggu muncul.

“Busnya udah datang, Hen. Naik, gih.”

“Eh, iya. Aku duluan ya, Rin. Assalamu’alaykum.”, ucapku sambil berlari kecil mengejar bus yang mulai merayap dan menjauh. “Bang, tunggu!”, sekilas kulihat Rindu yang tersenyum dan melambaikan tangannya kepadaku. “Wa’alaykumsalam. Hati-hati, Hen.”, teriaknya pelan.

Aku tidak pernah menyangka bahwa itu adalah terakhir kali aku melihatnya dalam keadaan baik-baik saja. Melihat senyumnya yang menenangkan, tatapan matanya yang teduh, serta mendengar nasihat yang ia sampaikan dengan lembut namun begitu menohok hati.

Karena tiga hari setelah pertemuan kami sore itu, tepatnya sebelas hari sebelum Ramadhan tahun ini menyapa, Rindu mengalami kecelakaan.

Saat itu ia sedang berboncengan motor dengan Kak Lutfi di bilangan Matraman. Sebuah bus metromini yang melaju cepat menabrak mereka tanpa ampun. Rindu terpelanting jauh, sedangkan Kak Lutfi terseret bersama motornya. Alhamdulillah saat itu keduanya masih hidup. Beberapa tulang Kak Lutfi patah sedangkan Rindu sendiri mengalami koma. Aku shock bukan main. Setiap hari aku mengunjungi Rindu di rumah sakit dan berdoa demi kesembuhannya. “Rindu, cepat sadar ya. Kan kita mau melewati Ramadhan bareng. Kan Rindu mau bantu Heni untuk persiapin diri supaya Ramadhan kali ini bisa maksimal. Kan…”, aku terisak. Rindu tetap diam, matanya tertutup rapat, bibirnya terkatup. Hening. Hanya suara patient monitor saja yang terdengar pelan di ruangan itu. Ruangan putih, dingin. Kedinginan yang menemani hingga tiga hari berikutnya berlalu begitu saja tanpa ada perubahan yang berarti. Hingga hari itu datang, hari ketika semua mata, termasuk mataku tak kuasa menahan liquid yang mengalir deras. Hari itu Jumat, ketika Allah memanggil Rindu pulang.

Sungguh, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati… (QS Al-Imran : 185)

Lamunanku buyar setelah suara ibuku yang nyaring terdengar memanggilku untuk segera datang ke ruang makan. Sebentar lagi maghrib, katanya. Aku pun bergegas menuju ruang makan sambil bergumam dalam hati, Rindu… semoga kamu tenang disana, kudoakan orang baik sepertimu mendapat tempat yang baik pula di sisi-Nya. Terima kasih kepada Allah yang telah mempertemukanku denganmu. Seorang sahabat yang mengingatkanku betapa di tiap Bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya yang telah berlalu begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia, i’tikaf yang terlewat, tilawah yang selalu saja tak sempat kulakukan, betapa sering aku tarawih sekilat mungkin agar bisa cepat-cepat tidur dengan alasan besok sahur, dan berapa banyak makanan enak masuk ke dalam mulut mungilku tanpa merasakan lapar dan haus yang sedang dialami para fakir di sekitar rumahku. Betapa banyak waktu yang kugunakan untuk tidur dengan pembenaran bahwa tidur saat puasa juga ibadah, tanpa ada sedikitpun kesadaran bahwa tilawah, dzikir, dan sholatnya orang puasa, tentulah lebih utama.

Ya Allah, jika Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhirku, andai esok tak ada lagi Ramadhan untukku, andai Engkau juga hendak memanggilku pulang, setidaknya aku tak akan menjadikan Ramadhan kali ini berlalu sia-sia.

Ketika kita mulai berpikir bahwa mungkin saja Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir kita, maka Ramadhan akan terasa berbeda. Malam-malamnya terasa begitu syahdu, takut rasanya berjauhan dengan Allah, indah rasanya berlama-lama di atas sajadah. Siang hari yang terik tidak terasa menumbuhkan emosi dan wajah cemberut karena kita sadar satu senyum manis akan bernilai ibadah. Perut yang kosong, tenggorokan yang kering, hawa nafsu yang terbelenggu menjadikan siang terasa begitu indah untuk dijalani, tak ada amarah, tak ada teriakan dan bentakan tak ada keinginan untuk menyakiti apalagi mendzalimi. Benar, begitu khusu’ karena kesadaran mungkin Ramadhan ini adalah yang terakhir.

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroni)

Jika Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhirmu, apa yang kamu lakukan?

***


Cerpen ini dimuat di Majalah EconoChannel Edisi 11 Tahun 2011

romantis

For The Rest of My Life

by Maher Zein

I praise Allah for sending me you my love
You found me home and sail with me
And I`m here with you
Now let me let you know
You`ve opened my heart
I was always thinking that love was wrong
But everything was changed when you came along
And there's a couple words I want to say

For the rest of my life
I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true
Till the end of my time
I`ll be loving you. loving you

For the rest of my life
Thru days and night
I`ll thank Allah for open my eyes
Now and forever I I`ll be there for you

I know that deep in my heart
I feel so blessed when I think of you
And I ask Allah to bless all we do
You`re my husband and my friend and my strength
And I pray we`re together eternally
Now I find myself so strong
Everything changed when you came along
And there's a couple word I want to say

For the rest of my life
I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true
Till the end of my time
I`ll be loving you. loving you
For the rest of my life
Thru days and night
I`ll thank Allah for open my eyes
Now and forever I I`ll be there for you

I know that deep in my heart now that you`re here
In front of me I strongly feel love
And I have no doubt
And I`m singing loud that I`ll love you eternally


I`ll thank Allah for open my eyes

You`re my husband and my friend and my strength...






Sabtu, 13 Agustus 2011

(Real) Menu Berbuka Puasa Hari Ini

Memang, manusia hanya bisa berencana, hasil akhirnya tetap di tangan Allah, dan pasti itulah yang terbaik. Rencana menu berbuka puasa yang dirancang sedemikian rupa, akhirnya meleseeeet dikit! Okay, memang menu utamanya tetap sama seperti yang direncanakan, namun makanan penutupnya (puding) ngga jadi dibikin lantaran baru inget kalau Hari Senin nanti ada buka puasa bersama bareng semua anggota EconoChannel, dan saya dapat jatah tugas membuat puding. Jadilah, bahan-bahannya untuk bikin puding Hari Senin aja deh, biar ngga beli lagi, gitu maksudnya.

Yaudah, akhirnya sekitar jam sepuluh pagi kemarin (kalau ngga salah), proses memasak pun dimulai. Menu pertama :

Ati Ampela Asam Manis

Bahan :
  • Ati ampela setengah kilogram
  • Air
  • minyak goreng
Bumbu :
  • Bawang merah 4 butir
  • Bawang putih 4 butir
  • Daun salam dua lembar
  • Sereh (cukup satu saja)
  • Jahe (potongan kecil saja)
  • Kunyit (potongan kecil)
  • Garam
  • Gula
  • Asam

Cara memasak :
  • Ati ampelanya dibersihkan dulu

  • kupas bawang merah, bawang putih, jahe, dan kunyit, lalu dicuci setelah itu dikeprek. keprek itu semacam ditumbuk tapi ngga sampai halus.

  • cuci daun salam dan sereh.
  • ambil sedikit asam, hancurkan bersama air hangat.


  • semua bahan dan bumbu tadi dimasukkan ke dalam penggorengan.
  • tambahkan garam dan gula secukupnya. tambahkan air putih kira-kira dua gelas kecil.
  • tutup penggorengannya, nyalakan kompor, masak hingga matang!
tara!



Kangkung Saus Tiram

Bahan :
  • Kangkung sekitar 5-6 ikat
  • Air
  • Minyak goreng
Bumbu :
  • Bawang merah 6 buah
  • Bawang putih 6 buah
  • Tomat 1
  • Cabai rawit (sesuai selera)
  • Garam
  • Gula
  • Saori saus tiram satu bungkus

Cara memasak :

  • Kangkungnya di-pesiang-in. Hmm, bahasa Indonesianya yang baik dan benar apa ya? pokoknya, kangkungnya itu dicabut/dipisahkan dari batang yang besar, dipilih daun kangkung yang masih muda. Youuu know what I mean lah... lalu cuci menggunakan air.
  • Kupas bawang merah, bawang putih, cuci, lalu iris
  • Cuci tomat dan cabai rawit, lalu iris.

  • Panaskan minyak goreng di penggorengan, lalu tumis bwang merah, bawang putih, aduk hingga tercium wanginya. Masukkan tomat dan cabai rawit, aduk.
  • Masukkan kangkungnya, aduk hingga setengah layu.
  • Masukkan garam dan gula secukupnya, dan saori saus tiram, dan sedikit air.
  • Aduk-aduk hingga rata, tutup penggorengan. Tunggu sebentar sekitar 3-5 menit. Angkat!



Oia, satu lagi. Rencananya mau bikin sirup buat buka puasa, tapi akhirnya bikin teh manis aja deh.


Nah, itulah menu berbuka puasa keluarga saya untuk hari Jumat, 12 Agustus 2011 yang lalu. Bagaimana dengan Anda?

Jumat, 12 Agustus 2011

(Planning) Menu Berbuka Hari Ini

Whuaah, tak terasa udah lumayan lama ngga ngeblog. Hmm kira-kira dua minggu ya? kemarin-kemarin lagi sok sibuk jadi jarang nengokin si ruamhujan ini. Online cuma update twitter sama facebook doang :DD

Sekarang mau posting apa yaaa? heem, hari ini (Jumat, 12 Agustus 2011), saya merencanakan beberapa menu untuk berbuka puasa sore nanti. Beberapa menu itu adalah :

Untuk menu pembuka : cukup sirup merk "Bangau" yang dicampur dengan es batu. Kolaknya beli aja, karena lumayan rempong buatnya dan juga ngga semua orang di rumah doyan sama kolak. di daerah sini, kolak sebungkusnya bisa dihargai antara 2500-3000 rupiah.

Untuk menu inti :
  1. Nasi putih (tentu saja)
  2. Tumis kangkung saus tiram (my favorite!)
  3. Ati ampela bumbu asam manis

Untuk menu penutup : Saya berencana membuat puding coklat yang dicampur dengan potongan stoberi dan disiram dengan fla. huaaah *ngga sabar

Nah untuk itu, setelah sepedaan nanti, sekitar jam 6 pagi (mungkin) saya akan langsung berangkuts ke pasar. Si Magenta terlihat sudah siap menemani saya dengan keranjangnya yang lumayan luas untuk menaruh belanjaan.

Oia, bahan-bahan yang diperlukan dan cara masak semua menu diatas saya posting nanti sore atau besok ya. Insya Allah :)

Sekarang udah mau imsak. Ayo berniat, selamat berpuasa!