Sabtu, 25 Desember 2010

Perjalanan Panjang Kereta Kehidupan


Di stasiun ini kita menunggu selama sembilan bulan.
Loket-loket terbuka, dan tiket sudah di tangan.
Sampai akhirnya kereta itu datang, lalu kita berbondong naik.
Dan barulah perjalanan ini dimulai.

Ini adalah rute terpanjang.
Jauh dari kemulusan dan kemudahan.
Medan yang berkelok dihiasi bukit-bukit terjal.
Jelas ini bukan cerita di sinetron yang terlihat lucu dan gampangan.
Kedongkolan ibu-ibu dengan wajah penuh kerutan.
Ini adalah perjalanan nyata, perjalanan yang sangat panjang.

Berapa tahun terlewati dengan samar.
Semuanya tidak sesederhana yang kita pikirkan.
Seperti rel kereta yang tak putus-putus, perjalanan ini pun akan terus bergulir.
Tak mengenal kata berhenti sebelum sampai di garis finish.
Walau memang kereta ini akan renta hingga harus berjalan dengan tertatih-tatih.

Batu-batu kerikil yang terhampar,
Terlihat bagai kepingan emas yang berharga di mata yang berminus tiga.
Menggiurkan dan menggoda.
Tapi betapapun kemilaunya, ia hanya mampu menyilaukan mereka yang berkacamata,
Para wong mbojeh yang haus kenikmatan dunia.
Tapi tidak untuk kita.
Karena kita yang sadar bahwa perjalanan masih panjang,
Percaya bahwa stasiun terakhir menawarkan lebih dari sekedar emas dan permata.

Pemandangan di balik jendela menyajikan laut yang tak berujung.
Kadang tenang seakan bersahabat,
tapi tak jarang ombak menghantam dan menggulung kita dalam kematian yang tragis.
Karang tajam siap menusuk.
Dimana setiap sisinya tertempel nafsu setan.
Air, pasir, dan garam.
Sekali lagi membisikkan pada kita bahwa perjalanan ini masih panjang.

Dan perjalanan ini memang masih panjang.
Dimana anak iblis menjajakan darah dengan harga murah.
Dalam daftar menu tertera jus nanah lengkap dengan kebusukannya.
Tangan api mereka menenteng roti-roti dilapisi selai dosa.
Dibungkus plastik seolah nikmat.
Beberapa dari penumpang berkacamata membeli dan menelan.
Sang ayah -iblis- tertawa.
Sigap memberi komando agar anak-anaknya segera mendorong para pembeli itu keluar dari kereta.
Ya, mereka gagal.
Berhenti lebih dulu bahkan sebelum perjalanan ini selesai.
Penghuni kereta ini makin berkurang.
Satu-persatu terjun digandeng setan.

Dan selama kereta ini masih berjalan,
Ayah dan anak itu tidak akan berhenti berdagang.
Namun kita yang berpikir dan mengetahui bahwa perjalanan masih sangat panjang,
Dari awal telah dan selalu membawa bekal.
Bekal yang dulu kita ikrarkan,
Bekal yang tak akan pernah habis, walau terkadang memang mengalami fluktuasi.
Bekal yang tak bisa digadai atau dijual,
Bekal yang Ia ciptakan dengan nama "Iman".


~Andini Nova

Who knows?

Gw akan tetap begini, walaupun..

by Novayuandini Gemilang on Tuesday, October 27, 2009 at 1:40am on Facebook

Gw akan tetap begini,
seorang cewe yang slalu pake celana jeans dipadanin kaos oblong, sepatu keats,
Walaupun orang-orang bilang gw ng modis, NG FEMINIM.

Gw akan tetap begini,
Kemana-mana naek motor dengan helm gede, masker hitam, dan jaket gombrong,
Walaupun orang-orang bilang gw lebih kelihatan macho daripada cantik.

Gw akan tetap amat sangat bersyukur menjadi anak dari nyokap gw yang single parent, walaupun hanya seorang karyawati biasa dengan gaji kurang dari 2juta/bulan. Tapi dengan hebatnya dia bisa membesarkan sendiri EMPAT orang anaknya, TANPA CAMPUR TANGAN SEORANG SUAMI.

Dan gw akan tetap bangga menjadi bagian dari keluarga gw walaupun orang-orang bilang,
"Bokap lo mana? kaga diakuin lo ya?"

Gw akan tetap begini,
Anak terakhir dari empat bersaudara, dimana tiga abang gw ng kesampaian untuk kuliah karena keterbatasan ekonomi. Gw tetap bangga dengan mereka yang mendukung gw untuk meneruskan keinginan mereka yang ng bisa tercapai.
Walaupun orang-orang bilang,
"Hah? Sodara-sodara lo ng ada yang kuliah? ng ada yang punya gelar?

Gw akan tetap begini,
Seorang cewe yang bangga dengan pekerjaan sampingan ibunya yang menjual pulsa, kakaknya yang menjual gorengan dan es, serta saudaranya yang buka warung kelontong,
Walaupun org2 blg,
"Profesi Keluarga lo ng ada yang lebih elit dikit?"

Gw akan tetap begini,
Cewek yang cinta dengan rumahnya yang sederhana namun nyaman, bukan di komplek tapi di kampung, yang kadang berhawa panas karena tidak ber-AC, yang hanya terbuat dari triplek, yang tidak mempunyai pagar depan,
Dan gw akan tetap mensyukuri semua nikmat ini, walaupun orang-orang bilang,
"Ini rumah lo?" (bertanya dengan nada merendahkan)

Dan,
Sampai kapanpun gw akan tetap begini,
Cewe yang dulunya ng lebih dari seorang pendosa. Yang sekarang telah tertampar dengan teguran Allah, yang membuat gw tersadar,

gw akan tetap begini...
Walaupun ngga jarang orang yang deket sm gw, bahkan sahabat gw sendiri pergi menjauh karena merasa takut dengan perubahan hidup gw.

Gw jg akan terus begini,
Seorang cewe yang akan terus bangga dengan dirinya, walaupun selalu dibilang kurus kurang gizi, padahal orang lain yang berkata seperti itu ng tau alasan kenapa gw kurus dan ng bisa gemuk.

Dan gw akan tetap begini,
Tetap dengan pendirian gw,
tetap dengan rasa syukur gw, tetap dengan rasa bangga gw, walau apapun penilaian orang tentang gw.
Penilaian dari manusia mungkin penting, tapi jauh lebih penting penilaian Allah terhadap gw.
I trust my God, Allah..

Terima kasih untuk orang-orang yang telah mengajarkan gw ntuk menjadi seorang yang pandai bersyukur :)
***

catatan : note di atas adalah salah satu note di facebook saya. Dibuat lebih dari dua tahun yang lalu, saat kefleksibelan gender masih merajai diri saya.. hari ini lagi iseng-iseng baca notes sendiri di facebook, lalu ditemukanlah note ini. waaahhh, jadi teringat masa lalu, ya diri saya di masa lalu. saat itu boro-boro kepikiran untuk berhijab, masih di awang-awang. tomboynya bukan main. tapi pas ditulisnya notes ini, saya memang sudah rajin solat lima waktu (udah umur 18 tapi baru rajin solat :p )

sekarang alhamdulillah, saya sudah bukan transgender lagi *loh, wanita menyerupai laki-laki maksudnya hahaa. sebulan setelah note ini dibuat, tepatnya 23 November 2009, telah saya putuskan untuk berhijab. hanya dalam rentang waktu satu bulan! Subhanallah, waw! saya juga kaget. Benar-benar drastis penampilan saya dulu dan sekarang! aaaa sayapun salut sama perubhan saya ini. dulu mana terpikir, pake rok aja ogah, kecuali rok sekolah hehe. Tapi perubahan penampilah ini tentu harus diiringi dengan sedikit demi sedikit meninggalkan kejahiliyahan. islam itu kaffah kan? manusia tidak bisa memilah-milah mana urusan dunia dan mana yang berkaitan dengan akhirat. atau mana yang persoalan ibadah, dan mana yang bukan. setiap sikap dan lakunya harus sesuai dengan syariat islam, apapun urusannya :)

sampai sekarang saya masih dan akan terus dalam proses memperbaiki diri. yaaah jangan hanya display yang dirubah, tapi juga hati dan sikap. yakaann? semoga tetap istiqomah di jalanNya.

Status facebook saya hari ini, Kamis 9 Agustus 2012



Rencana Allah memang misterius, dan INDAH :D













Alhamdulillah, mendapat nikmat hidayah yang luar biasa.

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.s. an-Nahl: 18).

‘Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan : ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’. (Q.S Ibrahim (7))


~Andini Nova

Jumat, 24 Desember 2010

tulisan ini..

Waktu bergerak sangat cepat dan tanpa pandang bulu, tanpa mau menunggu dan terus berjalan konstan. Kadang merasa tertinggal sangat jauh. Tanpa kamu sadari, tiba-tiba kamu telah menjadi seperti sekarang ini. Banyak kenangan teringat dan banyak kenangan terlupakan juga. Peristiwa demi peristiwa datang dan pergi, ada yang memilukan tapi tidak sedikit pula yang membahagiakan. Tapi ingatlah, itu semua hanyalah peristiwa yang menjadi bagian dalam hidupmu.

Kini tak terasa waktu telah membawamu menuju kedewasaan,
tuk memilih pintu-pintu kehidupan yang akan tentukan ornamen detik ini dan esok.
Untukmu aku titipkan doa, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmatNya kepadamu, selalu memberimu nikmat sehat, dan memudahkan semua usahamu menuju kesuksesan di jalanNya.


~Andini Nova
note : tulisan ini dibuat sekitar enam bulan yang lalu saat seorang teman berulang tahun.

Subtitution

Coba buka mata anda lebar-lebar,
Dan lihat dengan lebih jelas lagi.
Bagaimana? sudah?
Yap, "Saya Nova, sekali lagi saya ulangi, NOVA"
"bukan DIA atau DIA."
Salah besar jika anda melihat saya demi mengalihkan pandangan anda dari mereka.


"Hey sorry, i'm not a subtitution person."

~Andini Nova

22 Desember 2010




there was no message from you on yesterday..

~Andini Nova

Minggu, 19 Desember 2010

Selamat Datang, Ukhti!

Bagaimana kalau kita akui saja bahwa hubungan kita kacau. Dan kita tetap mempertahankannya. Kita tahu kalau kita sering bertengkar. Tapi kita tidak ingin hidup tanpa diri kita masing-masing. Dengan begitu kita bisa hidup bersama. Menderita, tapi bahagia karena tidak terpisah.

Entah sudah berapa kali ia memperlakukanku seakan aku ini hotel yang bebas ia singgahi tiap ia ingin lalu ia tinggalkan saat sudah bosan. 3 tahun pernikahan kami berjalan seperti ini, tanpa perubahan. Kadang aku merasa jengah, letih karena terus tersakiti. Sebagai istri, harga diriku benar-benar diinjak-olehnya. Nyaris tanpa sisa. Tapi di lain sisi memang harus kuakui, aku menikmati perlakuannya.

Ananda Gibran. Lelaki itulah yang menjadi suamiku. Masih teringat jelas wajahnya yang sumringah saat melafalkan ijab qabul. Membuat namaku berganti jadi Nyonya Gibran. mengisi hari-hariku, hinggap di setiap rutinitas hidupku, dan dengan perlahan tapi pasti mencengkram hatiku.

Sesuai dengan nama belakang yang diberikan orang tuanya, Gibran, yang diambil dari nama penulis terkenal Kahlil Gibran. Nanda-begitu ia dipanggil-memang seorang lelaki yang puitis. Ia pandai menyulap kata demi kata menjadi puisi indah yang bisa membuat setiap orang yang membacanya menjadi terenyuh, termasuk diriku. Setiap ucapannya selalu saja terdengar indah, walau seringkali jauh dari realitas, bahkan mungkin terselubung niat busuk.

Seperti hari ini, ketika tadi di jam istirahat makan siang, aku memergokinya tengah mengobrol sangat akrab dengan Dannisha di kantin kantor, sambil sesekali mereka berpegangan tangan dan saling merangkul. Bukan main kedongkolanku. Langsung saja kuhampiri mereka dengan dengan membawa sejuta api cemburu yang berkobar.

"Nanda!".

Dua terdakwa perselingkuhan itu terlihat kaget dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Nanda menatap ke arahku dengan wajah penuh kepanikan. Ia langsung bangkit dan memegang tanganku, tapi kutepis. "Kei, jangan mikir macem-macem. Ini ngga seperti yang kamu lihat".

"Bulshit!"

Segera saja kutinggalkan tempat itu, muak rasanya jika harus lama-lama melihat wajah busuk mereka. Kudengar derap langkah kaki di belakangku, sepertinya Nanda mengikutiku. Kupercepat langkahku, namun tiba-tiba ia menarik tanganku dengan kasar. Kuputar tubuhku menghadapnya, "Lepas!" akupun langsung kembali ke ruang kerjaku, meninggalkannya yang terdiam penuh kekesalan. Hah, tidak salah?! Harusnya aku yang kesal, Bung!

Saat jam pulang tiba, Nanda menghampiriku dan menyeretku menuju parkiran. Entah mengapa aku tidak memberontak. Dan akhirnya, sperti biasa, kami pulang bersama. Seakan tidak ada sesuatu yang salah.

Sesampainya di rumah, Nanda berusaha menjelaskan kejadian tadi siang, dan meminta maaf seolah-olah ia merasa bersalah. Ya, seolah-olah. Aku sudah hapal benar lakunya. Permintaan maafnya tidak menyiratkan apa-apa. Hanya sekedar ritual yang ia lakukan setiap habis melakukan kesalahan. Dan setelah itu? Nothing!

Aku mengacuhkannya, rasanya benar-benar bosan terus terjepit dalam situasi basi. Akur, bertengkar, menyakiti, tersakiti, minta maaf, memaafkan, akur lagi, terus berulang seperti itu. Tidak ada dari kami yang berubah. Entahlah, aku rasa aku sudah cukup menjadi istri yang baik. Memang dasar dia saja yang brengsek!

Dari awal memang pernikahan ini adalah kesalahan. Kami yang tadinya merupakan sepasang kekasih yang dimabuk asmara, karena buta agama, jadilah kebablasan, dan aku hamil! Mau tak mau pernikahan bodoh ini harus terjadi. Aku akui aku memang mencintainya, tapi menikah? Oh tak pernah aku bayangkan akan melepas masa lajangku sebegini cepat. Di umurku yang baru menginjak 18 tahun! Tepat sebulan sebelum pengumuman kelulusan SMA. Untung saja tidak ada orang luar yang mengetahui kehamilanku. Akhirnya aku lulus dengan mulus dan tanpa menyandang predikat siswi SMA yang hamil di luar nikah.

bersambung

~Andini Nova

Ya Ishbir..

Manusia adalah kaum victorian yang di luar terlihat acuh di dalam merasa butuh.

Perlahan tapi pasti, hati ini menjadi ringkih.
Tidak siap mengatakan, karena memang waktunya pun belum datang.
Tak kuat untuk menyimpan, tapi mencoba bertahan dengan iman dan sabar.

Tidak ada yang datang hanya dengan memikirkannya kan?
Namun bagiku, cukuplah mengharapkanmu dalam diam.
Walau kecenderungan terkadang menimbulkan bahaya, tapi kita berdoa tidak untuk kita.

Menahan.
Mulut ini diam bukan lantaran bisu,
Hanya ada beberapa hal yang memang tidak harus disampaikan.

Aku tidak pandai mengatur kata-kata yang berantakan ini, seberantakan rasa ini.
Biarlah perasaan ini tetap menjadi misteri yang kita nikmati sendiri.
Belajar menjaganya agar tetap sejalan dengan syara.

Walau tak ada kata yang terucap untuk memberi arti,
Pun kita memang sudah sama-sama mengerti.
Karena hanya itu yang kita ketahui di bumi ini dan hanya itu yang kita perlu tahu.

Jika sudah begini,
Tentu kamu dan aku tidak ada yang perlu lari atau bersembunyi.
Kita sama-sama sedang menunggu dengan sabar, bergelut dalam euforia penantian.

Dan untuk sekarang, mari masing-masing berjuang.
Untuk diri kita, keluarga kita, agama kita, hidup kita.
Hingga jika Allah memang mempertemukan kita lagi nanti,
Kita telah siap untuk mengatakan, "Aku bersedia."

~Andini Nova

SE. MA. NGAT. SEMANGAT!

Menurut Malthus, semakin sedikit yang kita miliki semakin sedikit yang kita harapkan. Tapi sepertinya jarang ada orang yang ingin memiliki sesuatu hanya sedikit. Jika makan saja inginnya banyak, punya harta maunya banyak, punya anak kalau bisa juga banyak (sesuai mitos banyak anak banyak rejeki, hihi). Lagipula, pernyataan Maltus bertentangan dengan yang diungkapkan oleh Disraeli, bahwa hidup ini terlalu singkat untuk berpikir kecil dan berbuat hal yang kecil-kecil. Maka dari itu, berpikir besarlah! Tp jgn lupa juga, bersyukurlah!

Aku pernah mendengar sebuah kalimat yang bunyinya seperti ini "Simple life, simple problem", tapi entah mengapa batin tidak setuju dengan kalimat itu. (kenapa ya?) karena mungkin bagiku orang-orang yang selalu ingin ke-simple-an dalam setiap hal di kehidupannya, adalah orang yang "culun" (meminjam kosakata dari seorang teman, haha). Life is never flat, (artinya? Jgn tidur malem2), banyak tantangan besar yang menunggu kita di luar sana. Jangan terkungkung terlalu lama dalam zona nyaman yang tanpa disadari telah membuat diri kita menjadi pribadi yang manja.

Apa asiknya jadi orang "biasa-biasa saja?". Hidup biasa-biasa saja, nilai biasa-biasa saja, otak biasa-biasa saja, ibadah biasa-biasa saja. Apalagi jadi pribadi yang "asal", asal kuliah, asal lulus, asal solat, dan semua asal-asal lainnya. Kalau bisa jadi luar biasa, kenapa masih suka sama yang biasa? (apalagi sama si asal) ckck.

Lebih baik menggunakan otak kita untuk berpikir dan membuat gagasan daripada menjadikannya sebagai gudang fakta (Albert Enstein)

Sebenarnya saya juga masih sulit untuk mengimplementasikan hal-hal yang saya tulis. Tapi, so what? Yang sulit justru yang menantang untuk diraih. Sekarang ini saya masih dalam proses pencapaian semuanya. Everything's possible, right? Semua mungkin dengan seizin-Nya :) , asal kita mau berusaha dan berdoa. Hasil mempunyai korelasi positif dengan usaha yang kita lakukan. Jika usaha kita maksimal, ditambah dengan doa dan tawakal kepada Allah, Insya Allah hasil yang diperoleh juga sebanding.

Menurut Terry Wagon dan Ken Blanchard, dunia pengetahuan kita dibagi ke dalam 3 irisan pai. Irisan pertama dan terkecil, kita tahu apa yang kita tahu. Irisan kedua yg sedikit lebih besar dari irisan pertama, kita tahu apa yang kita tidak tahu. Irisan ketiga yang paling besar, kita tidak tahu apa yang kita tidak tahu.Kalau dianalisis, sepertinya aku masuk dalam kategori pai irisan kedua. Iya ngga sih? Iya kayanya. Banyak hal yang belum aku tahu, untungnya aku tahu kalau aku tidak tahu, jadi aku terus mencari tahu. Semakin banyak pertanyaan yang muncul darimu, menandakan semakin sering kamu berpikir. Mungkin untuk saat ini aku termasuk orang yang tidak tahu apa-apa, yah bisa dibilang tidak pintar (kalau tidak mau disebut bodoh), hmm tapi mungkin lebih tepatnya "aku belum pintar", aku masih dalam proses menuju ke sana. Jadi mohon bimbingannya bagi teman-teman semua yang mungkin lebih pintar dari aku.

Sepertinya tulisanku ini sudah mulai ngelantur. Ah biarkanlah. Mari berusaha lebih keras untuk hidup kita tanpa lupa bersyukur atas semua nikmatNya.

SE MA NGAT, SEMANGAT! hamasah!!! :D

~Andini Nova

Telah Lari

bahagia?
apa itu bahagia?

bagaimana rasanya bahagia?
memangnya kamu seperti apa saat bahagia?
memangnya dia seperti apa saat bahagia?
memangnya kita seperti apa saat bahagia?
memangnya benar kalian akan bahagia?

tapi sekarang? impian itu justru menghilang kan?
atau bersembunyi? atau bahkan lari membawa ketakutannya?
ketakutan bahwa kamu, dia, kita tidak akan pernah berhasil mencapainya.

lalu jika ia menghilang. mungkin saja ia akan berada di sebuah bintang
Tapi, ah!
begitu banyak bintang di angkasa
harus kemana kamu cari? mencari ke bintang? bintang yang mana?
jangan bercanda!

sudahlah, lebih baik kamu anggap saja semuanya terlalu gelap, jadi tidak bisa melihat apa-apa
atau anggap sekitarmu teramat berisik, sehingga tidak mampu mendengar apapun
pejamkan matamu, dan berlakonlah seakan tuli.

Ya, memang hanya sebatas impian kan?
ia impian. hanya impian
Dan akuilah, bahwa kamu telah kehilangan jejaknya
bahkan bayangannya pun tak sanggup kamu temukan...

~Andini Nova

Jealous?

Ya.
Aku ingin menyangkalnya.
Tapi kamu benar.
Aku kaget melihat dia seperti itu.
Aku marah karena melihat ada seseorang di sampingnya.
Setelah melihat itu aku merasa sedih.
Karena sedih, aku kalah.

Taek Yong dalam serial Korea He's Beautiful

I Have a Dream..

Aku punya sebuah mimpi, bahwa aku bisa terus istiqomah di jalanNya. Apapun yg terjadi, apapun yang orang lain katakan tentangku, tidak akan pernah cukup mampu untuk membuatku berpaling. Bukankah Allah Maha Mengetahui?

Aku punya sebuah mimpi, bahwa suatu hari nanti aku akan menjadi seorang novelis terkenal. Alangkah senangnya melihat orang-orang menikmati karyaku.

Aku punya sebuah mimpi, bahwa suatu hari aku akan menjadi seorang Hj yang mabrur. Dan tentu saja aku tidak ingin sendiri, aku ingin mama dan jidahku merasakan hal yang sama, amin.

Aku punya sebuah mimpi. Bahwa suatu hari nanti aku akan menjadi seorang istri yang solihah bagi suamiku, ibu yang baik bagi anak-anakku, yang mencintai mereka dengan sepenuh hatiku, dan bersama-sama menuju cintaNya.

Aku punya sebuah mimpi, bahwa suatu hari nanti aku pasti sehat, aku bisa kesana-kemari tanpa beban, berlari tanpa ketakutan akan lelah, dan tidur tanpa kecemasan.

Aku punya sebuah niat, bahwa mulai hari ini aku akan lebih menyayangi diriku sendiri, tidak merusaknya, tidak menyiakannya, agar semua mimpiku itu bisa kuraih suatu hari nanti.

Banyak aforisme yang sebenarnya bertentangan dengan nurani, tapi aku lelah mengeluh, dan memang tidak boleh mengeluh. Hanya orang-orang lemah yang selalu punya alasan mengapa dirinya tidak pernah maju.

Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jka kamu mengingkari nikmatKu, maka pasti azabku sangat berat" (QS Ibrahim : 7)

Hamasah! \O.O/

~Andini Nova

On the way to Dufan

antrian
Hari ini aku ke Dufan! Aaaaa setelah sekian lama, tepatnya 19 tahun menunggu, akhirnya hari ini datang juga. Hahaha. Aku pergi dengan teman-teman sekelas di kampus. Rencananya mau berangkat bareng, tapi karena satu dan lain hal, akhirnya kami berangkat sendiri-sendiri dan sepakat bertemu di halte busway Ancol jam 10.

Dari rumah aku berangkat pukul 9, ya lewat-lewat dikitlah. Itu juga setelah melewati berbagai adegan ribet. Lupa inilah, itulah. Belum ini belum itu, ketinggalan apalah, aaaa riweuh. Lalu setelah memohon doa restu dari keluarga dan mendengarkan wejangan-wejangan (berasa mau nikah), akhirnya kulangkahkan kaki menuju halte busway Indosiar. Bismillahitawakaltu alallah walahaula walakuwwata illa billaah.

Dari indosiar, aku transit di harmoni dan menuju pintu pemberangkatan arah Ancol. Wuidihh, panjang banget antriannya. Dengan sabar diri ini menanti datangnya bus Transjakarta. Lima menit, sepuluh menit, 15 menit, waduh ngga dateng-dateng juga. Antrian sudah makin panjang. Padat!

Iseng, sambil mendengarkan musik melalui headset, kuamati situasi sekitar. Hmm, antrian didominasi keluarga kecil, ibu bapak yang membawa anaknya, pasangan muda mudi, dan remaja remaji dengan dandanan gahoel, hehe. Pandanganku terhenti pada sepasang kekasih yang sepertinya tengah dimabuk asmara. Sudah bisa ditebak apa yang biasanya dilakukan sepasang kekasih. Yap! Bermesraan. Dengan tanpa malu-malu mereka berpegangan tangan dan sesekali saling merangkul, memeluk, dan Si lelaki mencium si wanita. Idihh! Memang sih, cuma kecupan di kepala (cuma?), tapi tetap saja kan tindakan seperti itu tidak layak dilakukan oleh mereka yang belum menikah (ehem, jadi inget dulu hmmm), apalagi di tempat umum! Wah parah ini! Gemes deh eike lihatnya. Kualihkan pandangan dari mereka, dan kulihat dua anak kecil sedang asyik menonton adegan 17+ itu. Wajah mereka terlihat bingung dan malu-malu, lalu ketawa-ketiwi sambil saling berbisik.

Wah bahaya nih, pikirku. Kalau mereka terus dibiarkan melihat kaya beginian, bisa-bisa nanti mereka mencontoh. ngga boleh dibiarin ini mah. Wah parah, ih parah, aaa parah! (heboh sendiri). Ya sudah, akhirnya kuputuskan untuk menegur pasangan itu dengan sopan. Digarisbawahi ya, "dengan sopan". Pakai senyum pula :)

"Emm.. Mas, maaf, diliatin anak kecil tuh. Tolong jangan bermesraan disini. Ini tempat umum. Maaf ya mas."

Pasangan itu langsung melihat ke arahku dengan pandangan tidak senang. Daaaan, si lelaki menjawab,
"Apa deh lo. Jangan ngusik urusan orang dong. Hak gue mau ngapain kek."

Deg! Wah, dibilangin baik-baik malah marah. Sabar, tenang va tenang. Jangan kebawa emosi. "Iya, saya tahu itu emang hak anda mau ngapain. Tapi ini tempat umum loh, tolong jangan beradegan sevulgar itu."

"Terus, urusan lo apa? Sok alim banget", wajahnya makin sewot.

Aih aih ni orang ya. Untung cowo! Jadi saya ng berani mukul (takut dibalesnya lebih parah, haha). Ngga lah becanda, ngga boleh ada adegan kekerasan, ini bukan film action. Ok, tarik nafaaas. Slow...

"Gini loh Mas. Coba lihat di sekeliling anda, banyak anak kecil. Kalian tidak sepantasnya beradegan seperti itu disini. Gimana kalau anak kecil itu mencontoh perbuatan kalian? Kalian mau tanggung jawab?" Tahan diri sedikit selama di tempat umum bisa kan? Punya malu sedikit bisa kan?"
Oops! Ok kuakui kalimat terakhirku agak kejam. Afwaaan, hehe.

Dan mereka langsung terdiam. Si lelaki langsung melepaskan pelukannya, dan si wanita menunduk seketika, entah apa yang dia lihat di bawah. Orang-orang yang sedang mengantri juga kompak langsung pada kasak kusuk. Hmm cuek ajalah. Tapi kulihat dari air mukanya para orang tua yang membawa anak, aku rasa mereka setuju dengan tindakanku. Paling-paling yang tidak setuju ya para pasangan yang lain, dag dig dug waswas akan ditegur juga hehehe.

Ah yasudahlah. Bis belum juga datang. Kukencangkan lagi headset, lanjut mendengarkan lagu yang diputar oleh Nokia E51 kesayanganku, Pas Band-Jengah.
"Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Fushilat:40). Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu." (HR. Bukhari)

~Andini Nova
hanya tulisan normatif