Minggu, 06 Maret 2011

Apaaaaaaaa???

Sekarang apa lagi?
Apa coba? apa apa apa?

Yeuhhh, nggak jelas.
Terus kenapa???

Ulalalalala....





~Andini Nova
sindrome menjelang hari Senin

Serba-Serbi Palsu

Konon katanya ada sebuah negara yang penuh kepalsuan.

Yang dibangun dari bibit keluarga kecil di kampung pinggiran sebuah kota palsu.
Kepala keluarganya adalah kepala keluarga palsu yang melamar kerja untuk mendapatkan posisi palsu.
Melewati seleksi dengan menyelipkan salam tempel palsu agar menjadi bagian dari instansi palsu.
Kemudian berprofesi sebagai pegawai yang mempersembahkan pengabdian palsu untuk mendapatkan reward palsu.
Alasannya -demi kebahagiaan palsu anak-anak mereka yang akan menjadi generasi penerus palsu.

Generasi yg menuntut ilmu di sekolah dengan pengajar-pengajar palsu bersertifikat palsu.
Demi mendapatkan nilai dan ijazah palsu dengan mengerjakan ujian palsu memakai cara-cara palsu.
Mengasah kepintaran memalsukan segala sesuatu agar kelak menjadi orang sukses palsu.
Bercita-cita memperbaiki keterpurukan tanah air dengan semangat palsu yang menggebu-gebu.
Giat mengikuti demo-demo lalu menyuarakan aspirasi palsu dan kenyang melahap nasi bungkus berlauk palsu.
Mengaku -aktivis- namun gemar hidup dalam kemalasan dan mementingkan kenikmatan dunia yang palsu.
Ketawa-ketiwi di kafe palsu menghabiskan uang orang tua palsu.
Berlenggak-lenggok mempercantik diri dengan make up palsu tanpa bisa menghasilkan karya-karya bermanfaat.

Generasi penerus palsu yang sehari-harinya terbiasa menjajakan cinta palsu dalam hubungan semu yang palsu.
Mengikrarkan komitmen dan sumpah-sumpah palsu demi mendapatkan perhatian dan kepuasan sesaat dari pasangan palsu.
Tujuannya, agar terhindar dari tanggung jawab sebuah pernikahan (palsu).

Di negara itu..
Terlihat hamparan laut biru dan hijaunya sawah.
Yang digarap oleh nelayan dan petani palsu berperawakan lesu.
Menghasilkan panen dari benih dan pupuk palsu yang dijual ke pasar dengan patokan harga palsu.

Di pelosok daerah berjamur para investor palsu yang leluasa mengeksploitasi tambang-tambang.
Tentu, setelah mendapat izin palsu dari birokrasi njlimet yang berlagak garang tapi palsu.

Lalu para pengusaha palsu yang membangun perusahaan dan merekrut pekerja palsu.
Membuat laporan keuangan palsu dengan mempekerjakan akuntan palsu yang pandai memanipulasi tagihan pajak.
Mudah, menyelamatkan diri dari hukuman dengan berkongko bersama mereka para penegak hukum palsu.
Dan ketika kejahatan terkuak oleh para pembasmi kejahatan palsu,
Tersangka-tersangka bersilat lidah memberikan keterangan palsu sebagai bentuk pertahanan diri palsu.
Memunculkan saksi dengan kesaksian palsu yang sebelumnya sudah diberikan amplop putih -yang mungkin saja isinya palsu.
Dan akhirnya hakim palsu memutuskan vonis palsu di dalam persidangan palsu.

Persidangan yang diliput media massa palsu yang pandai mengolah informasi menjadi berita palsu yang layak dikonsumi oleh para pemirsa palsu.

Melindungi pemimpin-pemimpin palsu yang mempunyai kepentingan dan gemar mengumumkan Indeks harga palsu yang disurvei dari data-data palsu.
Juga menggembar-gemborkan pertumbuhan ekonomi palsu demi menyelamatkan kursi empuk kekuasaan.

Belum lagi kebiasaan membuat pencitraan palsu yang disampaikan lewat pidato palsu.
Mengeluarkan ocehan palsu tentang kestabilan dan kesejahteraan palsu yang entah berdasarkan acuan apa.
Demi mengharap simpati agar kelak terpilih lagi dalam pemilu palsu.

Mereka...
Wakil rakyat palsu yang dulu mengumbar janji-janji palsu.
Lewat kampanye palsu yang dimeriahkan penyanyi dangdut dengan goyangan mengundang syahwat untuk menarik penjilat yang menyamar menjadi pendukung palsu demi mendapatkan lembaran sepuluh ribu.

Kebobrokan yang kompleks.

Ditambah lagi..
Maraknya seniman palsu yang menjadi terkenal di masyarakat lewat ajang pencarian bakat palsu yang ditayangkan stasiun TV.
Mendoktrin para orang tua dan anak lewat tayangan kejar tayang yang memperlihatkan adegan tolol bin palsu.
Lagi-lagi, mengatasnamakan rating tinggi palsu dan pemain asing hasil naturalisasi palsu.

Deretan aktor dan aktris film papan atas yang membuat konflik palsu agar tiket-tiket dibeli penikmat film palsu yang datang ke bioskop bukan untuk menonton film tapi justru membuat drama palsu baru.

Anak band yang melantunkan lagu palsu hasil peng-plagiat-an dari musisi palsu luar negeri.
Lalu mendapatkan penghargaan penjualan palsu dari museum rekor palsu.

Semua.. demi sebuah ketenaran palsu.

Memperkaya orang kaya dan memelaratkan rakyat jelata palsu yang ternyata masih mampu membeli handphone canggih keluaran terbaru atau mengisi perut di restoran cepat saji.
Wong kecil palsu yang sering berbelanja di mall tapi berdiri paling depan dalam antrian beras miskin di kantor RW.
Memasang tampang susah palsu dan pakaian lusuh palsu agar terlihat meyakinkan dalam pembagian dana bantuan yang merupakan hasil dari kebijakan sebuah pemerintahan palsu di negara palsu.

Secara pelan tapi pasti..
Menyebarkan paradigma palsu yang menyuburkan tabiat-tabiat palsu.
Agar para theis palsu makin jauh dengan Tuhan dan agama mereka dengan cara membuat tuhan-tuhan palsu yang baru.
Lalu menjalankan ajaran palsu dengan ritual-ritual dari nabi palsu.

Lihatlah..
Sekelilingmu palsu.
Depanmu palsu, belakangmu palsu, kananmu palsu, kirimu palsu, atasmu palsu, bawahmu palsu.
Begitu juga dirimu,

Palsu.

Ya.
Palsu.
Palsu.
Dan palsu.

..dan semua kepalsuan lain yang ternyata juga palsu.





***

Ah, Ini hanya sebuah tulisan palsu yang dibuat oleh penulis palsu.
Jangan dipikirkan, karena bisa saja semua yang anda baca adalah palsu.



~Andini Nova
sekedar memberikan peringatan palsu