Minggu, 13 Juni 2010

Qaryah Thayyibah; Sekolah Kebebasan di Tengah Belenggu Pendidikan Indonesia

Qaryah Thayyibah; Sekolah Kebebasan di Tengah Belenggu Pendidikan Indonesia

Oleh Andini Nova

Ada pemandangan yang tidak biasa jika berkunjung ke rumah Ahmad Bahruddin, warga Desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah. Rumah Bahruddin ramai dipenuhi oleh para remaja yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sedang bermain komputer, ada yang berdiskusi, ada pula yang membaca buku. Ya, pertengahan Juli 2003, Bahruddin memang memutuskan untuk mendirikan sebuah sekolah alternatif yaitu SMP Terbuka Qaryah Thayyibah dengan menggunakan dua ruangan di rumahnya. Tidak heran jika rumahnya selalu ramai tiap hari. Ide mendirikan sekolah alternative ini muncul ketika pada pertengahan tahun 2003, anak pertamanya, Hilmy, akan masuk SMP. Bahruddin terusik dengan anak-anak petani di desanya yang tidak mampu membayar uang sumbangan masuk SMP negeri yang saat itu mencapai Rp750.000, uang sekolah rata-rata Rp 35.000 per-bulan, uang seragam dan uang buku yang jumlahnya mencapai ratusan ribu rupiah, belum lagi ditambah biaya transport naik angkutan desa sebesar Rp1000 sekali jalan. “Saya mungkin mampu, tetapi bagaimana dengan orang-orang lain di desa saya?” tuturnya.

Bagi masyarakat Desa Kalibening yang mayoritas berprofesi sebagai petani, pendidikan bukanlah hal yang utama, sehingga tidak ada alasan mendesak untuk mengenyam pendidikan, apalagi jika harus membayar biaya yang mahal. Hati Bahruddin pun tergerak untuk peduli akan nasib teman-teman Hilmy tersebut. Rasa kepeduliannya itu ia wujudkan dengan menggagas ide pendirian sekolah alternatif yang berkualitas tapi dengan biaya yang murah.

Langkah pertama yang diambil Bahruddin yaitu mengumpulkan tetangganya dan mengadakan diskusi dengan mereka terkait dengan idenya itu. Dalam diskusi itu dibahas beberapa hal mengenai keluhan warga setempat mengenai pendidikan di Indonesia saat ini yang tidak juga berkualitas namun biayanya mahal. Setelah membahas berbagai keluhan itu, Bahruddin pun menceritakan idenya untuk mendirikan sebuah sekolah alternatif tingkat menengah pertama sebagai solusi untuk mengatasi keluhan-keluhan itu. Pada awalnya, dari tiga puluh peserta diskusi saat itu, hanya dua belas orang yang menerima idenya. Alasan yang dikemukakan oleh delapan belas warga yang menolak adalah karena takut coba-coba.

Menghadapi respon seperti itu, Bahruddin tidak gentar, ia bersama dua belas warga yang pro terhadap idenya, tetap maju dan akhirnya SMP Alternatif Qaryah Thayyibah ini pun berdiri dan mulai beroperasi dengan murid awal berjumlah 24 orang. Siswa sekolah ini tidak dipatok harus belajar sesuai kurikulum seperti sekolah formal. Sekolah ini memang masih menggunakan kurikulum nasional sebagai acuan, namun hal ini dilakukan agar lulusan SMP Qaryah Thayyibah tetap mendapat ijazah resmi dan pengakuan dari pemerintah serta masyarakat umum. Cara pembelajaran yang bebas dan tidak terikat oleh jadwal memang menjadi ciri dari sekolah ini. Siswa sedang ingin belajar apa, saat itulah ia mencari sendiri materi pelajaran yang ingin diketahuinya. Ia pun bisa mencari partner dan membentuk suatu kelompok kecil untuk berdiskusi tentang suatu hal. Tempat belajar pun tidak memandang lokasi, bisa dimana saja sesuai dengan keinginan peserta didik, ada yang belajar ruang kelas, di halaman, atau di kebun. Dari sini, siswa sudah dirintis untuk memilih sendiri apa yang menjadi minat mereka dan menentukan cara belajar sendiri yang dirasa cocok dengan mereka sehingga menjadi lebih fokus untuk menekuninya.

Menurut sekolah ini, belajar maksimal adalah yang didasari dengan keinginan dan kebutuhan siswa. Pandangan itulah yang mendasari pilar orientasi pendidikan independen dalam mengembangkan minat dan bakat para peserta didik. Kebebasan dan kemandirian dalam proses pembelajaran di sekolah ini tetap terkontrol dengan adanya beberapa guru pendamping sebagai teman diskusi, fasilitator dan juga motivator. Suasana kaku dan tegang yang biasanya terjadi di sekolah formal, tidak akan ditemukan pada sekolah ini karena hubungan antara siswa dan guru sangat akrab seperti halnya teman. Keakraban inilah yang membuat para siswa menjadi lebih enjoy dalam belajar.

Untuk menunjang proses belajar, fasilitas komputer yang dilengkapi dengan jaringan internet pun disediakan. Komputer-komputer itu dibeli dengan uang hasil sumbangan para warga. Untuk fasilitas internet, sekolah ini tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun karena Bahruddin dan para pendiri lainnya yang merupakan anggota Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah, bekerja sama dengan Roy Budhianto Handoko, direktur perusahaan internet di Salatiga, Indo.net yang memberi fasilitas internet 24 jam per-hari. Dengan adanya fasilitas komputer, internet, dan wi fi ini, para siswa diharapkan menjadi peserta didik yang melek teknologi, dan hal itu memang terjadi.

Jangan bicara soal produktivitas di sini. Para siswa yang umurnya masih belasan, sudah bisa membuat film sendiri. Setiap akhir pekan di akhir bulan, ada pemutaran film ini untuk ditonton ramai-ramai. Kalau film saja dengan mudahnya diproduksi, apalagi cuma sekadar buku. Di sini, karya-karya siswa sudah dibukukan dan diterbitkan oleh penerbit progresif dari Jogjakarta, LKiS. Alhasil, meskipun masih berstatus pelajar, para siswa di sekolah ini sudah bisa mendapat penghasilan sendiri dari karya-karya yang mereka ciptakan.

Sekolah yang pada awalnya hanya mempunyai 24 siswa ini, sekarang telah mempunya 150 siswa yang tidak hanya berasal dari Salatiga, tapi juga dari daerah lain seperti Jogjakarta, Solo, Malang, bahkan Jakarta. Pendek kata, sekolah ini benar-benar menjadi alternatif bagi pendidikan yang sekarang ini terasa sangat membelenggu, tidak membebaskan. Belajar sesungguhnya bukan pada ujian, tapi kehidupan. Tetap menjaga nilai kearifan lokal tapi berwawasan global dengan pengetahuan yang benar adalah pendidikan yang sesungguhnya, dan Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah berhasil melakukan hal itu. (ngp)

***

Kau Seperti Gorengan, Tidak Menyehatkan

Kamu hanyalah sepenggal masa lalu yang sama sekali tidak layak untuk dikenang.
Bagiku, kamu hanya sekedar gorengan, tidak menyehatkan. Cintamu mengandung kolesterol tinggi yang bisa membuatku terkena serangan jantung.

Kamu tidak sepenting itu.
Kamu hanyalah aktor pembantu dalam beberapa adegan di hidupku.
Karena itu kamu sama sekali tidak pantas membusungkan dada, menunjukkan kesombongan seakan kamu orang paling dibutuhkan.

Aku tidak berminat berurusan dengan virus langka macam dirimu. Berkali-kali aku melakukan riset dan akhirnya telah kutemukan vaksin untuk membasmimu, maka bersiaplah kamu untuk musnah.

Kamu cuma seonggok benalu yang selalu menghisap kenikmatan dari tubuhku.
Tidak tahu malu.
Tapi sungguh sayang, kejayaanmu harus berakhir sampai disini, Karena akulah sang inang yang akan menendangmu jauh-jauh dari hidupku.

Kamu tak berhak berbicara tentang cinta.
Karena batu kali sepertimu, tidak akan bisa merasakan.
Kamu sulit tertembus oleh air kasih sayang, karena di dalam tubuhmu hanya tersimpan setumpuk kekerasan untuk menghancurkan.

Kamu juga terlihat bagai tukang kredit.
Menjajakan cinta palsu dan memintaku membayar perlahan-lahan sebagai balasan atas cinta yang telah kau berikan.
Rendahan.
Otakmu tak ubahnya seperti jurnal penerimaan kas yang hanya mencatat pemasukan, tanpa pernh berpikir untuk mengeluarkan modal.

Kepalamu besar.

Makhluk macam dirimu, tidak pantas berkeliaran di hidupku. Hanya membawa penyakit keputusasaan.
Maka ku lempar kau jauh-jauh seperti sebungkus sampah yang harus dibuang menuju tempat pembakaran.

Dan kamu tidak berhak untuk berkata jangan..

~Andini Nova

Makin Lama Makin Cacingan

Sang pangeran tidak bosan-bosannya mencari selir

Tidak puaskah ia dengan 1 permaisuri dan 37 selir yang sudah ia miliki?

Sungguh manusia yang tak pernah puas

Selirnya tersebar di smua penjuru

Sang pangeran laku keras

Sebar cinta disini, sebar cinta disana

umbar janji kesana,
umbar janji kesini

Berkhianat

Tapi sang pangeran lupa,

Bahwa tingkahnya itu telah melahirkan telur-telur cacing di perutnya

Semakin lama semakin banyak

Semakin besar

Menetas,

Membuat perut pangeran menjadi buncit, dipenuhi cacing

Cacing-cacing itu bernama KARMA

maka, nikmatilah..


~Andini Nova

Amazing People

Ternyata ada banyak hal yang jauh lebih menarik untuk dibicarakan, bukan tentang jatuh cinta, patah hati, dendam ataupun emosi. Tapi ini tentang, KEKAGUMAN.

Saya mempunyai seorang nenek yang biasa saya panggil dengan sebutan "Jidah" (bhs Arab : Nenek)

Beliau berumur 68 th, terbilang jauh lebih tua jika dibandingkan dengan saya.

Suatu malam saya terbangun dari tidur, sekitar pukul 3 dini hari. Saya menuju kamar mandi dan melewati kamar Jidah saya yang kebetulan tidak tertutup rapat. Disitu saya melihat seorang wanita tua yang sedang shalat dengan begitu khusuknya. Jam segitu saya pikir beliau pasti shalat tahajud. Usai ke kamar mandi saya pun kembali tidur.

Sekitar jam 5 pagi saya bangun kembali untuk melaksanakan shalat subuh. Saya harus mengambil air wudhu, saya menuju kamar mandi dan lagi, melewati kamar Jidah saya. Saya mendengar suara perempuan tua yang sudah agak gemetar tapi sangat merdu, perempuan itu melantunkan ayat-ayat suci Alquran dengan begitu fasihnya. Saya pun masuk ke kamar beliau, dan saya lihat Beliau mengenakan mukena merah muda dan memegang Alquran.

Saya pun tidak ingin mengganggu beliau. Maka saya keluar, menuju kamar mandi, lalu shalat.

Saya berpikir, wanita setua itu, dengan tubuh sudah selemah itu, tapi semangatnya untuk beribadah bisa sebesai itu. Hebat sekali, dalam hati saya.

Suatu hari,
Saya dan Ibu serta dua org kerabat saya pergi ke Blok M Square untuk menonton bioskop.

Setelah selesai menonton, yang saat itu pukul 6.30 sore, maka kami pun bergegas menuju masjid di mall tersebut untuk shalat maghrib.

Di tempat wudhu, karena agak ramai maka kami harus mengantri. Saat sedang mengantri, ada sesuatu yang sangat menarik perhatian saya. Saya melihat seorang anak kecil perempuan, saya tebak kira-kira umurnya 6 atau 7 tahunan, sedang mengambil wudhu dengan tertibnya. Dan setelah wudhu pun ia tidak lupa membaca doa. Anak sekecil itu, mempunyai kesadaran untuk shalat sebesar itu. Subhanallah, dalam hati saya.

Lalu tidak lama saya dan yang lain menunaikan shalat.

Jidah saya, mempunyai 2 orang kakak perempuan yang Alhamdulillah masih hidup sampai saat ini. Kedua orang itu masing-masing berumur 71 dan 74 tahun. Sungguh sangat tua jika dibandingkan dengan saya atau orang-orang seumuran saya. Jadi, jika membicarakan tentang puasa, logikanya saya dan orang-orang seumuran saya pasti lebih kuat dan mampu jika dibandingkan dengan mereka.

Tapi kebenaran memang menyakitkan. Selama ramadhan, kedua nenek renta itu berpuasa 30 hari penuh tanpa cacat. (pada umur itu, mereka sudah dalam masa monopause : tidak mendapat haid lagi), dan yang luar biasa hebatnya, shalat tarawehpun tidak mereka tinggalkan.

Lalu bagaimana dengan saya dan orang-orang yang seumuran dengan saya yang mempunyai umur jauh lebih muda dan fisik jauh lebih kuat?

Alhamdulillah tahun ini puasa saya hanya batal 7 hari, itupun karena haid. Walaupun taraweh saya bolongnya 10hari. Hehe. Lalu orang0orang seumuran saya? Fakta membuktikan, banyak dari kami, kita, sungguh-sungguh menyepelekan puasa. Pada ramadhan tahun ini, tidak hanya tahun ini malah, tp juga tahun-tahun yang lalu, saya banyak melihat orang-orang yang seumuran dengan saya, mereka tidak berpuasa, padahal mereka mampu. Alasannya : penyakit-penyakit ringan yang sebenarnya masih bisa ditahan, seperti batuk, flu, pusing atau apalah yg mereka kambinghitamkan. Dan parahnya lagi ada yang dengan bangga mengatakan,
"gw lagi males, jadi gw nggak puasa. Terus kenapa?"

Jika puasa saja mereka sepelekan seperti itu, anda, kalian, kita semua pasti sudah tahu bagaimana dengan shalat taraweh mereka. Atau jangan-jangan shalat 5 waktupun tidak?

Saya mempunyai seorang teman, sebut saja A. Dia berasal dari keluarga yang bisa dibilang pas-pasan. Suatu hari, saya dan A pergi ke suatu pusat perbelanjaan. Saya meminta A untuk menemani saya membeli sepatu.

Setelah membeli sepatu, saya dan A memutuskan untuk mencari masjid, kebetulan saat itu waktu ashar. Selesai kami shalat, saat saya sedang memakai sepatu, A terlihat merogoh kantung celananya. Saya bertanya,

"Mau ngapain?"

"Gpp, tungguin gw bentar" jawabnya.

Saya melihat A berlari menuju sebuah kotak amal (infaq) dan ia memasukkan beberapa lembar uang.

Oh dia bershadaqah, dalam hati saya. Menakjubkan, orang dengan keadaan ekonomi pas-pasan seperti itu, tapi mempunyai jiwa sosial dan hati ikhlas sebesar itu.

Di waktu lainnya,
Saya bepergian dengan teman2 saya, ramai. Saat waktu dzhur tiba, saya mengajak mereka untuk shalat. Jawabannya,

"Males ah, lo aja deh"
"Gw ng dulu deh, hehe"
"Ntar aja dah di rumah"

Alhamdulillah ada satu teman saya yang menjawab,
"Ayo."

Pernah suatu hari saya dan teman saya melintasi sekelompok orang yang meminta sumbangan untuk pembangunan masjid. Dan teman saya saat itu adalah orang yg cukup berada. Bukan ingin riya, saat itu saya menyumbang sekedarnya, melihat simpanan uang saya yang memang sedang tipis. Saya berkata pada teman saya,
"Woi duit ada, bagi-bagilah dikit, tabungan akherat, hehe."

"Yah gw nggak megang uang cash, blm ngambil di atm, bukannya ng mau ngasih, tapi duit gw tinggal 5rb", jawabnya.

"Oh gt.." saya pun tidak bisa komentar apapun lagi.

Tidak lama kemudian, teman saya itu bilang pada saya,

"Bentar ya, gw mau beli pulsa dulu, pulsa gw sakratul nih."

Dan saya ingat benar saat itu dia belum pergi ke atm..

Jidah saya dan 2 kakaknya yang sudah sangat tua itu, Anak sekecil itu, Teman saya ekonominya pas-pasan itu, mereka adalah orangorang yang membuat saya kagum. Sangat.

Lalu, bagaimana dengan kita?

~Andini Nova

19

19

Oleh Andini Nova


Jika hidup adalah pilihan, lalu bagaimana dengan takdir..?


September, 2000

"Kamu selingkuh kan sama wanita itu?!", bentak seorang wanita paruh baya. Umurnya sekitar 30-an.

"Iya! Dan aku akan menikahi dia, dengan atau tanpa persetujuan kamu!", si lelaki balik membentak dengan nada yang lebih tinggi.

"Tega kamu, Pa! Setelah semua yang aku lakuin buat kamu, kamu malah mengkhianati aku dan anak-anak! Dimana otakmu?", lanjut wanita itu dengan mata sembab hampir menangis.

Dan, plak.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi wanita.

"Gila kamu! Jangan memukulku di depan anak-anak!", tangisnya sambil memegangi bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah.

"Jangan coba-coba mendikteku!", tegas pria, lalu pergi.

Ya, sepasang suami istri yang tengah bertengkar itu adalah orang tuaku. Aku dan seorang kakak lelakiku, yang saat itu berada tepat di depan mereka, hanya bisa menangis melihat pertengkaran hebat tersebut. Saat itu aku tidak mengerti, apa yang terjadi? Satu hal pasti, sejak saat itu aku menganggap bahwa papaku adalah orang yg jahat, karena dia tega memukul mama. Dan aku membencinya.

Maret, 2009

Cuaca pagi ini cukup cerah walaupun udara terasa agak dingin. Mungkin karena semalam hujan turun begitu lebat. Aku bergegas pamit pada mamaku yang terlihat sibuk memasak di dapur.

"Ma, Dina berangkat dulu ya.", ucapku seraya meraih tangannya untuk kucium

"Eh, sarapan dulu, mama lagi bikin nasi goreng.", ucap mamaku

"Tau lu, makan dulu gih, badan uda kurus gitu, masi aja gak mau makan", celetuk Andre, kakak semata wayangku.

"Yee, nyambung aja kaya listrik. Abang enak masuk kerja jam 8, Dina msk sekolah setengah 7 tau!", ujarku membela diri seraya meneguk segelas susu putih yang telah dibuatkan mama untukku.

"Siapa suru jadi orang lelet banget? Haha", ledeknya.

"Idih makin ngeselin. Udah ah. Ma, uda telat nih, mesti buru-buru. Hehe, assalamualaikum", ucapku sambil segera keluar rumah dan berangkat ke sekolah. Kata waalaikumsalam terdengar sayup-sayup di telingaku.

***
Ya, kini sudah hampir 9 tahun sejak pertengkaran hebat itu terjadi. Papa dan mamaku memutuskan bercerai tidak lama setelah peristiwa itu. Mereka kini menjalani hidupnya masing-masing. Papa dengan keluarga barunya, dan mama menjadi single parent, hidup bersama aku juga Bang Andre.

Aku tidak tahu papa berada dimana saat ini, kabar terakhir yang sempat aku dengar dari omku - adik dari papa - bahwa papa tinggal di daerah Subang, Jawa Barat. Sebenarnya ia berada dimana dan bagaimana keadaannya, aku tidak peduli. Sejak perceraiannya dengan mama, ia sama sekali tidak pernah datang menjengukku atau sekedar menelepon untuk menanyakan kabarku dan Bang Andre. Ditambah lagi, sebagai seorang ayah, seharusnya papaku mengirimi uang untuk biaya hidup kami berdua, tapi mungkin otaknya memang sudah sangat rusak hingga ia melupakan kewajibannya itu.

Memang, pernah suatu saat aku dan Bang Andre mendatangi kediaman papa di Subang. Tindakan itu dilakukan atas usulku yang tiba-tiba ingin bertemu papa karena rasa rindu yang kadang timbul. Rasa rindu yang mampu mengalahkan rasa benciku padanya. Akhirnya, aku berpikir apa salahnya aku mengunjungi dia, toh bagaimanapun juga dia adalah orang tuaku. Maka aku dan Bang Andre pun memutuskan untuk mengunjunginya. Tapi niat baik kami ternyata tidak disambut dengan sikap yang baik dari pihak papa dan keluarga barunya. Bahkan bisa dikatakan, papa tidak mengakui aku dan Bang Andre. Sungguh sangat hancur hati kami saat itu. Jauh-jauh datang dari Jakarta tapi tidak diakui oleh ayah sendiri. Mengenaskan. Maka bukan hal yang aneh jika kebencianku kepadanya semakin mengakar kuat.

Juni, 2009

Kelulusanku dari SMA, menjadi hadiah termanis untuk hari ulang tahunku tahun ini.

Rencana berekreasi ke Dunia Fantasi, Ancol, bersama teman-teman pun sudah direncanakan dengan matang, tapi..

"Mau main apa disana? Jangan! Nanti kambuh asmamu! Di rumah aja atau cari tujuan wisata lain. Jangan yang berbahaya dan jangan jauh-jauh", itulah jawaban Mamaku saat aku meminta izin dari beliau untuk pergi ke Dufan.

Sebagai anak yang tidak ingin menyakiti perasaan ibunya, aku pun menuruti. Toh alasan beliau memang realistis. Tapi aku memang sangat ingin kesana, karena sampai sekarang aku belum pernah mendatangi tempat itu. Walaupun tidak bisa menikmati wahana, aku hanya sekedar ingin tahu seperti apa Dufan, tempat yang selalu diceritakan teman-temanku. Ya sudahlah, mungkin sekarang memang belum waktunya untuk aku pergi kesana. Suatu hari nanti, mungkin.

Kadang aku merasa iri ketika melihat orang lain bisa melakukan apa yang tidak bisa aku lakukan. Rasa iri itu muncul setiap aku dilarang untuk melakukan sesuatu yang aku sukai karena keterbatasan fisikku, padahal aku sendiri merasa yakin bahwa aku kuat dan baik-baik saja. Aku memang mengidap asma sejak kecil, keturunan dari mamaku. Dan penyakit itu menjadi semakin akut karena pada saat aku duduk di bangku kelas 2 SMP, aku sempat menjadi pecandu rokok. Sebuah keputusan yang amat tolol sebenarnya. Tapi aku melakukannya, tidak tanpa alasan. Mungkin terlalu klise jika aku mengatakan bahwa itu hanyalah bentuk "pelampiasan" atas jiwaku yang saat itu benar-benar terguncang dan rapuh. Ya, saat itu adalah pasca kejadian kelabu di Subang. Saat aku tidak diakui oleh Papaku sendiri. Maka muncullah piikiran untuk menyakiti diri sendiri. Jadilah aku seorang pecandu rokok yang bisa menghabiskan sebungkus rokok tiap harinya, dengan kondisi kambuh tiap kali aku menghisap. Tapi aku tidak peduli. Benar-benar tidak peduli.

Namun ternyata hal itu tidak berlangsung lama. Karena paru-paruku benar-benar telah mengibarkan bendera putih.

Suatu hari ketika aku asmaku kambuh sangat parah, aku sama sekali tidak bisa bernafas, tubuhku basah penuh keringat, dan mulai kaku. Saat itu rasanya benar-benar seperti hanya berada sejengkal dengan kematian. Ternyata aku masih merasa takut mati. Dan sejak kejadian antara hidup dan mati itulah aku memutuskan untuk berhenti merokok

Sebenarnya sejak saat itu pula, hidupku bergantung pada obat, untuk menjaga kondisi paru-paruku yang semakin melemah tiap harinya..

September, 2009

"Argggh, parah bgt dah. Puyeng gw, tiap hari tugas melulu, kenyang woi.", keluhku di kelas setelah menerima tugas membuat paper dari salah seorang dosen.

"Sama, gw juga puyeng, nih tugas bejibun amat", jawab teman sekelasku, Dhia, dengan wajah yang tak kalah kusut.

"Yaelah namanya juga mahasiswa, tugas mah biasa. Itu adalah bagian dari proses kita untuk mendapat gelar sarjana. Semangat dong!", sahut Nanda cengengasan, teman sekelasku juga, yang sehari-harinya berperangai slengean.

"GAYA LU, NAND!", kontan kami kompak menjawab sembari tertawa mendengar ucapannya yang "tumben bener itu".

Begitulah kehidupanku sehari-hari setelah lulus SMA, menjadi seorang mahasiswi di sebuah universitas negeri di Jakarta. Kehidupan yang tidak jauh dari tugas, tugas, dan tugas. Tapi aku akui, aku menikmatinya. Karena hal itu membuatku sibuk dan terkadang lupa akan semua masalah hidupku..

Oktober, 2009

Lagi-lagi rasa sakit ini muncul. Leherku sakit sekali! Seperti ditusuk oleh sebuah paku kecil berkarat. Ngilu.

Sebenarnya rasa sakit ini sudah lama aku rasakan, kira-kira sejak aku berusia 11 tahun. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada sesuatu di dalam leherku hingga rasanya sedemikian sakit. Tapi sejak pertama kali aku merasakannya, aku memang tidak pernah berani mengatakan hal ini pada siapapun, termasuk mama dan Bang Andre.

Mungkin tidak ada yang menyadari, bahwa leher kananku terlihat agak membesar. Tapi aku merasakannya, benjolan ini memang seakan tumbuh, dan bertambah besar. Dan setiap rasa sakitnya datang, sungguh tak tertahankan. Membuatku menangis, menjerit sangat pilu.

Entah sakit apalagi yang aku punya selain asma.

25 Oktober, 2009

Sakit ini makin menjadi-jadi. Aku tidak tahan lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk menceritakan apa yang selama ini aku rasakan. Ya, rasa sakit yang teramat pada leherku bagian kanan.

Maka, aku dan mamaku pun pergi ke sebuah rumah sakit di bilangan Jakarta Barat untuk mengkonsultasikan hal ini dengan seorang dokter.

Aku menjalani tes rontgen dan tes darah untuk mengetahui apa "arti" dari rasa sakit yg aku rasakan selama ini.

9 November, 2009

Hasil rontgen menunjukkan bahwa ada pembengkakan di bagian kanan leherku, dan kata dokter itu adalah kelenjar getah bening yang membengkak. Dokter belum bisa menyimpulkan apa-apa saat hasil rontgen itu keluar, karena hasil tes darah baru akan keluar dua minggu lagi, dan kesimpulan baru bisa diambil ketika hasil dari dua tes itu digabung.



20 November, 2009

Hari ini hasil tes darahku keluar. Aku dan mamaku menuju ke rumah sakit untuk melihat hasilnya.

"Jadi saya sakit apa, dok?", tanyaku mengawali pembicaraan

"Begini, berdasarkan hasil rontgen dan tes darah yang sudah kita lakukan, maka disimpulkan bahwa terjadi pembengkakan pada kelenjar getah bening di leher anda. Pembengkakan ini telah terjadi selama bertahun-tahun. Mungkin sebelumnya Anda tidak melakukan sesuatu pada hal ini, karena itu pembengkakan kelenjar anda sudah cukup parah, dan saya mengindisikan bahwa Anda..", dokter memotong kalimatnya, membuatku semakin panas dingin dan amat takut mendengar apa yang akan diucapkannya setelah ini.

"Bahwa Anda mengidap kanker kelenjar getah bening stadium 2, Non-Hodgkin Limfoma, ditambah lagi ternyata anda juga mengidap TBC", lanjutnya

Seperti sebuah bom yang meledak, ucapan dokter itu benar-benar membuat aku shock dan menangis seketika. Mamaku hanya bisa memelukku saat itu. Aku berpikir, Ya Allah cobaan apalagi yang kau berikan untukku? Tidak cukupkah penderitaanku akibat perceraian mama papa? Tidak cukupkah penderitaanku mempunyai asma yg selalu membatasi semua hal yang ingin aku lakukan? Tidak cukupkah sakit hatiku karena tidak diakui oleh ayah kandungku? Tidak cukupkah, Ya Allah?

Desember, 2009

Semenjak aku mendapat vonis itu, aku menjalani kemoterapi. Rasanya sakit sekali. Kadang mulutku mengeluarkan darah setiap aku batuk. Berat badanku turun drastis. Rambutku merontok.

Bagaimana dengan kuliahku?
Aku tetap masuk kuliah seperti biasa walau kadang memang banyak izin untuk absen, karena harus menjalani pengobatan. Aku memang benar-benar tidak boleh terlalu lelah. Sebenarnya dokter menyaranku untuk cuti kuliah selama setahun untuk menjalani proses pengobatan ini, tapi aku menolak. Entah mengapa aku merasa waktuku tidak banyak lagi..

April, 2010

Sudah 5 bulan aku menjalani kemoterapi, pengobatan berjalan untuk TBCku, radiasi, dan segala macam proses pengobatan yang sungguh membuatku muak, belum lagi ditambah berbagai jenis obat yang harus kuminum tiap hari. Tapi mengapa aku tidak merasa membaik?

Rambutku kian menipis. Sejak 3 bulan yang lalu aku memang telah memutuskan untuk memakai jilbab. Awalnya keputusanku ini didasari oleh niat menutupi kepalaku yang mulai botak dan leherku yang makin membengkak Tapi akhirnya aku merasakan kenikmatan yang luar biasa menjadi seorang wanita berjilbab, niat itu pun telah berganti menjadi niat tulus untuk menutup auratku sebagai seorang muslimah.

Pada suatu hari aku merenung. Mengingat kejadian-kejadian yang telah lalu. Salah satunya adalah ketika aku bertanya kepada seorang seniorku di kampus. Aku bertanya kepada beliau,

"Kak, jika hidup ini adalah pilihan, lalu kenapa ada takdir? Bukankah takdir membuat kita menjadi tidak bisa memilih karena segala sesuatu memang telah digariskan seperti itu?

Jawabannya atas pertanyaanku itu masih terekam jelas dalam pikiranku sampai saat ini.

Ia mengatakan bahwa harus ada keseimbangan antara kepercayaan kita terhadap takdir dan usaha. Setiap manusia memang diberikan kesempatan untuk memilih, berencana, dan berusaha, tapi pada akhirnya tetap Allah lah yang menentukan. Allah yang menciptakan kita, maka adalah hak mutlak bagi-Nya untuk melakukan apapun terhadap kita sesuai yang Dia mau. Ingatlah, bahwa Allah takkan memberi cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya.

Jawabannya mengingatkanku kembali bahwasanya ada kekuatan yang amat besar, amat Maha, yaitu Allah SWT.

Sejak saat itu, aku yang sering mengeluh dan hampir putus asa, berusaha berubah menjadi seorang yang selalu pandai bersyukur dan tetap semangat untuk sembuh. Terima kasih untuk kakak seniorku...

1 Mei, 2010

Saat ini rambutku benar-benar hampir gundul dan beratku hanya 37 kg. Aku pun sudah menghentikan aktivitasku di kampus karena dokter mengatakan kondisiku memang semakin memburuk.

15 Mei, 2010

Aku bosan dengan hidupku. Bukan, bukan karena aku tidak bersyukur atas nikmat hidup yang masih diberikan kepadaku, tapi aku sudah sangat lelah menjalani hidup seperti ini. Lelah sekali, benar-benar lelah..



29 Mei, 2010

Sudah seminggu ini banyak dari kerabat dan teman-temanku datang menjenguk silih berganti. Mulai dari teman SD, SMP, SMA, hingga teman-temanku di kampus. Dan hari ini, sahabat-sahabat kentalku yang datang. Amel, Icha, Putri, dan Maya. Senang sekali rasanya bisa melihat wajah mereka. Kami mengobrol, sambil sesekali bersenda gurau. Sungguh saat yg sangat membuatku bahagia, dan tanpa sadar aku menitikkan air mata.

"Lo kenapa, din?", tanya Amel.

"Gak apa-apa kok, gw seneng aja bisa ngumpul sama kalian kaya gini. Seneng beuuud deh pokoknya, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hahaha", ujarku sedikit bercanda.

"Yee dasar nih anak, masi aja bisa lebay, hahaha", timpal Icha disambut tawa kami semua.

"Eh, eh serius nih. Pokoknya, apapun yg terjadi setelah ini, persahabatan kita gak boleh putus sampai kapanpun", lanjutku.

"Pasti!", jawab mereka serempak dan juga mengakhiri pertemuan kami saat itu. Ya, yang ternyata adalah pertemuan...

4 Juni, 2010

Tidak terasa waktu sudah memasuki bulan keenam. Juni! Ini adalah bulan kesukaanku, karena di bulan ini aku pertama kali muncul di muka bumi, 18 tahun yg lalu. Dan Juni tahun ini adalah ulang tahunku yg ke-19. Tapi, apa mungkin aku bisa bertemu denganmu, 19?

12 Juni, 2010

6 hari lagi ulang tahunku akan datang. Senangnya hati ini. Senyum tidak henti-hentinya tersungging dari bibirku, benar-benar tidak sabar untuk berulang tahun, hehe. Bersemangat sekali. Aku sudah meminta mamaku untuk menyiapkan pesta kecil-kecilan dengan mengundang beberapa kerabat dan sahabat. Pasti seru! Pikirku.

15 Juni, 2010

Rasa sakit itu muncul lagi. Rasanya benar-benar sakit. Sakit sekali. Aku tidak sanggup lagi, Tuhan. Akhiri semua penderitaan ini. Aku mohon..

Aku berpikir, mungkin lebih baik aku tidur, biar rasa sakit ini tidak terasa.

Tidak lama setelah itu, aku terbangun. Dengan agak buram aku melihat sekelilingku sangat ramai. Ada mamaku, nenekku, kakakku, semua saudara dan teman-temanku. Ada apa ini? Mengapa mereka semua menangis? Tapi ah, mungkin ini hanya mimpi saja. Dan aku pun memutuskan untuk memejamkan mata lagi, melanjutkan tidurku.

Di dalam tidurku, aku bermimpi bertemu dengan papa. Pada kesempatan yang langka itu akupun berkata suatu hal yang aneh,

"Aku sayang Papa",
"Jaga mama sama Bang Andre ya, Pa.."

Perkataanku itu sangat tidak masuk akal, mengingat betapa besar kebencianku terhadapnya, dan mana mungkin ia menjaga mamaku dan bang Andre sedangkan ia sudah punya keluarga baru?

Tapi ah, aku tidak peduli. Aku ingin istirahat dulu sejenak.
Dan setelah itu aku pun benar-benar tertidur lelap.

Saat kututup mata ini, aku takut
Takut jika ku tak bisa kembali
Cemas jika hari ini adalah hari terakhirku
Tapi aku harus tegar, inilah takdir
Perjuanganku harus berhenti sampai disini
Kini, aku sendiri
tertelan dalam kegelapan abadi

Dan aku, Andina Noor Syinat, pergi menghadap Kekasih Sejatiku, tepat 1 hari sebelum hari lahirku yg ke-19. (ngp)

***

Jilbabers; Simbol Agamis Kampus UNJ

Jilbabers; Simbol Agamis Kampus UNJ

Oleh Andini Nova

“Gue serasa di pesantren deh!”, seru seorang gadis saat pertama kali menginjakkan kaki di Universitas Negeri Jakarta. “Banyak banget ya disini yang jilbaban”, lanjutnya sembari meyeruput habis teh kotak yang tadi dibelinya. Sepertinya ia sangat kehausan setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang hingga sampai ke kampus pendidikan itu.

Seperti itulah kesan pertama yang didapat oleh Bella, mahasiswi Universitas Trisakti Jurusan Manajemen Perkapalan yang hari itu sedang mengunjungi kampus Universitas Negeri Jakarta bersama temannya. Ternyata tidak hanya dia yang berkomentar demikian, seorang temannya yang lain juga mengeluarkan komentar yang tidak jauh berbeda. Tidak mengherankan jika mereka dan siapapun yang baru pertama kali mengunjungi UNJ berpendapat demikian, karena mayoritas mahasiswi disana memang memakai jilbab.

Jilbabers -sebutan untuk para wanita yang memakai jilbab- akan sangat mudah ditemukan di setiap sudut Kampus UNJ. Apalagi ketika kita menyambangi Masjid Alumni, sebuah masjid berukuran cukup besar yang berdiri megah di tengah kampus itu, kita akan banyak melihat para jilbabers disana. Ada yang tengah selesai mendirikan shalat, ada yang sekedar duduk-duduk di dalam masjid, ada juga yang kadang berdiskusi di koridor masjid.

Sekelompok jilbabers yang saat itu tengah mengobrol di koridor masjid, mengemukakan alasan saat ditanya apa alasan mereka hingga memutuskan untuk memakai jilbab, berbagai macam jawaban pun terlontar dari mulut mereka.

“Gue sih awalnya karena disuruh nyokap pas SMA, tapi lama-lama gue jadi betah dan nyaman pake jilbab”, cerita Afianty, mahasiswi UNJ Jurusan Tata Boga.

Lain halnya dengan yang diungkapkan Anna berkaitan dengan latar belakanganya memakai jilbab. Mahasiswi Jurusan Manajemen yang berasal dari Nangroe Aceh Darussalam ini, awal memakai jilbab karena di kampung halamannya, para wanita muslimah memang diwajibkan memakai jilbab. Namun hingga saat ini walau ia telah hijrah ke Jakarta, ia tetap tidak menanggalkan jilbabnya itu.
“Udah kebiasa sih”, lontarnya.

Apapun alasan para jilbaber UNJ ini, sebenarnya mereka telah menjalankan perintah Allah yang tertuang dalam Surat Al Ahzab ayat 59, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…” (Al Ahzab: 59) dan Surat An Nuur ayat 31 “…Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau…”(An Nuur : 31). Ayat tersebut dengan jelas menerangkan bahwa bagi muslimah, berjilbab adalah suatu kewajiban, bukan pilihan.

Merasa menjadi muslimah sejati, merasa lebih aman, dan lebih dihargai oleh orang lain-terutama kaum lelaki- adalah berbagai jawaban yang diutarakan oleh para jilbaber saat ditanyai apa manfaat yang mereka rasakan setelah memakai jilbab. Banyak dari mereka pula yang mengatakan bahwa jilbab telah dan sangat berhasil mengubah mereka jadi pribadi yang lebih baik. Karena secara tidak langsung jilbab telah membuat mereka menyesuaikan perilaku dengan jilbabnya.

Banyak orang beranggapan bahwa memakai jilbab akan membatasi aktivitas seseorang. Namun hal ini dibantah dengan tegas oleh Ria, Jilbabers jurusan D3 Akuntansi. Dia mengatakan bahwa memakai jilbab, bukan berarti aktivitas dibatasi, namun jilbab membuat perilaku seseorang menjadi lebih terarah dan tetap berada dalam kendali syariah. “Lihat saja di luar sana, banyak kan wanita berjilbab yang berprestasi tinggi?”, lanjutnya bersemangat.

Mengenai komunitas, setelah ditelisik lebih jauh, para jilbaber UNJ yang sering bergerombol ini ternyata tidak mempunyai komunitas khusus. Perasaan mempunyai hubungan saudara sesama muslim dan kesamaan karakterlah yang membuat mereka kadang berkumpul bersama. Memang, beberapa dari mereka kadang terlibat dalam suatu diskusi tentang keagamaan. Tidak jarang pula diskusi itu diisi dengan kegiatan saling sharing. Diskusi itu mereka lakukan di dalam atau koridor Masjid Alumni.

Sangat adem hati ini ketika menginjakkan kaki di UNJ dan melihat para jilbaber yang berseliweran disana-sini. Disadari atau tidak, jilbabers ini telah menjadi simbol dari sisi agamis kampus UNJ. Mereka juga setidaknya berhasil menepis paradigma miring tentang mahasiswi jaman sekarang. Tentu saja jilbab bukan menjadi satu-satunya indikator ketakwaan dan perilaku seseorang. Tetapi jilbab menjadi salah satu realisasi amaliyah dari keimanan kita. Karena iman memang harus dibuktikan dengan amal, dimana akhirnya amal tersebut akan menunjukkan sisi ketakwaan kita. (ngp)

Ntar Aja, Ah

Ntar Aja, Ah

Oleh Andini Nova



"Ntar aja ah, nanggung lagi diskusi, ntar aja ah nanggung lagi rapat, ntar aja ah nanggung lagi nonton tv, lagi seru, ntar aja nunggu iklan, ntar aja ah di rumah, masih keburu, ntar aja ah lagi facebook-an, dan ntar aja ah ntar aja ah lainnya..."

***

Kalimat Laailaahaillallah mengakhiri Adzan dzuhur yang berkumandang siang itu. Suara muadzin mendayu penuh penghayatan. Menyerukan panggilan sayang dari Sang Khalik. Di waktu yang bersamaan,tampak dua lelaki duduk santai di bawah rindangnya pepohonan.

"Di, salat dulu nyok!", seru Rendra mengajak Ardi, kawan dekatnya.

"Ntar dulu ah, nanggung nih. Tugas akuntansi gue belom selesai. Mesti dikumpul jam 2 pula", jawab lelaki berambut ikal itu tanpa menoleh ke arah Rendra. Nampak ia sangat serius menatap layar laptop.

"Yee, ni anak. Dunia itu! Salat dululah. Jam 2 masi keburu kok, kalo lu salat dulu", lanjut Rendra mencoba membujuk

"Ah bawel, lu duluan aja dah. Ntar gue nyusul", jawabnya singkat

"Terserah lu deh. Gue ke masjid duluan ya", seru Rendra sambil berlalu. Meninggalkan kawannya yang masih asyik mengerjakan tugas.

***

"Eh, belom selesai juga lu", sapa Rendra tiba-tiba sembari duduk di samping Ardi

"Baru aja selesai nih. Tinggal diprint", Ardi mematikan laptop dan membereskan barang-barangnya. Dimasukkan ke dalam tas.

"Lu mau kemana, Di? tanya Rendra

"Ke warnet dulu, ngeprint", jawabnya singkat

"Salat dzuhur dulu sono lu. Uda jam 1, dagol", Rendra mencoba mengingatkan lagi

"Santai aja, bro. Kaya ibu-ibu lu bawel banget. Haha.Bentaran doang ngeprint. Ntar abis itu gue langsung salat. Lu tunggu sini ye", Ardi pun pergi, melangkahkan kakinya menuju warung internet yang berada di seberang kampus.

***

Ardi tergesa-gesa. Langkahnya begitu cepat, jaraknya besar-besar. Warnet yang ditujunya berada di seberang, mengharuskannya menyeberang jalan raya yang padat kendaraan itu.

"Lewat jembatan males, lewat bawah aja, deh", ungkapnya dalam hati.

Maka ia pun mulai menyeberang. Dan, entah mengapa, tanpa memperhatikan sekitar.

Dan tiba-tiba,

"Awaaaaaasss", seru seorang penjual gorengan.

Tapi terlambat.

Ckiiitttttt. Braaaaak !!!

Sebuah sedan merah yang melaju sangat kencang menabrak tubuh kurus Ardi. Ia langsung terlempar sekitar 10 meter. Kepalanya terbentur aspal, mengeluarkan banyak darah. Sepertinya retak. Seketika tak sadarkan diri.Sang pengendara mobil turun. Seorang lelaki paruh baya.

Seketika orang ramai, mengerumuni mereka berdua. Semua panik. Ribut.

"Langsung bawa ke rumah sakit aja, Pak", seru seorang ibu-ibu dengan wajah pucat. Tampaknya ia tidak terbiasa melihat darah.

"Iya, ayo bantu saya, Ibu, Pak", jawab si Bapak

Tubuh ardi digotong memasuki mobil. Mobil melaju menuju rumah sakit terdekat.

***

"Maaf, Pak. Nyawa pemuda ini tidak tertolong. Kepalanya terbentuk amat keras. Dan dia kehilangan banyak darah", ujar dokter yang menangani Ardi

Bapak yang menabrak itu hanya bisa tertunduk lesu. Merasa bersalah. Ia bingung mengapa dirinya bisa seceroboh itu. Mengendarai mobil dengan gelap mata.

"Maafkan saya, Nak. Semoga kamu diterima di sisi Allah", sesalnya dalam hati.

Ardi meninggal dunia dalam keadaan belum menunaikan ibadah salat dzuhur. Apakah kecelakaan yang menimpanya ada hubungannya dengan tindakannya melalaikan salat? Allahualam.(ngp)

***

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi. Amin

Kekasih Sejatiku

Ketika Yang Maha menjadi yang kedua..


1. Pacarku tersayang, aku akan selalu ada di samping kamu setiap saat. Di saat kamu sedih atau senang. Di saat kamu tertawa dan menangis, di saat.. (tiba-tiba lagunya Geisha mengalun, "Kuingin kau selalu di pikiranku, kau yang selalu larut dalam darahku, tak ada yang lain hanya kamu, tak pernah ada, takkan pernah ada, wouuu..)

*Bukankah yang selalu, selalu dan selalu ada di samping, di depan, di belakang, di atas, di bawah, di dalam, di luar atau dibagian manapun dari manusia, setiap saat, setiap detik, setiap hela nafas, setiap pejaman mata, adalah Allah SWT?

Dan Allah berada lebih dekat daripada urat nadi..

"Siapakah yang dapat memberi pertolongan tanpa seizin-Nya?

2. Aku sayang banget sama kamu, beb. Lebih dari apapun di dunia ini.
(diiringi nyanyian pasha, "Kumencintaimu lebih dari apapun..)

*Muslim macam apa yang bisa mencintai sesuatu melebihi cintanya kepada Tuhannya?

3. Akan kuberikan segalanya untukmu, sayangku. Kulakukan apapun untukmu.

*Sedeqah? Ntar dulu. Lagi nabung buat beli kado, pacar bentar lagi ulang tahun. Harus ngasi kado istimewa dong. Menyantuni anak yatim? Waduh, apalagi ini? Mendingan duitnya buat nonton bioskop bareng pacar. Solat? Ntar dulu. Lagi telponan sama pacar. Mengaji? Besok-besok aja, cape nih abis jalan-jalan sama pacar.

Muslim macam apa yang bisa memberikan segalanya kepada yang mereka sebut "pasangan" tapi melalaikan perintah dari Tuhan mereka? Allah Swt?

4. Aku takut banget kalau pacarku marah. Aku takut dia cemburu. Aku takut dia bla bla bla

*Muslim macam apa yang sebegitu takutnya sama pasangannya yang notabennya manusia juga, tapi berani meninggalkan perintah Allah? Begitu berani melakukan larangan Allah? Berani tidak solat, berani tdk mengaji, berani berpakaian ketat dan terbuka, berani mengumbar aurat, berani berbohong, berani mengumpat, berani membentak orang tua, berani memaki fakir dan miskin, berani berzinah? Padahal ia sangat tahu bahwa jika Allah telah marah dan murka, maka dunia beserta isinya termasuk ia dan pasangannya itu akan... Hancur. Lebur. Tak tersisa.

5. Aku ngga akan nyakitin kamu, yank. Ngga bakalan tega. Percaya sama aku ya, lope yu lope yu dah pokonya..

*Tidakkah manusia berpikir bahwa ketika mereka mengabaikan perintah Allah, itu berarti mereka juga mengabaikan keberadaan Allah? Meremehkan kekuasaan Allah? Menyepelekan kebesaran Allah? Umat yang Ia ciptakan untuk beribadah kepadaNYA, ternyata sebegitu tidak tahu diri.

Muslim macam apa yang tega menyakiti Tuhannya, padahal ia sebegitu tidak tega membuat pasangannya terluka?
Sepertinya dia lupa siapa yang menciptakannya.

"Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan pendengaran, penglihatan, dan hati nurani bagi kamu. Tetapi sedikit sekali kamu bersyukur (QS AL-MULK : 23)

6. Aku nggak bisa bertahan hidup kalo nggak bersama kamu, say. (lagunya d'masiv, Tak bisa hidup tanpamu langsung berkumandang, "kembalilah wahai sayangku, hanya itu yang membuat aku tenang..)

*Mereka berkata seakan-akan pasangannya itu adalah segala-galanya. Apakah mereka lupa, siapa yang memberi mereka nikmat hidup, sehat, rizki, pertolongan, ampunan, dan petunjuk kepada mereka kapanpun dimanapun, dalam situasi dan kondisi apapun?

"Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini (ka'bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan" (QS QURAISY : 3-4)

Sepertinya mereka memang benar-benar lupa. Apakah perlu datang azab pedih untuk mengingatkan mereka kembali?

"Sehingga apabila Kami timpakan siksaan kepada orang-orang yang hidup bermewah, melampaui batas, seketika itu mereka berteriak-teriak minta tolong. (QS AL-MU'MINUUN : 64)

***

Ada apa dengan para manusia saat ini? Apakah tersesat? Atau sengaja menyesatkan diri?

Mudah-mudahan mereka ingat akan sumpah yang pernah mereka ikrarkan dulu,

"Asyhaduallailahaillallah,

"Aku bersumpah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.."

Dialah Kekasih Sejatiku..

~Andini Nova

24 Januari 1998

24 Januari 1998

Hari itu hari Minggu. Hari dimana semua cahaya seketika padam, berganti kegelapan.

Hari itu hari Minggu. Ketika masa depan yang telah tersusun rapi, hancur berantakan.

Hari itu hari Minggu. Saat hujan jatuh ke bumi dengan malu-malu.

Hari itu memang hari Minggu. Hari saat pria bertopeng setan itu pergi jauh setelah berkata enteng pada ibuku,
"Aku mencintai wanita lain.."

Hari itu hari Minggu. Saat aku, kami, meraung dan menjerit histeris meratapi kepergiannya.

Tapi hari ini hari Minggu. Ya, hari Minggu. Ketika aku, kami, tertawa dan hidup bahagia. Tanpa pernah menoleh ke hari Minggu 12 tahun yang lalu.


~Andini Nova

Apakah Itu Kamu, Apakah Itu Dia?

Dia berkata,
"Kamu belum lama mengenalku, jadi kamu tidak berhak mencintaiku.."
Dia berkata,
"Kamu tidak tahu apa-apa tentangku, jadi kamu tidak berhak mencintaiku.."
Dia berkata,
"Kamu tidak punya apa-apa yang bisa kau berikan untukku, jadi kamu tidak berhak mencintaiku.."
Dia berkata,
"Tidak ada hal yang bisa dibanggakan darimu di depan orang lain, jadi kamu tidak berhak mencintaiku.."
Dia berkata,
"Kamu tidak tampan, tidak bisa kupamerkan ke teman-teman, jadi kamu tidak berhak mencintaiku.."
Dia berkata,
"Kamu terlalu culun, hanya akan membuatku malu jika aku bersamamu, jadi kamu tidak berhak mencintaiku.."
Dia berkata,
"Kamu kikuk dan kolot, tidak bisa diajak bersenang-senang, jadi kamu tidak berhak mencintaiku.."


Aku diam.
Menatapnya dalam. Menelan ludah. Keringatku mengucur menghujani sekujur tubuh. Bukan pertanda kesal, tapi..

"Jangan terlalu percaya diri. Wanita seperti kamu yang tidak berhak dicintai olehku, bahkan oleh lelaki manapun di dunia ini.."

jawabku, yakin.

***

"Harta bisa saja habis, kerupawanan pun akan lapuk termakan usia, tapi istri yang solihah akan tetap menjadi permata..."

"Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki," kata Rasululloh Saw. menunjukkan, "adalah istri shalihah yg jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu; kendaraan yg baik yg bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yg damai yg penuh kasih sayg. Tiga perkara yg membuatnya sengsara adalah istri yg tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya juga tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa menjaga kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yg jika dipakai hanya membuatmu lelah namun jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi; dan rumah yang sempit yg tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya."

Aku tidak akan pernah menghentikan pencarianku, hingga sosok solihah itu kutemukan.."
Ya, sosok itu. Sosok yang sulit dicari, setidaknya untuk saat ini, di jaman ini..

~Andini Nova

Kenapa Masih Saja Tidak?

Hari itu, 29 Agustus 2009, adalah hari terakhir sekaligus penutupanMPA Maba UNJ 2009 (semacam OSPEK)

Gw akuin acara ini mengasyikkan. ngga ada tuh yang namanya senioritas, injak menginjak apalagi bunuh-membunuh.

Yang ingin gw ceritain adalah,
ada salah satu acara dari serangkaian acara yang ada, yaitu ESQ, (pasti taulah) semacam penjelasan tentang IQ, EQ, dan SQ.

Dalam acara ini, lebih ditekankan pada unsur spiritual. unsur keagamaan, hubungan antara umat dengan Tuhannya.

Kebetulan mayoritas maba (mahasiswa baru) adalah muslim.

Maka acara tersebut dikemas dalam balutan islami.

Ada satu sesi, tepatnya satu kalimat yang diucapkan oleh sang pembicara, yang sangat amat menggugah dan menyentuh hati nurani gw dan ratusan maba fakultas ekonomi lainnya.

Pada sesi "penyucian jiwa", sang pembicara bertanya begini,

pembicara : siapa yang menciptakan alam semesta dan seisinya?

maba : ALLAH! (dengan nada tegas dan percaya diri)

pembicara : Siapa yang memberi rizki dan semua nikmat? (dengan suara lantang)

seluruh maba : ALLAH!! (dengan suara tak kalah menggetarkan)

pembicara : siapa yang mengeluarkan hidup dari mati dan mengeluarkan mati dari yang hidup?

maba : ALLAH!!! (dengan suara yang makin keras, penuh keyakinan)

seluruh maba merasa sangat yakin. ALLAH, jawab mereka dengan lantang.

tapi ketika si pembicara bertanya,
"Jika kamu tahu dan yakin bahwa yang menciptakan alam semesta termasuk kamu adalah ALLAH, yang memberi segala rizki adalah ALLAH, yang memberi hidup dan mati adalah ALLAH,

KENAPA KAMU MASIH JUGA TIDAK BERTAQWA KEPADA ALLAH??

seketika smua maba tersentak. Kaget, lalu diam sejenak.
Sontak semua maba yang ada di ruangan itu, bahkan para panitia pun, MENANGIS HISTERIS, menjerit.

ini nyata, dan gw pun termasuk dalam ratusan maba yang menangis histeris itu.

Sungguh pertanyaan itu sangat menusuk setiap hati manusia yang mendengarnya, jika kamu bs merasakan.

Maka, pikirkanlah..

~Andini Nova

Romero dan Julilet

Romero dan Julilet

Oleh Andini Nova


Serpihan gelas yang pecah terangkat dan berhambur lalu menancap dengan anggun

Di dalam offentlicheit yg hampa dimana tak satu pun menghela

Kulit terkelupas bersimpah darah kental, begitu amis

Heran karena rasa sakit masih saja timbul dari luka yang tak terelakkan, walau semua telah mati

dan kaku

Memandang ignomarus itu yang terus saja berjalan angkuh tanpa menoleh sedikitpun

Makhluk sombong yang melupakan romantisme masa lalu yang terangkai dalam sejarah peradaban

Ya, manusia yang menamakan dirinya "cartesian bijaksana" padahal tidak sekalipun mencumbu mesra Publilius Syrus

Tapi toh si wanita tolol yang terajam itu masih saja bisa tertawa, meski tingkah sang pemimpi makin menggila

Kelakar yang sama sekali tidak jenaka

Dua makhluk munafik yang terus saja saling membunuh karena tidak mengerti cara mencintai

Apakah pada akhirnya Elbert Hubbard harus melirik sinis pada mereka sambil berkata "kalian sungguh orang-orang malang yang benar-benar gagal"?

Entahlah. Mungkin suatu saat mereka akan tersadar setelah terbentur gelimangan intan yang begitu keras, kemudian belajar mengikuti jejak Heraclitus untuk keluar dari lingkaran setan. (ngp)

Mengapa aku selalu bertanya mengapa?

Mengapa dengan mudahnya bicara ini itu, tanpa memikirkan perasaan orang yang dibicarakan?
Mengapa menilai orang lain sebegitu gampang, tanpa pernah mau mendengarkan penjelasan?
Mengapa sulit memaafkan kesalahan orang lain, jika kita tahu bahwa kita pun tidak luput dari kesalahan?

Mengapa beberapa orang datang hanya di saat mereka iba dan simpati?
Mengapa tidak ada yang bisa mencintai dengan tulus?
Mengapa tidak ada yang mampu mendampingi dengan tulus?
Mengapa menjadi setia itu sulit?

Mengapa mereka selalu berteriak bahwa mereka benar, dan menganggap orang lain pasti salah?
Mengapa orang-orang mulutnya sangat kejam?
Mengapa yang berawal dengan baik tidak bisa berakhir dengan baik pula?
Mengapa mimpi-mimpi yang telah dirajut sebegitu indah harus hancur di tengah jalan?
Mengapa harus menangisi akhir dari sesuatu yang belum dimulai?
Mengapa mereka tidak bisa mengerti?
Mengapa mereka tidak mau memahami?
Mengapa mereka tidak punya toleransi?
Mengapa mereka berkata "kamu begitu dan begini", padahal mereka tidak mengetahui aku dengan dalam?

Mengapa satu masalah yang belum selesai harus disusul masalah-masalah baru yang lebih pelik?
Mengapa sulit sekali untuk mengikhlaskan?
Mengapa begitu berat melepaskan?
Mengapa sukar sekali melupakan?

Mengapa yang aku inginkan tidak bisa aku dapatkan?
Mengapa aku tidak bisa melakukan apa yang orang lain bisa lakukan?
Mengapa tidak membiarkan aku bermain hujan? walaupun petir mungkin saja menyambar, tapi setidaknya aku bisa tahu bagaimana rasanya kehujanan?
Mengapa selalu saja dilarang?
Mengapa selalu membatasi?

Mengapa tidak boleh menangis, padahal mungkin itu bisa membuat hati lebih lapang?
Mengapa tidak diizinkan menjerit? padahal hati ini terasa begitu perih?
Mengapa mereka selalu menuntut kesempurnaan dari yang lain?
Mengapa harus mengisi hidup dengan keluhan-keluhan yang akhirnya mengerdilkan hati?
Mengapa harus menambah sakit yang sudah ada dengan menyakiti diri sendiri?
Mengapa orang-orang di sekeliling harus memadamkan api harapan seeorang, sedangkan orang itu sendiri masih ingin berharap?

Mengapa kalian tidak percaya aku?

Mengapa aku selalu bertanya mengapa?


~Andini Nova

Tikamannya terasa..

Pertemanan adalah salah satu hasil dari proses sosialisasi dan silaturahmi. Sebagai suatu ikatan kekerabatan, pertemanan terjalin setelah melewati beberapa fase seperti, perkenalan dan penjajakan. Pertemanan pun kini telah menjelma menjadi suatu kebutuhan.

Jika ditanya, siapa yang ingin hidup sebatang kara? Pasti tidak ada. Jika ada, maka mungkin orang itu bukan manusia :p, Sebagai makhluk sosial, tentu manusia membutuhkan teman, di samping pasangan dan keluarga. Menyenangkan bukan, jika memiliki banyak teman? Apalagi jika pertemanan itu dijalin dalam koridor yang benar. Bersama-sama melakukan kebaikan, saling mengingatkan, dan berbagi di jalan Allah.

Pertemanan yang erat lambat laun akan menjadi elective affinity (baca :hubungan persaudaraan), munculnya rasa saling menyayangi dan hasrat ingin menjaga satu sama lain.

Teman yang baik akan saling memberi nasihat, berlapang dada dan berbaik sangka, dan yang paling penting adalah saling menjaga rahasia masing-masing. Teman yang membeberkan rahasia temannya adalah seorang pengkhianat terhadap amanat. Ingat kan dengan tiga ciri orang munafik? Jika lupa, mari saya ingatkan lagi,

1. Jika berkata, ia berdusta
2. Jika berjanji, ia tidak menepati
3. Jika diberi kepercayaan (amanah), ia berkhianat

Maka teman yang seperti itu telah resmi menjadi orang munafik. Hehe

Dalam pertemanan, adalah hal yang wajib untuk saling menolong. Tapi ingat, menolonglah dalam hal kebaikan. Tanamkan prinsip menolong teman adalah keinginan untuk menunjukkan dan memberi kebaikan, menjelaskan kebenaran dan tidak saling menipu juga berbasa-basi. Jangan mengatasnamakan "solidaritas" untuk membenarkan dan mendukung perbuatan teman yang sudah sangat jelas adalah salah.

Rudolf Dassler, pendiri Puma dan Adi Dassler pendiri Adidas, mereka bersaudara tapi bermusuhan sampai sekarang. Bahkan konon, cucu mereka pun tidak mau bersekolah di sekolah yang sama. Kenapa? Karena mereka saling bersaing satu sama lain. Nafsu persaingan dan ego yang besar telah mengalahkan hubungan persaudaraan. Apalagi hanya teman? Karena itulah, emosi dan sikap egois memang harus dihindari dalam sebuah pertemanan.

Tapi yang paling menyakitkan adalah jika salah seorang teman kita, yang kita sayangi, teman kita berbagi, yang selama ini kita percaya, ternyata tidak lebih dari seorang yang bermuka dua. Membicarakan aib temannya kepada orang lain, mengajak untuk terjun dalam jurang kemaksiatan. mengingkari setiap janji-janji yang telah ia umbar, bermulut manis di depan kita, tapi mencemooh di waktu lain.

Yang seperti itu adalah teman yang telah masuk ke dalam golongan orang-orang munafik yang gemar menikam sesamanya dari belakang..

Maka, tidak ada pilihan lain kecuali menjauhinya..

~Andini Nova