Rabu, 28 Desember 2011

Semester 095 (2011)



Ujian Akhir di semester lima, selamat datang!

Bismillaahirrahmaanirrahiim...

Sehat, Insya Allah

YA Allah, zat Yang Maha Pemurah.

Jikalau sakitku ini adalah pelebur dosaku maka Ampuni aku Ya Rabb.

Jikalau sakitku ini adalah teguran maka Kasihanilah aku.

Dayaku ada karena-Mu, sehatku karena-Mu

Ya Rabb, betapa lalainya aku selama ini,

Betapa susahnya aku dinasehati,

Maka Ingatkanlah ya Rabb.


Ya Rahman, YA Rabbi..,

Sehatkan badanku, jangan Kau cabut nikmat itu.

Ampuni...ampuni .....ampuni dosaku Rabb, ampuni dosaku yang makin menggunung



Allhumma ’afinii fi badani, Ya Allah berilah kesehatan pada badanku

Allahumma ’afinii fi sam’ii, Ya Allah berilah kesehatan pada pendengaranku

Allahumma ’afinii fi Bashorii, Ya Allah berilah kesehatan pada penglihatanku

Still

Kau ada disini







dan tetap ada.



Hanya saja, mungkin Allah sedang menguji persahabatan kita. Percayalah, ada rindu meski tidak terucapkan. Ada curahan hati meski tidak tersampaikan. Ada kepedulian meski tidak tertunjukkan. Suatu hari nanti, Allah akan menunjukkan jalan yang entah seberapa jauh dan berliku, tapi kita dan sahabat yang lain, pasti bersatu, dalam kebaikan, dan ridho-Nya. Dalam suatu hubungan, yang dibangun karena-Nya.

28/12/2011

28/12/2011 22:16

Tak ada jalan keluar,mungkin buntu.Tak bisa kembali, aku dan kau tak mengingat jalannya. Bukan karena ada jurang yang tak bisa dilewati, tapi memang keinginan untuk berhenti. Tak usah renungkan malam tak berbintang. Ia sudah lelah bersinar.

...karena hakikatnya, jodoh itu bukan ditangan manusia. Atas kasih sayang Allah kau dan dia bertemu dan atas limpahan kasih-Nya juga kau dan dia dipisahkan bersama hikmah yang tersembunyi.

Senin, 28 November 2011

Antara Ada dan Tiada

Barusan baca statusnya Riri di facebook http://riri-huriyah.blogspot.com/

"Yang sering berbicara dengan bahasa kesunyian dan kadang muncul dalam ketidakhadirannya."

Serius, kalimat ini keren. Setidaknya menurut saya.

Kamis, 24 November 2011

Kebiasaan

Kamu tahu?
Dulu, entah mengapa, sudah menjadi kebiasaanku setiap ada kesenangan, kesedihan, kegalauan, kebingungan, kesakitan, nama manusia pertama yang melintas di otakku adalah namamu.

Setelah itu aku akan langsung membuka contact handphone, mencari namamu, dan mengirim pesan singkat atau meneleponmu atau minta kau yang menelepon. Yeah, dengan memanfaatkan bonus pulsa gratisan yang dulu kita dapatkan, haha.

Atau aku langsung menemuimu setiap kali kakiku menginjakkan kampus. Atau langsung bercerita tanpa henti ketika kita sedang bersama. Atau langsung menghampirimu ke rumah. Atau menjemputmu yang saat itu kutakutkan sedang marah.

Kamu tahu? Tidak mudah menerima kenyataan bahwa kebiasaan "namamu muncul pertama" itu masih ada tapi aku tak bisa lagi melakukan hal-hal setelahnya.

Jumat, 11 November 2011

Gerimis Telah Pergi

~Andini Nova



Jika orang bilang bahwa cinta tidaklah harus memiliki, mungkin aku adalah salah satu yang memilih untuk setuju dengan anggapan itu. Anggapan yang tidak salah, tapi mungkin juga menjadi tidak sepenuhnya benar saat kau berhadapan dengan mereka yang menyebut dirinya sebagai pejuang cinta sejati –yah, orang-orang yang berjuang sampai titik darah penghabisan hingga bisa bersama dengan orang yang dicintai. Tapi bagiku, para pejuang cinta seperti mereka sekalipun pada akhirnya mungkin akan ikut menyetujui anggapan orang –bahwa cinta tidak harus memiliki− ketika mereka sadar bahwa raga, hati, dan jiwa orang yang mereka cintai akan bahagia justru saat mereka melepaskannya.

Pilihan terbaik mungkin dengan membuang persepsi penuh egoisme dan ambisi yang menganggap bahwa memiliki adalah keharusan mutlak atas semua hal yang dicintai. Memaksakan keinginan untuk memiliki hanya akan menyakiti banyak orang. Tidak, bahkan tidak hanya orang lain yang akan tersakiti, tapi juga diri sendiri yang lambat laun akan ikut hancur. Apa kau merasa bahagia saat bersama dengan orang yang kau cintai namun tiap hari ia menangis dan melakukan segala sesuatu bersamamu dengan wajah terpaksa? Atau kau sudah cukup puas asal bisa hidup bersamanya dan persetan dengan perasaannya? Jika kau memilih yang kedua, kukatakan kau sudah gila. Dan sayangnya aku tidak gila –setidaknya belum.

***

Kita berkenalan di bulan April tahun lalu, apakah kamu ingat?
Saat pertama kali mataku menangkap sosok wajahmu yang tersenyum dingin dalam foto. Di foto itu kamu mengenakan kaus oblong berwarna merah. Kaus yang tidak cukup berhasil menyembunyikan tubuh kurusmu.

Apakah kamu ingat? Saat kamu seenaknya mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan aneh yang mengawali perkenalan kita. Membuat keningku mengkerut tiga lapis karena bingung menghadapi kata-katamu yang terus saja melantur tetapi sukses membuatku terkekeh.

Kita tidak banyak berbicara kala itu. Bahkan mungkin lupa akan keberadaan diri masing-masing. Hanya tulisan-tulisan yang tiap harinya terpajang di beranda yang membuat kita menjadi sedikit tahu. Setidaknya sedikit, tentangku, tentangmu.

Dan hari demi hari terlewati tanpa ada percakapan yang berarti.

Matahari bersinar, dan bumi tetap berputar. Seperti biasanya.

Apakah kamu ingat tentang ini? Ketika sikap acuhmu perlahan mulai berkurang, dan kita menjadi teman. Saat hari-hariku mulai diisi dengan nasehat darimu yang meluncur untuk menabahkanku yang kala itu jatuh terjerembab sangat dalam.

Dan ketika tetesan langit mulai membasahi atap-atap rumahmu,
Kamu, dengan sombongnya mengatakan padaku bahwa di tempatmu hujan sedang turun dengan lebat, begitu bersemangat memamerkannya untuk membuatku iri.
Karena kamu, memang tahu betul bahwa aku terlalu menyukai hujan.

Lalu suasana menjadi menyenangkan tiap kali aku mendengar guyonanmu walau masih tercetus dengan aura "dingin".

Aku tentu masih ingat, saat kamu lelah menasehatiku untuk berhati-hati namun aku tetap saja membandel. Saat kamu panik dan kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa untukku yang saat itu lemah tak berdaya seorang diri di tengah kota yang mulai didatangi malam. Kota yang tidak kukenal. Kotamu, kota hujan itu.

Tapi lagi-lagi kamu, dari jauh berhasil menenangkanku yang kala itu sebenarnya menangis ketakutan tapi sok berlagak tegar di hadapanmu.

Hingga bumi terus berputar, tapi semua sudah tidak lagi sama.

...aku mulai mencintaimu.

Dengan cinta yang diam-diam tumbuh dalam kebisuan. Dengan cinta yang membuatku takut kalau-kalau suatu waktu aku akan melakukan kesalahan dan mulai keluar dari jalur yang sudah ditetapkan. Cinta yang kadang membuatku melompat kegirangan tapi juga kecewa tiap kali melihatmu bersikap kurang bijaksana dan terus saja mengeluh. Cinta yang membuatku bingung apakah memutuskan untuk menunggumu dengan sabar atau menghilangkan rasa ini secepat mungkin.

Namun di saat aku terjebak dalam kegalauan tak berujung, tiba-tiba...

muncul orang lain.

Di bawah guyuran hujan tengah malam aku melihat gerak-gerikmu. Gerak-gerik yang mungkin akan mengubah hidup kita −atau lebih tepatnya hidupku. Ya, hanya hidupku.

Akuilah, kamu mencintainya.


Setidaknya itu yang bisa kusimpulkan dari caramu membicarakannya, caramu bergurau dengannya, caramu mengucapkan namanya tanpa kesalahan sedikitpun.

Semua yang membuat lututku lemas hingga rasanya tak mampu menopang tubuhku untuk berdiri. Dadaku begitu sesak, seolah oksigen telah habis menguap ke angkasa.

Selama ini aku mencintaimu dalam diam. Dan mungkin, di antara kita berdua, memang hanya aku yang jatuh cinta.

Dan jika akhirnya kini aku harus mengubur dalam-dalam cinta yang bahkan belum sempat tersampaikan. Lalu dituntut untuk turut mendoakan kebahagiaanmu,

...akan kulakukan.

Bukankah seharusnya cinta memang seperti ini?

Mengikhlaskan orang yang kucintai untuk menjemput kebahagiaannya, meski dengan orang lain. Merelakanmu berjalan lebih dulu dan meninggalkanku yang masih sibuk tertatih membetulkan ikatan tali sepatu.

Tapi yang belum aku yakin, apakah kamu akan benar-benar bisa terhapus dari ingatanku? Setidaknya untuk saat ini, dalam waktu dekat ini. Setelah satu tahun aku mencintaimu dengan cinta yang tidak pernah kubiarkan menguap sedikitpun. Cinta yang pada akhirnya terpaksa menua setelah kupupuk, kutumbuhkan, dan kunikmati… sendirian.

Apakah kamu bisa terhapus? Selama aku masih bisa mengingat dengan jelas suara dan gaya bicaramu yang angkuh. Selama aku masih mengenali senyum dinginmu yang terpatri di foto itu. Selama pesan singkat darimu masih tersimpan dengan rapi di folder handphoneku. Selama nada tertawamu yang khas dan ledekanmu yang menyebalkan terus berputar-putar di otakku.

Selama semua hal itu masih ada dan masih bisa kurasakan, kamu masih tidak akan benar-benar bisa terhapus.

Biarlah. Toh ini hanya kisah dengan persentase realitas kurang dari setengah, cerita tanpa adegan pertemuan yang melankolis, dan hanya sekedar bangunan yang kudirikan sendiri dengan permisalan-permisalan dan harapan indah yang dirajut tapi belum sempat −dan tidak akan pernah terwujud.

Semuanya memang harus berhenti di garis ini.

Tepat setelah kau selesai mengikrarkan janji sehidup semati dengannya di depan penghulu. Disaksikan kedua orang tuamu yang menangis haru, adik perempuanmu yang tersenyum bangga karena melihat kakaknya yang selama ini dingin terhadap wanita akhirnya bisa menikah, sahabat-sahabatmu yang terlihat sedikit sebal karena setelah ini mereka tidak akan bisa lagi meledekmu dengan pertanyaan “kapan nikah?”. Dan tentu saja juga –olehku.

Aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi menunduk menatap tanah. Dan mulai memandang lurus punggungmu yang perlahan mulai menjauh. Hatiku dipenuhi rasa sakit yang seharusnya tidak perlu kurasakan jika saja aku tidak bermain-main terlalu jauh.

Dan saat tangisanku tidak juga mengering, kulihat sekali lagi wajahmu yang menoleh dan tersenyum dingin tanpa arti. Masih dengan senyum itu. Masih dengan kaus merah yang kamu kenakan saat pertama kali aku melihatmu.

Semuanya seakan masih sama. Hanya "seakan",

Karena kenyataannya semua hal telah berbeda. Kamu tidak lagi terlihat. Bahkan bayanganmu telah hilang ditelan ratusan tamu yang mengirimu. Menyadarkanku bahwa sekarang kisah ini telah selesai, bahkan sebelum sempat dimulai. Dan kini aku harus membiarkanmu berjalan beriringan dengan wanita itu, bukan denganku. Membiarkanmu menjalani kisah cinta bertabur bunga, serta menghabiskan sisa hidup bersamanya. Sekali lagi −bukan denganku. Ya benar. Membiarkanmu, merelakanmu, mengikhlaskanmu,

...lalu mendoakanmu yang pergi bersama gerimis.


Bukankah seharusnya cinta memang seperti ini?




Jumat, 04 November 2011

Ingatan Malam Hari

"Kalau gue bukan Putri yang pinter, yang rajin, yang punya banyak prestasi, yang jago di semua pelajaran, apa orang-orang masih mau temenan sama gue? lo masih mau jadi sahabat gue?"

"Hanya orang-orang yang emang punya alasan terselubung aja yang temenan karena mengharapkan keuntungan dan ninggalin pas temen itu udah ngga punya apa-apa lagi atau udah ngga jadi siapa-siapa lagi. Gue sampe kapanpun akan jadi sahabat lo, bukan karena lo punya apa, tapi karena lo Putri. Seperti apapun lo, gue sahabat lo."

***

"Kalau gue bukan Nona yang gaul lagi, kalau gue berubah jadi lebih agamis, kalau terkadang gue jadi sedikit ekstrim, kalo gue ngomong dan update sering banget bahas-bahas agama, kalau beberapa kali gue mengingatkan lo dengan cara yang mungkin tanpa gue sadari udah menyinggung lo, kalau cara berpakaian gue udah beda dari yang dulu, lo masih mau jadi sahabat gue?"

Kamis, 20 Oktober 2011

Senin, 17 Oktober 2011

Allah Penggenggam Hati

Adakah saat yang lebih membahagiakan dari ini?

Siang itu aku berniat menyampul plastik semua koleksi bukuku yang selama ini terpajang rapi di kamar. Jumlahnya lumayan banyak, ada buku islam, novel, and also komik!~

Di antara buku-buku itu, ada sebuah buku yang berjudul "Panduan Shalat Wajib dan Sunnah", covernya berwarna ungu putih dengan gambar seorang laki-laki yang "berpose" takbiratul ikhram. Saat itu, seorang tanteku sebut saja "Mawar", yang berusia tiga puluhan, ikut melihat-lihat tumpukan buku itu. Tibalah ketika ia menemukan buku panduan shalat tadi.

"Ni, Tante pinjem buku yang ini ya?", tanyanya kepadaku tiba-tiba.

"Oh iya ambil aja, Tante", aku kaget bukan main. I know that all this time, she has no shalat, no shaum, no tilawah.

Aku berdiam diri sejenak, menunggu tanteku mengatakan sesuatu. Ia terlihat serius membaca halaman demi halaman buku tersebut.

Ketika hidayah Rabbmu datang menyentuh sudut terdalam dalam dirimu...

"Kalau surat pendek maksudnya apa, Ni? Kan abis Allahu Akbar, terus baca apa?"

"Abis itu baca surat Al fatihah, Tan, yang Alhamdulillahirabbil 'alamin arrahmaanirrahiim itu lhoo... abis baca Al Fatihah, baca surat pendek misalnya Al Ikhlas yang Qulhuwallaahu ahad, atau yang Qul a'uudzubirabbinnas...", dalam hati aku bertakbir.

"Kalau yang ada shalawatnya itu apa?", tanyanya lagi.

"Kalo itu pas tahiyat, Tan. Abis sujud kedua di rakaat kedua, jangan diri dulu, tapi duduk tahiyat awal, baca Attahiyatul.... ada disitu kok Tan bacaannya lengkap :)", dalam hati aku bertakbir.

Dan ketika Rabbmu membuka mata, telinga, dan hatimu...

"Oh iya iya Tante inget. Iya nih Tante mau mulai belajar shalat lagi, kan kemarin-kemarin udah mulai ikut ngaji"

"Alhamdulillah, semangat Tan! Simpen aja bukunya, ntar kalau ada yang bingung, Insya Allah Andini bantu", dalam hati aku bertakbir.

"Iya, tante simpen dulu ya bukunya, doain aja", ujarnya sambil tersenyum.


Adakah saat yang lebih membahagiakan dari ini? dalam hati aku bertakbir.


***

Ya Rabb Yang Maha Penggenggam Hati, Maha Pemberi Hidayah, terima kasih :)

Minggu, 09 Oktober 2011

Simfoni di Kota Hujan



- 9 Oktober 2011 -

Apakah kau pernah melewati jalan ini?
Jalan sempit yang saat ini sedang kupijaki.

Apakah kau pernah singgah di tempat ini?
Tempat dengan pelataran terbuka yang kini tengah kududuki.



Apakah kau juga pernah bersandar pada pohon yang sedang kusandari ini?
Pohon besar yang berdiri tegak di pinggir jalan raya Sukahati.




Apakah kau juga pernah diguyur hujan dan berteduh di depan pertokoan ini?
Disini aku menggigil sembari memainkan gerimis yang mulai menari-nari.

Apakah kau pernah menginjakkan kaki disini?
Karena kulihat jejak-jejakmu tertinggal dan menyapaku dalam diam.



Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam, ketika hujan menemaniku dalam perjalanan pulang meninggalkan kotamu. Kota Hujan itu.

Selasa, 04 Oktober 2011

Setipe


You know? Life is a big lie


Jika ia berharap, maka harapanlah yang akan menyuarakan penderitaan itu lebih nyaring

Lalu?

Ya tidak ada lalu.

Rabu, 28 September 2011

Selasa, 27 September 2011

Kau Piih Yang Mana?

Ketika yang lain nyenyak dalam tidurnya, kau justru sedang terjaga dan khusu' dalam sujudmu

Ketika yang lain berkata begitu 'sibuk' dengan aktivitas duniawinya di pagi hari, kau masih saja sempat menemui-Nya di kala dhuha

Ketika yang lain percaya diri dengan ratusan buku ciptaan manusia yang telah dibacanya, kau malah tak ingin jauh dari Qur'an kecilmu

Ketika yang lain makan dan minum dengan nikmat, kau justru bahagia menikmati shaum sunnahmu

Ketika yang lain menghiraukan panggilan shalat itu, kau dengan sigap bergegas mengambil wudhu

Ketika yang lain bangga memamerkan lekuk tubuhnya, kau masih berdiri tegak dengan jilbab longgar serta kerudung lebarmu

Ketika yang lain gemar mengumbar curahan pribadinya pada khayalak, kau justru terisak haru dalam pengaduanmu pada Rabbmu

Ketika yang lain tenggelam dalam pembicaraan tak berguna lalu tertawa tiada henti, kau begitu anggun dalam diammu

Ketika yang lain merasa mentoring, halaqah, pengajian, sebagai suatu hal yang tidak penting, kau malah selalu bersemangat melangkahkan kaki menghadiri majelis ilmu

Ketika yang lain merasa sempurna dengan hubungan perpacarannya, kau masih setia dalam penantian akan kedatangan dia yang Allah pilihkan untukmu untuk membina cinta yang halal dan penuh ridho

Ketika yang lain begitu sering mengeluh, kau tiada henti mengucap syukur atau segala nikmat Allah yang tak terhitung

Ketika yang lain begitu mudah menghamburkan hartanya, kau tak pernah lupa bersedeqah

Ketika yang lain tidak peduli akan agamanya, kau bertakbir dalam dakwah dan jihadmu


Dan ketika yang lain terpanggang dalam api yang telah berubah warna dari merah menjadi putih lalu menjadi hitam legam karena begitu panasnya, mereka berteriak minta ampun atas dosa dan kelalaiannya, kau justru sedang tersenyum dalam Jannah-Nya.

**

Ya Rabb, jauhilah kami dari kesesatan, kekufuran, kefasiqan. Ya Rabb, peliharalah kami dalam kebaikan...

Senin, 19 September 2011

Under Pressure

Ya Allah...........................................................


Please hold me. Please hold me.

Sabtu, 10 September 2011

In Jannah

I feel so blessed when I think of you

And I ask Allah to bless all we do

You're my husband and my friend and my strength

And I pray we're together in Jannah

Now I find myself i feel so strong

YES, everything was changed when you came along

(Maher Zein)

Selasa, 06 September 2011

Ramalan cuaca mengatakan bahwa hari ini cerah. Ternyata itu salah. Karena saat kau berpaling meninggalkanku, hujan turun dengan deras di mataku.


Minggu, 04 September 2011

Selasa, 23 Agustus 2011

Karena Aku Percaya


Akankah kita bersama?

Menelusuri jalan setapak yang dipenuhi genangan

Ketika senja, ditemani gerimis


Romantis.


Meski entah kapan saatnya tiba

Ini hanya masalah waktu

Misteri yang indah mengalir bersama air dan terbang bersama angin.


Matahari, takkan mungkin kupaksa terbit

Pukul tiga, baru pukul tiga

Hari, masih betah dengan dini.


Tapi, akankah kau percaya itu terjadi suatu hari nanti?

Karena aku percaya.


Untuk sebuah dialog tanpa ruang dan tepi

Ragaku, masih disini

Menanti.


~Andini Nova

Aku Adalah Hujan


Aku adalah hujan

Yang indah membentuk pelangi saat kembali di ujung waktu

Aku adalah hujan

Dengan mendung yang setia mengiringi.

Aku adalah hujan

Turunku hanya dengan izin-Nya

Bersama dingin, bersama berkah.

Untuk semua penghuni bumi.


"Allahumma shayyiban naafi'an"

Ya Allah turunkanlah hujan yang bermanfaat.



~Andini Nova



Senin, 22 Agustus 2011

Hujan Bulan Desember



...aku selalu suka sehabis hujan di Bulan Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, dan Desember


~Andini Nova

Minggu, 21 Agustus 2011

Ramadhan Tahun Ini


Oleh : Andini Nova

Jika Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhirmu, apa yang kamu lakukan?

Seminggu yang lalu aku kehilangan seorang sahabat terbaikku, Rindu namanya. Seorang aktivis wanita yang solehah, akrab dengan anak-anak yatim dan fakir, dan giat mendakwahkan ajaran islam. Pembawaannya kalem dan lembut namun juga tegas. Kegigihannya berdakwah dan ketulusan hatinya membantu sesama benar-benar membuatku kagum padanya sekaligus malu kepada diriku sendiri.

Rindu, seorang wanita yang jarang bicara namun kadang pandai bergurai, dia adalah sahabat yang menyenangkan. Sahabat yang membuatku tersadar bahwa sudah terlalu banyak kelalaian yang aku lakukan. Namun, Allah memanggilnya pulang. Tepat seminggu sebelum Ramadhan tiba. Innalillahi wa inna illaihi raji’un.

***

Mati. Ya, semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Semua dari kita. Aku, kamu, dia, kita, mereka, tidak terkecuali. Ini hanya masalah waktu. Sungguh, kematian adalah sebuah piala bergilir.

Malam ini aku jadi teringat pembicaraanku dengannya dua minggu yang lalu. Ketika itu senja, kami duduk di bangku sebuah halte yang terletak di depan kampus. Menunggu bus untuk pulang.

“Hen, sebentar lagi Ramadhan, udah nyiapin apa aja?”, tanyanya lembut.

“Nyiapin? Emangnya apa yang harus disiapin, Rin?, aku malah bingung.

“Misalnya, kamu udah bikin schedule mau menghabiskan Ramadhan dimana aja? mau muhasabah dimana saat sepuluh malam terakhir? Punya targetan khatam berapa kali selama bulan Ramadhan?”

Aku terdiam sejenak. Entah berpikir entah melamun. Jujur, tak pernah terpikirkan olehku untuk mempersiapkan diri apalagi membuat daftar kegiatan yang harus dilakukan serta targetan yang ingin dicapai selama Ramadhan.

“Waduh, jujur ya, Rin. Aku ngga pernah kepikiran kesitu. Yang ada di benakku pas Ramadhan tiba ya paling-paling sahur bersama keluarga, punya stok makanan yang lebih, dan shalat tarawih bareng deh.”, aku sama sekali tidak berusaha menutupi apapun. Memang beginilah aku. Kalau kata orang-orang sih, ya begini ini yang namanya “berislam pada umumnya”. Semua ibadah yang dilakukan ya hanya yang bersifat umum, yang sering dilakukan kebanyakan orang.

Rindu tersenyum mendengar jawabanku. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke langit. Sore itu tidak terlalu ramai, hanya suara ribut lalu lalang kendaraan saja yang terdengar oleh telinga. Bus yang aku tunggu belum juga datang. Memang, bus jurusan Pulogadung-Kalideres cukup jarang lewatnya, bisa setengah jam sekali. Kakaknya Rindu –Kak Lutfi− yang biasa menjemput pun belum juga tiba. Aku diam, menunggu Rindu mengatakan sesuatu.

“Hen, kalau Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhir kita, apa akan kita biarkan berlalu sia-sia?“, ia berkata tanpa menoleh ke arahku, tetap memandang langit yang mulai berubah warna menjadi jingga.

“Mak-maksudnya, Rin?”

“Iya, maksudku, seandainya Allah memanggil kita kembali pada-Nya usai Ramadhan tahun ini berakhir, berarti ini adalah Ramadhan terakhir yang bisa kita lalui, kan? Kalau seperti itu bagaimana ya, Hen?”

“Aku…”, belum sempat aku meneruskan jawabanku tiba-tiba bus yang kutunggu muncul.

“Busnya udah datang, Hen. Naik, gih.”

“Eh, iya. Aku duluan ya, Rin. Assalamu’alaykum.”, ucapku sambil berlari kecil mengejar bus yang mulai merayap dan menjauh. “Bang, tunggu!”, sekilas kulihat Rindu yang tersenyum dan melambaikan tangannya kepadaku. “Wa’alaykumsalam. Hati-hati, Hen.”, teriaknya pelan.

Aku tidak pernah menyangka bahwa itu adalah terakhir kali aku melihatnya dalam keadaan baik-baik saja. Melihat senyumnya yang menenangkan, tatapan matanya yang teduh, serta mendengar nasihat yang ia sampaikan dengan lembut namun begitu menohok hati.

Karena tiga hari setelah pertemuan kami sore itu, tepatnya sebelas hari sebelum Ramadhan tahun ini menyapa, Rindu mengalami kecelakaan.

Saat itu ia sedang berboncengan motor dengan Kak Lutfi di bilangan Matraman. Sebuah bus metromini yang melaju cepat menabrak mereka tanpa ampun. Rindu terpelanting jauh, sedangkan Kak Lutfi terseret bersama motornya. Alhamdulillah saat itu keduanya masih hidup. Beberapa tulang Kak Lutfi patah sedangkan Rindu sendiri mengalami koma. Aku shock bukan main. Setiap hari aku mengunjungi Rindu di rumah sakit dan berdoa demi kesembuhannya. “Rindu, cepat sadar ya. Kan kita mau melewati Ramadhan bareng. Kan Rindu mau bantu Heni untuk persiapin diri supaya Ramadhan kali ini bisa maksimal. Kan…”, aku terisak. Rindu tetap diam, matanya tertutup rapat, bibirnya terkatup. Hening. Hanya suara patient monitor saja yang terdengar pelan di ruangan itu. Ruangan putih, dingin. Kedinginan yang menemani hingga tiga hari berikutnya berlalu begitu saja tanpa ada perubahan yang berarti. Hingga hari itu datang, hari ketika semua mata, termasuk mataku tak kuasa menahan liquid yang mengalir deras. Hari itu Jumat, ketika Allah memanggil Rindu pulang.

Sungguh, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati… (QS Al-Imran : 185)

Lamunanku buyar setelah suara ibuku yang nyaring terdengar memanggilku untuk segera datang ke ruang makan. Sebentar lagi maghrib, katanya. Aku pun bergegas menuju ruang makan sambil bergumam dalam hati, Rindu… semoga kamu tenang disana, kudoakan orang baik sepertimu mendapat tempat yang baik pula di sisi-Nya. Terima kasih kepada Allah yang telah mempertemukanku denganmu. Seorang sahabat yang mengingatkanku betapa di tiap Bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya yang telah berlalu begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia, i’tikaf yang terlewat, tilawah yang selalu saja tak sempat kulakukan, betapa sering aku tarawih sekilat mungkin agar bisa cepat-cepat tidur dengan alasan besok sahur, dan berapa banyak makanan enak masuk ke dalam mulut mungilku tanpa merasakan lapar dan haus yang sedang dialami para fakir di sekitar rumahku. Betapa banyak waktu yang kugunakan untuk tidur dengan pembenaran bahwa tidur saat puasa juga ibadah, tanpa ada sedikitpun kesadaran bahwa tilawah, dzikir, dan sholatnya orang puasa, tentulah lebih utama.

Ya Allah, jika Ramadhan kali ini adalah Ramadhan terakhirku, andai esok tak ada lagi Ramadhan untukku, andai Engkau juga hendak memanggilku pulang, setidaknya aku tak akan menjadikan Ramadhan kali ini berlalu sia-sia.

Ketika kita mulai berpikir bahwa mungkin saja Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhir kita, maka Ramadhan akan terasa berbeda. Malam-malamnya terasa begitu syahdu, takut rasanya berjauhan dengan Allah, indah rasanya berlama-lama di atas sajadah. Siang hari yang terik tidak terasa menumbuhkan emosi dan wajah cemberut karena kita sadar satu senyum manis akan bernilai ibadah. Perut yang kosong, tenggorokan yang kering, hawa nafsu yang terbelenggu menjadikan siang terasa begitu indah untuk dijalani, tak ada amarah, tak ada teriakan dan bentakan tak ada keinginan untuk menyakiti apalagi mendzalimi. Benar, begitu khusu’ karena kesadaran mungkin Ramadhan ini adalah yang terakhir.

Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroni)

Jika Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan terakhirmu, apa yang kamu lakukan?

***


Cerpen ini dimuat di Majalah EconoChannel Edisi 11 Tahun 2011

romantis

For The Rest of My Life

by Maher Zein

I praise Allah for sending me you my love
You found me home and sail with me
And I`m here with you
Now let me let you know
You`ve opened my heart
I was always thinking that love was wrong
But everything was changed when you came along
And there's a couple words I want to say

For the rest of my life
I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true
Till the end of my time
I`ll be loving you. loving you

For the rest of my life
Thru days and night
I`ll thank Allah for open my eyes
Now and forever I I`ll be there for you

I know that deep in my heart
I feel so blessed when I think of you
And I ask Allah to bless all we do
You`re my husband and my friend and my strength
And I pray we`re together eternally
Now I find myself so strong
Everything changed when you came along
And there's a couple word I want to say

For the rest of my life
I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true
Till the end of my time
I`ll be loving you. loving you
For the rest of my life
Thru days and night
I`ll thank Allah for open my eyes
Now and forever I I`ll be there for you

I know that deep in my heart now that you`re here
In front of me I strongly feel love
And I have no doubt
And I`m singing loud that I`ll love you eternally


I`ll thank Allah for open my eyes

You`re my husband and my friend and my strength...






Sabtu, 13 Agustus 2011

(Real) Menu Berbuka Puasa Hari Ini

Memang, manusia hanya bisa berencana, hasil akhirnya tetap di tangan Allah, dan pasti itulah yang terbaik. Rencana menu berbuka puasa yang dirancang sedemikian rupa, akhirnya meleseeeet dikit! Okay, memang menu utamanya tetap sama seperti yang direncanakan, namun makanan penutupnya (puding) ngga jadi dibikin lantaran baru inget kalau Hari Senin nanti ada buka puasa bersama bareng semua anggota EconoChannel, dan saya dapat jatah tugas membuat puding. Jadilah, bahan-bahannya untuk bikin puding Hari Senin aja deh, biar ngga beli lagi, gitu maksudnya.

Yaudah, akhirnya sekitar jam sepuluh pagi kemarin (kalau ngga salah), proses memasak pun dimulai. Menu pertama :

Ati Ampela Asam Manis

Bahan :
  • Ati ampela setengah kilogram
  • Air
  • minyak goreng
Bumbu :
  • Bawang merah 4 butir
  • Bawang putih 4 butir
  • Daun salam dua lembar
  • Sereh (cukup satu saja)
  • Jahe (potongan kecil saja)
  • Kunyit (potongan kecil)
  • Garam
  • Gula
  • Asam

Cara memasak :
  • Ati ampelanya dibersihkan dulu

  • kupas bawang merah, bawang putih, jahe, dan kunyit, lalu dicuci setelah itu dikeprek. keprek itu semacam ditumbuk tapi ngga sampai halus.

  • cuci daun salam dan sereh.
  • ambil sedikit asam, hancurkan bersama air hangat.


  • semua bahan dan bumbu tadi dimasukkan ke dalam penggorengan.
  • tambahkan garam dan gula secukupnya. tambahkan air putih kira-kira dua gelas kecil.
  • tutup penggorengannya, nyalakan kompor, masak hingga matang!
tara!



Kangkung Saus Tiram

Bahan :
  • Kangkung sekitar 5-6 ikat
  • Air
  • Minyak goreng
Bumbu :
  • Bawang merah 6 buah
  • Bawang putih 6 buah
  • Tomat 1
  • Cabai rawit (sesuai selera)
  • Garam
  • Gula
  • Saori saus tiram satu bungkus

Cara memasak :

  • Kangkungnya di-pesiang-in. Hmm, bahasa Indonesianya yang baik dan benar apa ya? pokoknya, kangkungnya itu dicabut/dipisahkan dari batang yang besar, dipilih daun kangkung yang masih muda. Youuu know what I mean lah... lalu cuci menggunakan air.
  • Kupas bawang merah, bawang putih, cuci, lalu iris
  • Cuci tomat dan cabai rawit, lalu iris.

  • Panaskan minyak goreng di penggorengan, lalu tumis bwang merah, bawang putih, aduk hingga tercium wanginya. Masukkan tomat dan cabai rawit, aduk.
  • Masukkan kangkungnya, aduk hingga setengah layu.
  • Masukkan garam dan gula secukupnya, dan saori saus tiram, dan sedikit air.
  • Aduk-aduk hingga rata, tutup penggorengan. Tunggu sebentar sekitar 3-5 menit. Angkat!



Oia, satu lagi. Rencananya mau bikin sirup buat buka puasa, tapi akhirnya bikin teh manis aja deh.


Nah, itulah menu berbuka puasa keluarga saya untuk hari Jumat, 12 Agustus 2011 yang lalu. Bagaimana dengan Anda?

Jumat, 12 Agustus 2011

(Planning) Menu Berbuka Hari Ini

Whuaah, tak terasa udah lumayan lama ngga ngeblog. Hmm kira-kira dua minggu ya? kemarin-kemarin lagi sok sibuk jadi jarang nengokin si ruamhujan ini. Online cuma update twitter sama facebook doang :DD

Sekarang mau posting apa yaaa? heem, hari ini (Jumat, 12 Agustus 2011), saya merencanakan beberapa menu untuk berbuka puasa sore nanti. Beberapa menu itu adalah :

Untuk menu pembuka : cukup sirup merk "Bangau" yang dicampur dengan es batu. Kolaknya beli aja, karena lumayan rempong buatnya dan juga ngga semua orang di rumah doyan sama kolak. di daerah sini, kolak sebungkusnya bisa dihargai antara 2500-3000 rupiah.

Untuk menu inti :
  1. Nasi putih (tentu saja)
  2. Tumis kangkung saus tiram (my favorite!)
  3. Ati ampela bumbu asam manis

Untuk menu penutup : Saya berencana membuat puding coklat yang dicampur dengan potongan stoberi dan disiram dengan fla. huaaah *ngga sabar

Nah untuk itu, setelah sepedaan nanti, sekitar jam 6 pagi (mungkin) saya akan langsung berangkuts ke pasar. Si Magenta terlihat sudah siap menemani saya dengan keranjangnya yang lumayan luas untuk menaruh belanjaan.

Oia, bahan-bahan yang diperlukan dan cara masak semua menu diatas saya posting nanti sore atau besok ya. Insya Allah :)

Sekarang udah mau imsak. Ayo berniat, selamat berpuasa!

Sabtu, 30 Juli 2011

Si Magenta

Sebenarnya sudah lama ingin memposting tentang ini, tapi berhubung jadwal lagi padat (gayaaa), jadinya baru sempat sekarang deh. Beberapa waktu yang lalu, tepatnya ketika milad saya yang ke-20 (Alhamdulillah), Mama dan Jidah saya (sebutan untuk nenek) menghadiahi saya sebuah sepeda. Sepeda wanita yang mempunyai keranjang di depannya (untuk naruh belanjaan saat ke pasar, katanya. Jadi ngga usah bawa motor untuk hemat bensin hoho! itu toh niat sebenarnya), warnanya kombinasi putih dan magenta, ada belnya juga yang jika ditekan berbunyi "kring kring".







Lucu kaan :)

oke, sejak satu bulan setengah yang lalu, sepeda ini resmi saya beri nama "Magenta".

Dan sudah satu bulan setengah pula Si Magenta menemaniku bersepeda pagi dan sore hari. What a great activity!

Jazakillah khairan katsiron Mama dan Jidahku sayang. Loveeee youuu so much! :*



~Andini Nova

Sore Hari Bareng Cici

Namanya Valencia, biasa dipanggil Cici. Dia adalah anaknya kakak sepupu saya yang tinggal di sebelah rumah. Cici berumur satu tahun lebih satu bulan, lagi lucu-lucunya banget deh. Pipinya itu loohhh Subhanallah, so chubby! ditambah kulitnya yang putih dan matanya yang sipit, sepertinya panggilan Cici emang cocok banget deh :)

Berikut foto-foto Cici yang saya ambil saat saya bermain dengannya di depan rumah, sore hari, beberapa waktu yang lalu...

Check this out..










Olah Raga Pagi Bersama Dua Bocah

Pagi-pagi emang paling enak olah raga. Biasanya, setiap pagi saya berkeliling di sepanjang jalan daan mogot II tepatnya di bantaran Kali Sekretaris (keren banget nama kalinya ya). Tapi, dikarenakan saya sedang malas naik sepeda (hohoho), maka pagi itu saya pun mengajak keponakan saya yang bernama Baim (3 tahun) dan keponakan saya satu lagi yang tinggal di depan rumah, Kevin (1 tahun 3 bulan) untuk olah raga ringan di depan rumah. Sekedar menghirup udara pagi dan menggerakkan badan saja. Kami bertiga mencoba untuk lomba lari. Hiaaaa, kesana kemari, ke depan ke belakang, kanan kiri, maju mundur. Pokoknya gerak deh! Ayoooo Baim dan Kevin laaariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii !



Baim Anak Pintar!


Pagi itu, setelah selesai memandikan keponakan kesayangan saya, Revandra Ibrahim Syinatra atau yang akrab disapa Baim, saya pun segera menggendongnya menuju ruang tengah. Tubuhnya terbalut oleh handuk kecil berwarna biru. "Antee.. dingin", celotehnya dalam gendonganku.

Ketika hendak memakaikannya baju, ia berujar, "Ante Ante Baim mau pake cendili aja..."

"Emang bisa?", ujarku.

"Bica..."

"Yaudah coba."

Beginilah aksi Baim ketika mencoba berpakaian dan "dandan" sendiri, hehehe.


Hia

Ehm




Heup


Chuu



Huray!


TARAAAA !

Baim Pintar ! ^.^




Jumat, 22 Juli 2011

Menunggukah Kau?


...menunggukah Kau?


~Andini Nova


Kamis, 14 Juli 2011

Si Penyuka Hujan itu bernama Nova

Tulisan ini adalah hasil karya salah seorang saudari saya yang bernama Riri Huriyah Albantani. Tulisan ini sedikit banyak berisikan tentang perjalanan persaudaraan kami yang meski baru seumur jagung (tapi mudah-mudahan selamanya ya, Ri) namun sudah membekas. Hehehe :)

Berikut linknya : http://riri-huriyah.blogspot.com/2011/07/si-penyuka-hujan-itu-namanya-nova.html

Inilah tulisan yang Riri buat untukku. Jazakillah, semoga semua prasangka baik menjadi benar adanya, dan yang buruk bisa diperbaiki :)





Kali ini aku mau posting tentang orang lain, eits, tapi ini bukan ghibah/gossip!

Siapa dia?



Nama lengkapnya Novayuandini Gemilang Putri.
Aku sih panggil dia nova kayaknya itu memang panggilan yang umum untuknya,
aku kenal dia di jejaring sosial yang sedang populer sekarang ini, facebook.
Awalnya tidak kenal sama sekali dengan dia, aku menemukan akun si Nova ini dari akun seorang teman (panggil saja si A), kemudian aku tertarik untuk menambahkannya sebagai teman di facebook.

Aku lihat di info profil, ternyata dia anak UNJ (Universitas Negeri jakarta) jurusan Management. Hmm, penilaian pertamaku muncul: cerdas.

Setelah kami (aku dan nova) berteman, dalam satu kesempatan kami mengobrol (chatting) di facebook untuk perkenalan, bisa ditebak, dia orangnya asik diajak ngobrol, ngga kaku dengan gaya obrolannya yang disisipi dengan humor juga, kayak aku.

Di tengah obrolan itu aku, ngasih dia sebuah pertanyaan. tapi di luar dugaanku, dia marah akibat pertanyaanku itu, memang ya lisan itu benar-benar harus dijaga, itu satu point lagi penilaian di awal perkenalan kami, mungkin dia orangnya sensitif.

kemudian aku minta maaf ke dia, dan karena enggak enak hati, aku membatalkan pertemanan dengan Novayuandini Gemilang di facebook, tak lama si Nova mengirimi aku pesan, katanya dia sudah memaafkan aku, eh pas sudah dimaafkan, aku add dia lagi.. *ribet yaa? hehe.

Aku semakin tertarik dengan teman yang satu ini, bukan karena dia teman si A, entah karena dasar apa yang membuatku tertarik.

Kemudian untuk mengenalinya lebih jauh lagi (karena kami belum pernah bertemu wajah), aku lihat-lihat album fotonya di facebooknya, subhanallah, ternyata dia pun seorang muslimah sejati yang menutupi auratnya dengan pakaian yang sudah di syariatkan (pakainya gamis dengan jilbab yang menutup sampai pergelangan tangan), satu lagi, dia termasuk orang yang suka bersyukur, karena dia sangat menyukai hujan, dilihat dari koleksi foto hujannya yang mendominasi albumnya .

Aku ngga salah pilih teman

Tidak hanya itu, Novayuandini ini pandai dalam hal menulis cerpen, artikel, novel, dsb. itu terbukti dari tulisan-tulisannya yang dia posting di Catatan Facebook, juga di Blognya aku kunjungi enak dibaca, memang benar, katanya dia ingin menjadi seorang Novelis, selain itu dia juga ngasih aku dorongan (baca: motivasi) supaya aku bisa menulis, ya, sekarang aku sadar, ternyata aku (sedikit) suka menulis. :D

Dari sebagian Catatannya dan perteman kami sampai saat ini, aku dapat menilai lagi, dia seorang wanita penyuka hujan yang tegar, penyabar, taat, rajin, dan selalu mencari sesuatu yang benar, kemudian membagi ilmu yang dimilikinya kepada orang lain, tapi jika ada sisi kepedihan/sakit yang dia alami, dia tidak membaginya kepada siapapun.

Bersyukurlah kalian, jika mempunyai teman seperti Nova.

Gemilang, yaps, aku pikir nama itu memang pantas disandangnya setelah kata Novayuandini.

Sampai tulisan ini selesai aku buat, aku berharap bisa menjaga pertemananku dengan Nova, tidak hanya sebatas teman Facebook atau dunia maya, suatu saat kita pasti bertemu, Nov!