Sabtu, 09 Agustus 2014

Tanda Tanya


Apakah kamu tahu?
Keinginan bertemu denganmu selalu saja menyesakkan dada.

Kapan kita akan bertemu? Dimana kita akan dipertemukan?

Semua terkaan yang kadang berhasil membuatku linglung.
Hingga di mataku, semua orang terlihat menyerupaimu.

Seperti inikah kamu? Apakah sosok tadi adalah kamu?

Luar biasa.

Tidak lelahkah kamu berlarian di pikiranku?
Disini aku sibuk mengatur hati agar sejalan dengan akal,
Sedangkan jauh di ujung gang sana, kamu justru telah memilih untuk lupa.

Ah, sepertinya musim memang senang bergurau denganku.
Begitu juga jalannya waktu yang terasa mengacaukan jiwa.

Tahukah betapa semua itu membahagiakan sekaligus menyiksaku?

"Aku tidak bermaksud membuatmu cemas. Aku hanya-"

"Aku tahu."

"Aku belum selesai bicara."

"Aku tahu."

"Ya, kamu tahu."
Nyatanya, apapun yang kamu bicarakan, seluruhnya terdengar ambigu.

"Aku belum bisa datang ke tempatmu. Tapi aku mau kamu men-"

"Aku tahu."

"Aku belum selesai bicara."

"Aku tahu."

"Aku mencintaimu."

"Aku ta-. Apaaa?"

"Aku mencintaimu."

"..."
Langit seperti menertawakanku −orang bodoh yang percaya pada guyonan dini hari.
Seandainya waktu bisa digulirkan mundur, aku akan memilih untuk tidak tahu.
Dan membiarkan misteri tentangmu tetap menjadi tanda tanya.
Karena mengetahui seseorang mencintaimu tanpa mendapat kepastian sama sakitnya seperti ditinggalkan tanpa pernah diijinkan untuk memiliki.
Tapi itu mustahil, kan?
Kemarin adalah masa lalu.
Dan akan tetap sama seperti bagaimana terjadinya dulu.

Maka hari ini, esok, maupun lusa, melaju saja sesuai rutenya,
Tentu dengan kenyataan bahwa,

"Aku tahu."

~Andini Nova


Tidak ada komentar:

Posting Komentar