Senin, 23 Mei 2011

Museum Seni Rupa ; Menyelami Sejarah Indonesia Lewat Lukisan

Museum Seni Rupa ; Menyelami Sejarah Indonesia Lewat Lukisan

Oleh : Andini Nova

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya." (Ir. Soekarno)

Gedung Museum Seni Rupa dan Keramik didirikan pada tanggal 12 Januari 1870 oleh pemerintah Belanda. Pada awalnya, gedung yang terletak di Kawasan Kota Tua Jakarta Barat ini digunakan sebagai kantor peradilan atau kehakiman Belanda yang biasa disebut Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia. Pada masa pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1944, gedung ini sempat dimanfaatkan oleh tentara KNIL (Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Legerdan) dan selanjutnya menjadi asrama militer TNI (Tentara Nasional Indonesia).

Pada tahun 1967, gedung antik bertiang tinggi di depannya ini beralih fungsi menjadi Kantor Walikota Jakarta Barat dan kemudian berganti menjadi Kantor Dinas Museum dan Sejarah Propinsi DKI Jakarta sejak tahun 1974 hingga 1975. Namun, pada tanggal 20 Agustus 1976, Presiden Soeharto menetapkan gedung ini sebagai Gedung Balai Seni Rupa Jakarta dan kemudian secara resmi berganti nama menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik pada tahun 1990. Saat ini, Museum Seni Rupa dan Keramik ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai salah satu cagar budaya yang harus dirawat dan dijaga.

Koleksi Bersejarah nan Indah di Museum Seni Rupa

Museum Seni Rupa memiliki sekitar 400 koleksi karya seni rupa di antaranya patung, ukiran dari kayu, sketsa, dan batik lukis. Pengunjung yang datang ke museum ini dapat melihat koleksi lukisan berbagai pelukis ternama Indonesia, antara lain lukisan berjudul Potret Diri karya Affandi, Burung-burung di Pantai karya I dewa Ketut Rungun yang dibuat pada tahun 1950, lukisan Pesta karya Abdul Rachman, atau Bupati Cianjur karya Raden Saleh Syarif Bustaman.









Jenis karya seni rupa lain yang dapat disaksikan oleh pengunjung di museum ini adalah patung berciri khas ukiran Bali yang dipajang di koridor depan ruangan, Selain itu, banyak juga ukiran dari kayu dengan berbagai model dan beberapa diantaranya bernuansa magis seperti ukiran karya Tjokot.
Di dalam, pengunjung dapat pula menikmati suasana yang teduh dengan pohon-pohon besar yang rindang. Didalam taman Museum Seni Rupa dan Keramik, pengunjung dapat duduk-duduk dibangku yang disediakan ditemani dengan patung-patung besar berwarna hijau yang memiliki cita rasa seni dan sejarah yang tinggi.

Peran Penting Museum

Museum sebagai salah satu lembaga pendidikan nonformal di dalam masyarakat, memang memiliki beberapa fungsi atau peran yakni sebagai pusat informasi, pusat rekreasi serta pusat belajar. Sebagai pusat informasi, museum tentu saja harus bisa memberikan informasi-informasi mengenai sejarah Indonesia. Dalam hal ini, Museum Seni Rupa sedikit banyak menggambarkan perjalanan bangsa Indonesia lewat koleksi lukisannya. Bisa dilihat dari lukisan-lukisan dengan bertemakan penderitaan rakyat Indonesia pada masa penjajahan, lukisan para prajurit yang tengah berperang, juga beberapa lukisan tentang bencana alam yang pernah menimpa Indonesia salah satunya gunung meletus.

Sebagai pusat rekreasi, museum juga diharuskan dapat memberikan suatu hiburan kepada para pengunjungnya. Tentu saja hiburan atau efek refresh yang mencerdaskan dan mencerahkan. Itulah mengapa museum dituntut untuk terus memperbaiki tata kelolanya sehingga dapat menarik minat masyarakat termasuk pelajar SD, SLTP, SLTA, bahkan perguruan tinggi. Koleksi yang sarat sejarah dan gedung tua yang menyimpan banyak cerita tidak cukup mampu menumbuhkan ketertarikan masyarat untuk berkunjung ke museum jika tidak diimbangi dengan tata kelola yang baik. Misal, perawatan rutin, penyusunan koleksi, pengkondisian suasana museum yang nyaman termasuk di dalamnya berbagai fasilitas pendukung yang selain membuat pengunjung merasa mendapatkan pengetahuan baru namun juga merasa terhibur, tidak bosan, dan berniat untuk datang kembali.

Untuk memenuhi itu, Museum Seni Rupa Jakarta memiki sebuah perpustakaan yang berisi buku-buku seni rupa yang bisa dijadikan panduan juga beberapa buku mengenai seniman-seniman Indonesia. Museum ini juga memiliki sebuah sanggar melukis yang dijadikan sebagai tempat pelatihan melukis dan terbuka untuk pelajar dan masyarakat umum. Sanggar pelatihan ini juga merupakan wujud dari peran museum sebagai pusat edukasi bagi masyarakat pada umumnya dan para pengunjung khususnya.

Dengan tiga peran tadi, museum diharapkan dapat membantu mengembangkan ilmu pengetahuan dan rasa senang masyarakat terhadap koleksi museum, kemudian memotivasi mereka untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat seperti membuat karya lukisan atau setidaknya menumbuhkan rasa cinta terhadap karya-karya anak negeri yang sebenarnya menjadi bagian dari sejarah Indonesia namun kini mulai dilupakan oleh bangsanya sendiri.

Ke Museum Seni Rupa, yuk!

Selama ini, Museum Seni Rupa cukup banyak dikunjungi oleh masyarakat, termasuk di dalamnya pelajar dan mahasiswa dari dalam dan luar Kota Jakarta bahkan beberapa wisatawan asing. Menurut data yang diperoleh dari laporan jumlah pengunjung Museum Seni Rupa dan Keramik tahun 2010, terdapat 8475 pelajar SD, 3697 pelajar SLTP, 1662 pelajar SLTA, dan 20.627 mahasiswa serta 42.673 wisatawan lokal dan 1327 wisatawan asing yang berkunjung kesini. Jumlah ini tentu saja sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah pengunjung mall atau pusat perbelanjaan dan rekreasi lain yang jumlah pengunjung per tahunnya dapat menembus angka belasan juta orang.

Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh kita bersama. Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta sebagai pihak pengelola telah cukup mencoba berbagai cara untuk mengatasi masalah ini salah satunya dengan meningkatkan penyebaran informasi teemasuk informasi tentang lokasi keberadaan, sejarah gedung, koleksi yang dimiliki sebuah museum serta fasilitas penunjang yang terdapat didalamnya yang tentu saja sangatlah penting bahkan menjadi faktor penentu bagi eksistensi Museum Seni Rupa dan Keramik ini. Peningkatan informasi dan publikasi museum juga menjadi faktor utama dalam meningkatkan pelayanan museum yang nantinya dapat berdampak pada meningkatnya jumlah kunjungan ke museum, sehingga fungsi museum sebagai salah satu pusat edukasi nonformal di dalam masyarakat dapat tercapai.

Untuk meningkatkan pelayanan informasi mengenai keberadaan museum ini, Museum Seni Rupa dan Keramik memiliki kegiatan berupa pameran berkala dan penyuluhan permuseuman. Pameran berkala biasa dilakukan di dalam museum maupun pada event di luar museum, sedangkan penyuluhan tentang pentingnya mengunjungi museum biasa dilakukan di sekolah-sekolah dari tingkat SD sampai SLTA di berbagai wilayah DKI Jakarta. Masyarakat umum khususnya orang tua juga diharapkan dapat membantu mengeksiskan kembali museum dengan tidak hanya mengajak anak-anaknya untuk ke mall namun juga berkunjung ke museum-museum dan tempat rekreasi lain yang sarat dengan nilai sejarah serta pendidikan. Harga tiket masuknya sangat murah yakni Rp2.000 untuk orang dewasa, Rp1.000 untuk pelajar dan Rp 600 untuk anak-anak. Akses untuk mencapainya pun terbilang mudah terjangkau karena banyak kendaraan umum, seperti bus Transjakarta atau Mikrolet, yang melintas di sekitarnya.

Museum Seni Rupa dan Keramik dibuka untuk umum pada hari Selasa hingga Minggu, sedangkan hari Senin dan hari besar tutup. Pada hari Selasa hingga Kamis, museum ini buka pada pukul 09.00-15.00 WIB. Pada hari Jumat dan Minggu, museum ini buka dari pukul 09.00 hingga 14.00 WIB, sedangkan untuk hari Sabtu dari pukul 09.00 hingga pukul 12.30 WIB. Selesai jalan-jalan berkunjung di museum ini, pengunjung juga dapat berbelanja cinderamata atau souvenir seperti kerajinan tangan, t-shirt, buku seni rupa dan masih banyak lagi. Seru, kan? Jadi, tunggu apalagi? Ayo berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik dan bersiaplah untuk menyelami sejarah seni rupa Indonesia!




Minggu, 08 Mei 2011

Merindu

Seperti sebuah cangkir yang sudah pernah pecah, walaupun direkatkan kembali ia tidak akan bisa mulus tanpa cacat. Akan ada retakan yang menandakan bahwa ia memang "pernah pecah".

Pun begitu dengan persahabatan kita.Walau kita sudah mencoba untuk memperbaikinya, tapi serpihan kekakuan penimbul jarak tetap terasa.

Kamu, telah menghancurkan jembatan itu.
Dan memilih berada di seberang jurang dimana aku tak akan bisa menyeberanginya.
Atau justru aku yang mengunci pintu agar kamu tidak bisa masuk kembali?

Hujan yang sangat deras, pukulan di hati, tatapan dingin dan sikap diammu yang terasa menyakitkan.
Tahukah betapa itu menyiksaku?

Adakah yang bisa kulakukan agar kamu tidak pergi?
Atau memang namaku sudah tidak ada lagi dalam benakmu?
Dan jika itu benar, setidaknya dengarkan ini baik-baik,

aku sungguh merindu...



~Andini Nova