Senin, 25 April 2011

Menikah? Khitbah? Ta'aruf?

Malam ini, sebenarnya badan udah pada pegel-pegel, tapi berhubung masih harus jaga warnet, jadilah saya online (mau tidak mau), padahal nih lagi proses mengurangi durasi online. Ckkckck...

Nah bingung banget, mau ngapain onlinenya Facebook gitu-gitu aja, YM bosen, ngeblog bingung mau posting apa, baca artikel otak udah ngga bisa diajak mikir yang berat-berat. Nah, di saat kebingungan itu merajai pikiran saya, tiba-tiba saja langsung terlintas ide untuk baca messages di FB yang dulu-dulu. Dan taraaaaaaa!!! Message ini saya temukan. Message yang membuat saya..... Hemmm seperti dapat "warning", maybe. Allah memang Maha Tahu, tau banget kalau hamba-Nya yang satu ini beberapa hari belakangan memang lagi galau =P

Ya sudahlah, daripada bertele-tele nanti jadi ikan lele, langsung saja Check this out! 

Novayuandini Gemilang July 20, 2010 at 9:28pm
Assalamu'alaikum
Pak Oleh, saya ingin bertanya tentang batas-batas hubungan dengan lawan jenis. Saya benar-benar takut terjerumus ke pacaran. Kan hal tersebut nggak boleh dalam islam. Saya merasakan sekali, sulitnya menjaga hati. Sebenarnya saya ingin sekali menikah muda, tapi saya masih kuliah. Orang tua saya tidak mengijinkan saya menikah jika saya belum lulus. Pertanyaannya Pak, Jika berkomitmen pada lawan jenis yang "sekiranya" berniat untuk menikahi kita tapi tidak untuk saat ini, karena masalah itu tadi "saya masih kuliah", jadi dia bersedia untuk menunggu sampai saya lulus. Itu gimana ya Pak? Nah, yang saya bingung, bagaimana sikap yang tepat selama menunggu itu? sebelumnya terima kasih ya, Pak..

Oleh Solihin July 21, 2010 at 9:55pm
Wa'alaykumsalam WR.WB
Hubungan (yang terlampau dekat) antara lawan jenis sebelum nikah, memang terlarang dalam ajaran Islam. Kecuali jika sudah mengkhitbah (meminang) yakni si lelaki menemui ayah dari Nova untuk menyatakan keseriusannya menikah, maka hubungan tsb jadi boleh. Tapi sebatas untuk ta'aruf dan tetap menjaga norma ajaran agama, misalnya tidak berduaan atau tidak berkomunikasi dengan berlama-lama dan ngobrol ngalor ngidul nggak jelas juntrungannya.

Saya menyarankan lelaki tersebut untuk KHITBAH (meminang) tapi itu diniatkan sbg upaya untuk menikahinya. Batasan dari khitbah ke pernikahan memang tidak ada ketentuannya. Tapi untuk urusan kebaikan, dalam ajaran Islam berlaku "Lebih Cepat Lebih Baik". Cuma, tentu saja ini jangan sampe dijadikan alasan untuk kemudian menjalin hubungan yang sangat dekat meskipun ke pernikahannya masih belum jelas. Saya khawatir kalo ini jadinya "pacaran terselubung".

Jika memang sudah berkomitmen untuk menunggu Nova lulus kuliah, maka menurut saya ada 2 pilihan yang harus dilakukan:

1. Minta lelaki tersebut untuk mengkhitbah. Sebagai bentuk keseriusan untuk menikah. Namun dengan perjanjian insya Allah akan menikah setelah Nova lulus kuliah. Seandainya ini mau dilakukan, maka setelah terjadi khitbah, maka pada masa menunggu itu hubungan antara dia dan Nova tetap saja dibatasi. Hanya saja, diperbolehkan untuk berkomunikasi dalam rangka mengenal lebih dekat masing-masing. Itu boleh. Namun jangan terlalu sering. Saya masih khawatir di antara kalian tak bisa menahan gejolak nafsu. Itulah mengapa saya sebenarnya lebih memilih prinsip: lebih cepat lebih baik

2. Sabar menunggu sampe Nova lulus kuliah. Berapa tahun lagi sih? Nggak sampe 4 tahun kan? Artinya, menunggu lulus kuliah tanpa ada ikatan khitbah (meminang). Jika ini yang dipilih, maka hubungan selama menunggu itu SEHARUSNYA tidak terlalu dekat. Biasa saja seperti teman pada umumnya. Tidak boleh berkomunikasi masalah pribadi, tidak boleh ta'aruf (mengenal lebih dekat), karena hubungannya ya belum terikat khitbah apalagi nikah. Jadi sebagaimana umumnya saja. Semua aturan pergaulan berlaku: tidak boleh curhat, tidak boleh berduaan, tidak boleh saling menyindir. Mungkin ini akan berat karena meskipun sering ketemu di dunia maya, tapi justru itulah saat ini menjadi masalah utama. Karena bisa 'ketemuan'.

Walhasil. Saran saya:
1. Tentukan pilihan yang tepat dari kedua alternatif yang saya tawarkan di atas.

2. Sabar saja. Jodoh tak akan lari kemana. Kalo memang berjodoh, insya Allah bertemu meskipun banyak aral melintang. Tapi kalo memang bukan jodoh, meskipun terus diupayakan bersatu, tak akan pernah bisa berjodoh.

3. Terus berdoa kepada Allah Swt, minta yang terbaik buat semuanya.

Sementara itu saja dari saya. Maaf kalo ada salah ketik atau salah menilai. Jangan sungkan kalo mau bertanya yang lainnya. Tetap istiqomah dalam Islam.

Salam,
OS

Sudah selesai membaca? Bagaimana menurutmu? 

“Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2: 251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

Jumat, 22 April 2011

Quote Hari Ini #2

Kadang kita merasa bangga dengan ketaatan yang telah atau sedang kita laksanakan, sehingga secara tidak sengaja kita merendahkan ketaatan orang lain. Padahal, bangga diri membuat ikhlas kita tercuri. (Imam Sabilillah)

Ayo Masak!

Entah sudah berapa lama saya tidak memasak hahahha, memalukan ish. Paling-paling, yang dimasak cuma masakan standar, rebus mi, goreng telur, atau bikin tumisan.

Akhir-akhir ini memang sedang jadi orang sok sibuk. Kesana-kemari. Pergi pagi pulang malam. Tapi nggak dapet gaji =P

Tapi yaaaaaaaaaaaahhhhh, mudah-mudahan dari sekian banyak kesibukan, tetap bernilai ibadah dan merupakan kegiatan yang bermanfaat. (Tapi tetep nggak boleh memaksakan diri untuk melakukan sesuatu di luar batas ketahanan tubuh ya!)

Padahal sebelumnya demen banget masak (walaupun bukan masakan yang rumit), tapi sayur-sayur, tumisan, dan beberapa macam lauk bisalaaahhh (gayaaa). Kangen bikin puding juga, kangen bikin kue, kangen belanja ke pasaaarrrr terus becek-becekan dan nawar harga sayur dengan sangat sadis *efek jadi anak ekonomi hahaha.

Harus diakui, memasak itu menyenangkan. Sangat menyenangkan malah. Apalagi saat mencicipi hasil masakan sendiri. Wuaaahhhhh!!! Sensasinya benar-benar amazing~! hohoho

Jadi..., okelah. Kita mulai dari awal lagi. Mulai manajemen waktu yang baik dong!

MARI BELAJAR MASAK DAN MULAI RAJIN MEMASAK (LAGI)!

Masa calon ibu rumah tangga cuma bisa masak beberapa macam makanan? Malu atuh...

Semoga tidak hanya bersemangat di awal-awal saja. AMIN \\(^.^)//





Candu


Oke, sudah banyak yang mengingatkan.
Mama sudah ngomel-ngomel,
Abang udah pada nyeremin ekspresinya,
Temen-temen udah pada bawel,
Dokter galaknya minta ampun,


Katanya mahasiswi manajemen, tapi kok manajemen waktunya "ancur lebur"?

Lagian memang saya merasa sudah mulai kecanduan "lagi".

Jadwal tidur berantakan, durasi istirahat tersita, baca buku ngga selesai-selesai, makan jadi telat, tahfidz ngga maju-maju.

MAU JADI APA???!!!

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (Al Jaatsiyah: 23).

Yolah yolah, aku nuruuuutttt.
Memang harus mengurangi porsi online.
Bisakah? Harus bisa!!!


h a m a s a h ! ! ! Bismillahirrahmaanirrahiim...

Percayalah, Allah Maha Pengampun



Hadist Qudsi, Dari Anas bin Malik Ra, Ia berkata,
Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ALLAH Berfirman :
"Wahai anak Adam (manusia) sesungguhnya selama kamu berdo'a dan mengharap kepada KU, AKU memberi ampunan kepadamu terhadap apa (dosa) yang ada padamu, dan AKU tidak memperdulikannya.
Wahai anak Adam, seandainya dosamu sampai kelangit, kemudiam kamu minta ampun kepada KU, maka AKU memberi ampunan kepadamu dan AKU tidak memperdulikannya.
Wahai anak Adam, sesungguhnya apabila kamu datang kepada KU, dengan kesalahan sepenuh bumi, kemudian kamu menjumpai AKU dengan tidak menyekutukan AKU dengan sesuatu, niscaya AKU datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi.
(Hadist ditakhrij oleh Tirmidzi).
Mohon ampun atas segala dosa dan khilaf...
~Andini Nova

Senin, 18 April 2011

Pada Suatu Pagi Hari

Maka pada suatu pagi hari
ia ingin sekali menangis
sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu…
Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik
dan lorong sepi…
agar ia bisa berjalan sendiri saja
sambil menangis dan tak ada orang bertanya
kenapa…
Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
memecahkan cermin membakar tempat tidur…
Ia hanya ingin menangis lirih saja
sambil berjalan sendiri
dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.
~*Sapardi Djoko Damono*~
[ 1973 ]

Hujan Bulan Juni


Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
[Sapardi Djoko Damono]

Gadis Kecil




Ada gadis kecil diseberangkan gerimis
Di tangan kanannya bergoyang payung
Tangan kirinya mengibaskan tangis
Di pinggir padang Ada pohon Dan seekor burung
~*Sapardi Djoko Damono*~

Tajam Hujanmu




Tajam hujanmu
ini sudah terlanjur mencintaimu:
Payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku,
air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu,
aspal yang gemeletuk di bawah sepatu,
arloji yang buram berair kacanya,
dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan
deras dinginmu …
sembilu hujanmu …
~*Sapardi Djoko Damono*~
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

I Want





I want to love you simply,
in words not spoken:
tinder to the flame which transforms in to ash…
I want to love you simply,
in signs not expressed:
clouds to the rain which make them evanesce…
~*Before Dawn : The Poetry of Sapardi Djoko Damono*~

Hujan Turun Sepanjang Jalan


Hujan turun sepanjang jalan…
Hujan rinai waktu musim berdesik-desik pelan…
Kembali bernama sunyi…
Kita pandang: pohon-pohon di luar basah kembali…
Tak ada yang menolaknya…kita pun mengerti, tiba-tiba
atas pesan yang rahasia…
Tatkala angin basah tak ada bermuat debu…
Tatkala tak ada yang merasa diburu-buru…
~*Sapardi Djoko Damono*~
[1967]

Kisah



Kau pergi, sehabis menutup pintu pagar sambil sekilas menoleh namamu sendiri yang tercetak di plat alumunium itu…
Hari itu musim hujan yang panjang dan sejak itu mereka tak pernah melihatmu lagi…
Sehabis penghujan reda, plat nama itu ditumbuhi lumut sehingga tak bisa terbaca lagi…
Hari ini seorang yang mirip denganmu nampak berhenti di depan pintu pagar rumahmu, seperti mencari sesuatu…
la bersihkan lumut dari plat itu, Ialu dibacanya namamu nyaring-nyaring.
Kemudian ia berkisah padaku tentang pengembaraanmu..
~*Sapardi Djoko Damono*~
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

Rain Spell


Rain knows well the tree, the road
the gutter too-their voices can be distinguished :
and you can hear them too, even when you close the door
and window. Even when you dim the light.
Rain, who really can distinguished between them, has fallen
on the tree, the road and the gutter-
casting a spell so that you have no chance at all to protest
when you find the revelation that you may not reveal

~*Sapardi Djoko Damono*~
[Before Dawn, The Poetry of Sapardi Djoko Damono]

A Light Rain on Jakarta Street in Malang


it was as if you were speaking at the end of the road…
(it was cold and the rain suddenly fell silent
as if you were calling from around the bend
for a return to sorrow)
for a return
to a long and unfulfilled desire
as if you were signaling without any lights…
for me to call you, You…
[Before Dawn, The Poetry of Sapardi Djoko Damono]

Dalam Doa I







kupandang ke sana: Isyarat-isyarat dalam cahaya…
kupandang semesta
ketika Engkau seketika memijar dalam Kata…
terbantun menjelma gema. Malam sibuk di luar suara…
kemudian daun bertahan pada tangkainya…
ketika hujan tiba. Kudengar bumi sediakala…
tiada apa pun di antara Kita: dingin
semakin membara sewaktu berhembus angin…

~*Sapardi Djoko Damono*~
[1968]

Gerimis Kecil Di Jalan Jakarta, Malang



seperti engkau berbicara di ujung jalan…
(waktu dingin, sepi gerimis tiba-tiba
seperti engkau memanggil-manggil di kelokan itu
untuk kembali berduka)
untuk kembali kepada rindu…
panjang dan cemas…
seperti engkau yang memberi tanda tanpa lampu-lampu
supaya menyahut, Mu…


~*Sapardi Djoko Damono*~
[1968]

Minggu, 10 April 2011

Berhentilah...

Aku terbangun tiap malam dengan nafas sesak. Bahkan untuk berdiri pun aku tidak mampu. Mengais oksigen yang seakan telah jauh menguap.

Langit-langit kamar juga jarum jam yang berputar seperti sudah bosan menjadi penonton adegan rintihan tengah malam. Benar, tiap malam. Tiap aku pulang membawa kelelahan dan nafas tersengal-sengal.

Mungkin selama ini aku memang kurang paham akan makna dari kalimat "tubuh juga amanah".

Jangan sampai kelelahan, tapi tiap hari aku menguras tenaga hingga larut.

Jangan bermain-main dengan angin malam, tapi aku -dengan alasan ingin mengefisiensi waktu- tetap melesat, menerobos kegelapan dengan kendaraan roda dua.Seakan aku kuat, seakan aku akan tetap baik-baik saja setelahnya.

Makan teratur, minum obat tepat waktu.

Jangan menjalani aktivitas-aktivitas yang sebenarnya kamu tidak mampu.

Aku tahu.
Aku tahu itu.

Tapi saat ini, aku seperti merasa bahwa aku tidak ingin berbeda -terlihat tidak sama- dengan yang lain.

Mereka bisa, kenapa aku tidak?

...salahkah?

Entah ingin memberi pembuktian apa terhadap siapa bahwa aku juga "berkontribusi".

Meski tubuh berteriak, "Ini di luar batas kemampuanku!"

Atau setelah semua keambrukan ini, setelah peringatan keras dari mereka yang lebih bisa berpikiran jernih dan tahu bahwa memang "AKU TIDAK MAMPU", meskipun aku mau, meskipun aku ingin.

Mungkin beberapa pilihan yang ada harus mengerucut menjadi satu.

Ya.
Pilihannya hanya satu.
Berhenti.

Masing-masing kita memiliki kemampuan fisik yang berbeda-beda. Jangan terlalu sering menembus kemampuan ketahanan fisik sendiri. [Arya Sadhewa]

Hey...
Berhentilah mendzolimi dirimu sendiri.

Jangan sampai Tuhan marah kepadamu...

Kamu, tidak sama dengan mereka.

Jadi, jangan memaksa.

Berhentilah berpura-pura, bahwa kamu baik-baik saja.




~Andini Nova

Menanti Tanpa Berhenti

Aku tidak tahu kenapa aku masih menunggunya.
Aku hanya berpikir bahwa aku harus menunggunya.
Meski dia ada di kegelapan,
Sendirian.
Tanpa senter.
Di tengah hujan deras,
Tanpa payung atau mantel.
Tersengat matahari di hamparan padang pasir,
Tanpa air.

Meski karena semua itu ia akan menjelma menjadi sosok yang tidak kukenal.
Aku akan tetap tahu bahwa itu dia.
Meski ia datang dalam wujud yang berbeda ketika dulu ia memutuskan untuk pergi.

Keputusanku sudah bulat.
Cepatlah kembali kesini.

Aku telah menunggu, masih menunggu, dan akan tetap menunggu.

Dengan keyakinan, tanpa kecemasan.

Dan biarkan hujan menjadi saksi atas penantian yang tidak mengenal kata berhenti ini...




~Andini Nova

Minggu, 03 April 2011

Man Jadda Wa Jada!

MAN JADDA WA JADA

Siapa yang bersungguh-sungguh, ia akan sukses!!!




Make your dreams come true!




Bismillahirrahmaanirrahiim


HAMASAH NOVA !

\\(^0^)//


~Andini Nova

Sabtu, 02 April 2011

Terbuk ; Sejuta Kisah Sejuta Makna

Terbuk ; Sejuta Kisah Sejuta Makna



Novayuandini Gemilang*

Jika pertanyaan seperti ini ditujukan kepada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta, "Tau Terbuk gak?" bisa dipastikan bahwa jawaban yang akan mereka lontarkan adalah "Tau dong," atau "Ya taulah,". Bahkan, tidak hanya mahasiswa FE saja yang mengetahui tentang Terbuk, banyak mahasiswa dari fakultas lain yang juga tahu keberadaan tempat lapang yang dikelilingi gundukan anak tangga tiga tingkat ini.
Ya, begitulah kira-kira gambaran betapa eksis dan populernya Teater Terbuka (baca : Terbuk) di kalangan mahasiswa UNJ umumnya dan mahasiswa FE khususnya. Terbuk merupakan sebuah lapangan terbuka berukuran cukup luas yang terletak di dekat Gedung Administrasi, dimana gedung tersebut adalah tempat mahasiswa FE melakukan proses perkuliahan. Tidak heran, jika mereka kenal betul dengan teater yang biasa dijadikan tempat nongkrong ataupun event-event kampus ini. 

Terbuk memiliki bentuk yang menyerupai lingkaran. Terbuat dari campuran bebatuan dan tanah berwarna kecoklatan, membuatnya terlihat kokoh. Di sisi tengahnya, terdapat sebuah panggung berukuran sedang. Di bagian atas panggung tersebut, berdiri sebuah tugu bertuliskan Building Future Leader yang melambangkan Universitas Negeri Jakarta. Terbuk memiliki tiga buah pendopo kecil berisi meja dan kursi panjang. Letak ketiganya menyebar. Ada yang berada di sisi kanan, tengah, dan kiri.

Raymond, seorang mahasiswa Jurusan Manajemen angkatan 2009, mengatakan, bahwa baginya Terbuk adalah tempat istirahat setelah kuliah. Selain itu, Terbuk juga sebagai tempat duduk-duduk menunggu jam perkuliahan berikutnya yang memang biasanya rentang waktu antara satu mata kuliah dengan mata kuliah lain lumayan jauh. Suasana Terbuk yang "terbuka" juga banyaknya pohon-pohon besar yang rindang, menjadikannya sebagai tempat paling pas untuk ngadem dan bersantai. Kadang, Raymond juga memilih Terbuk sebagai tempat untuk mengerjakan tugas kuliah. "Di terbuk kan ada bangku-bangku tuh, lumayan dijadiin tempat buat ngerjain tugas, ngga kaya di perpustakaan yang panas atau Pusat Belajar Ekonomi (PBE) yang nggak boleh berisik. Kalau di Terbuk, walaupun ngerjain tugas, bisa disambi ngobrol juga. Mau ketawa ngakak nggak akan ada yang ngomelin," ujar mahasiswa berperawakan tinggi itu.

Lain Raymond, lain lagi Nadia. Mahasiswi yang juga berasal dari Jurusan Manajemen ini, memilih Terbuk sebagai tempat bercengkrama dengan teman-teman sekelasnya. Selain itu, masih menurutnya, Terbuk sering ia jadikan sebagai tempat janjian bertemu dengan orang −baik sesama mahasiswa FE atau bukan− karena lokasi Terbuk yang strategis dan sudah terkenal, maka mudah untuk ditemukan sehingga memudahkan pula untuk melakukan proses "ketemuan" itu. 

Hal serupa dilontarkan oleh Anna Liana. Teman sekelas Nadia ini merasa bahwa Terbuk itu sangat cocok untuk berkumpul bersama teman-teman. "Ya terbuk kan tempat yang paling deket dari ADM, jadi nggak heran kalo anak FE nongkrongnya disitu," akunya saat penulis wawancara kemarin.
Memang, jika diperhatikan lebih jauh dan teliti, Terbuk selalu ramai tiap harinya dan keramaian itu didominasi oleh mahasiswa FE. Ada pun ketika sore hari, terlihat beberapa anggota Unit Kegiatan Mahasiswa bidang olah raga, yang melakukan latihan fisik seperti jogging atau stretching. Pada hari Jumat, tempat ini juga biasa digunakan oleh dosen dan karyawan FE yang melakukan senam pagi.

Apapun alasan orang-orang memilih Terbuk, entah sebagai tempat nongkrong, ketemuan, mengerjakan tugas, senam, atau sekedar ngobrol ngarol-ngidul, telah menjadikan Terbuk sebagai sebuah tempat yang punya arti dan fungsi tersendiri bagi mereka. Semua terkisah dari teater yang terletak disamping Gedung ADM dan BAAK (Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan) UNJ ini. Teater dengan sebuah panggung dan Tugu UNJ di tengahnya yang pada awalnya didirikan sebagai tempat pertunjukkan seni dan berbagai hiburan saat event kampus diadakan, kini telah bermetamorfosa dan memiliki makna lebih dari itu. Lokasinya yang berada di samping Gedung ADM, menjadikannya titik yang selalu menjadi pilihan utama mahasiswa FE. Keberadaannya di ruang terbuka, menjadi alasan terpilihnya ia sebagai tempat ngadem dan bersantai. Panggung, tempat duduk berupa anak tangga dari batu dan semen yang anggun di sekeliling, juga beberapa pondok mirip pendopo menambah kesemarakan Terbuk. Dulu, sekarang, hingga nanti, Teater Terbuka akan tetap menjadi saksi bisu yang merekam berbagai kisah yang terjadi di tengah Universitas Negeri Jakarta.
 








[1] Mahasiswa jurusan Manajemen Universitas Negeri Jakarta


nb : artikel ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk menjadi anggota divisi redaksi Econo Channel UNJ