Sabtu, 25 Desember 2010

Perjalanan Panjang Kereta Kehidupan


Di stasiun ini kita menunggu selama sembilan bulan.
Loket-loket terbuka, dan tiket sudah di tangan.
Sampai akhirnya kereta itu datang, lalu kita berbondong naik.
Dan barulah perjalanan ini dimulai.

Ini adalah rute terpanjang.
Jauh dari kemulusan dan kemudahan.
Medan yang berkelok dihiasi bukit-bukit terjal.
Jelas ini bukan cerita di sinetron yang terlihat lucu dan gampangan.
Kedongkolan ibu-ibu dengan wajah penuh kerutan.
Ini adalah perjalanan nyata, perjalanan yang sangat panjang.

Berapa tahun terlewati dengan samar.
Semuanya tidak sesederhana yang kita pikirkan.
Seperti rel kereta yang tak putus-putus, perjalanan ini pun akan terus bergulir.
Tak mengenal kata berhenti sebelum sampai di garis finish.
Walau memang kereta ini akan renta hingga harus berjalan dengan tertatih-tatih.

Batu-batu kerikil yang terhampar,
Terlihat bagai kepingan emas yang berharga di mata yang berminus tiga.
Menggiurkan dan menggoda.
Tapi betapapun kemilaunya, ia hanya mampu menyilaukan mereka yang berkacamata,
Para wong mbojeh yang haus kenikmatan dunia.
Tapi tidak untuk kita.
Karena kita yang sadar bahwa perjalanan masih panjang,
Percaya bahwa stasiun terakhir menawarkan lebih dari sekedar emas dan permata.

Pemandangan di balik jendela menyajikan laut yang tak berujung.
Kadang tenang seakan bersahabat,
tapi tak jarang ombak menghantam dan menggulung kita dalam kematian yang tragis.
Karang tajam siap menusuk.
Dimana setiap sisinya tertempel nafsu setan.
Air, pasir, dan garam.
Sekali lagi membisikkan pada kita bahwa perjalanan ini masih panjang.

Dan perjalanan ini memang masih panjang.
Dimana anak iblis menjajakan darah dengan harga murah.
Dalam daftar menu tertera jus nanah lengkap dengan kebusukannya.
Tangan api mereka menenteng roti-roti dilapisi selai dosa.
Dibungkus plastik seolah nikmat.
Beberapa dari penumpang berkacamata membeli dan menelan.
Sang ayah -iblis- tertawa.
Sigap memberi komando agar anak-anaknya segera mendorong para pembeli itu keluar dari kereta.
Ya, mereka gagal.
Berhenti lebih dulu bahkan sebelum perjalanan ini selesai.
Penghuni kereta ini makin berkurang.
Satu-persatu terjun digandeng setan.

Dan selama kereta ini masih berjalan,
Ayah dan anak itu tidak akan berhenti berdagang.
Namun kita yang berpikir dan mengetahui bahwa perjalanan masih sangat panjang,
Dari awal telah dan selalu membawa bekal.
Bekal yang dulu kita ikrarkan,
Bekal yang tak akan pernah habis, walau terkadang memang mengalami fluktuasi.
Bekal yang tak bisa digadai atau dijual,
Bekal yang Ia ciptakan dengan nama "Iman".


~Andini Nova

Who knows?

Gw akan tetap begini, walaupun..

by Novayuandini Gemilang on Tuesday, October 27, 2009 at 1:40am on Facebook

Gw akan tetap begini,
seorang cewe yang slalu pake celana jeans dipadanin kaos oblong, sepatu keats,
Walaupun orang-orang bilang gw ng modis, NG FEMINIM.

Gw akan tetap begini,
Kemana-mana naek motor dengan helm gede, masker hitam, dan jaket gombrong,
Walaupun orang-orang bilang gw lebih kelihatan macho daripada cantik.

Gw akan tetap amat sangat bersyukur menjadi anak dari nyokap gw yang single parent, walaupun hanya seorang karyawati biasa dengan gaji kurang dari 2juta/bulan. Tapi dengan hebatnya dia bisa membesarkan sendiri EMPAT orang anaknya, TANPA CAMPUR TANGAN SEORANG SUAMI.

Dan gw akan tetap bangga menjadi bagian dari keluarga gw walaupun orang-orang bilang,
"Bokap lo mana? kaga diakuin lo ya?"

Gw akan tetap begini,
Anak terakhir dari empat bersaudara, dimana tiga abang gw ng kesampaian untuk kuliah karena keterbatasan ekonomi. Gw tetap bangga dengan mereka yang mendukung gw untuk meneruskan keinginan mereka yang ng bisa tercapai.
Walaupun orang-orang bilang,
"Hah? Sodara-sodara lo ng ada yang kuliah? ng ada yang punya gelar?

Gw akan tetap begini,
Seorang cewe yang bangga dengan pekerjaan sampingan ibunya yang menjual pulsa, kakaknya yang menjual gorengan dan es, serta saudaranya yang buka warung kelontong,
Walaupun org2 blg,
"Profesi Keluarga lo ng ada yang lebih elit dikit?"

Gw akan tetap begini,
Cewek yang cinta dengan rumahnya yang sederhana namun nyaman, bukan di komplek tapi di kampung, yang kadang berhawa panas karena tidak ber-AC, yang hanya terbuat dari triplek, yang tidak mempunyai pagar depan,
Dan gw akan tetap mensyukuri semua nikmat ini, walaupun orang-orang bilang,
"Ini rumah lo?" (bertanya dengan nada merendahkan)

Dan,
Sampai kapanpun gw akan tetap begini,
Cewe yang dulunya ng lebih dari seorang pendosa. Yang sekarang telah tertampar dengan teguran Allah, yang membuat gw tersadar,

gw akan tetap begini...
Walaupun ngga jarang orang yang deket sm gw, bahkan sahabat gw sendiri pergi menjauh karena merasa takut dengan perubahan hidup gw.

Gw jg akan terus begini,
Seorang cewe yang akan terus bangga dengan dirinya, walaupun selalu dibilang kurus kurang gizi, padahal orang lain yang berkata seperti itu ng tau alasan kenapa gw kurus dan ng bisa gemuk.

Dan gw akan tetap begini,
Tetap dengan pendirian gw,
tetap dengan rasa syukur gw, tetap dengan rasa bangga gw, walau apapun penilaian orang tentang gw.
Penilaian dari manusia mungkin penting, tapi jauh lebih penting penilaian Allah terhadap gw.
I trust my God, Allah..

Terima kasih untuk orang-orang yang telah mengajarkan gw ntuk menjadi seorang yang pandai bersyukur :)
***

catatan : note di atas adalah salah satu note di facebook saya. Dibuat lebih dari dua tahun yang lalu, saat kefleksibelan gender masih merajai diri saya.. hari ini lagi iseng-iseng baca notes sendiri di facebook, lalu ditemukanlah note ini. waaahhh, jadi teringat masa lalu, ya diri saya di masa lalu. saat itu boro-boro kepikiran untuk berhijab, masih di awang-awang. tomboynya bukan main. tapi pas ditulisnya notes ini, saya memang sudah rajin solat lima waktu (udah umur 18 tapi baru rajin solat :p )

sekarang alhamdulillah, saya sudah bukan transgender lagi *loh, wanita menyerupai laki-laki maksudnya hahaa. sebulan setelah note ini dibuat, tepatnya 23 November 2009, telah saya putuskan untuk berhijab. hanya dalam rentang waktu satu bulan! Subhanallah, waw! saya juga kaget. Benar-benar drastis penampilan saya dulu dan sekarang! aaaa sayapun salut sama perubhan saya ini. dulu mana terpikir, pake rok aja ogah, kecuali rok sekolah hehe. Tapi perubahan penampilah ini tentu harus diiringi dengan sedikit demi sedikit meninggalkan kejahiliyahan. islam itu kaffah kan? manusia tidak bisa memilah-milah mana urusan dunia dan mana yang berkaitan dengan akhirat. atau mana yang persoalan ibadah, dan mana yang bukan. setiap sikap dan lakunya harus sesuai dengan syariat islam, apapun urusannya :)

sampai sekarang saya masih dan akan terus dalam proses memperbaiki diri. yaaah jangan hanya display yang dirubah, tapi juga hati dan sikap. yakaann? semoga tetap istiqomah di jalanNya.

Status facebook saya hari ini, Kamis 9 Agustus 2012



Rencana Allah memang misterius, dan INDAH :D













Alhamdulillah, mendapat nikmat hidayah yang luar biasa.

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.s. an-Nahl: 18).

‘Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan : ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’. (Q.S Ibrahim (7))


~Andini Nova

Jumat, 24 Desember 2010

tulisan ini..

Waktu bergerak sangat cepat dan tanpa pandang bulu, tanpa mau menunggu dan terus berjalan konstan. Kadang merasa tertinggal sangat jauh. Tanpa kamu sadari, tiba-tiba kamu telah menjadi seperti sekarang ini. Banyak kenangan teringat dan banyak kenangan terlupakan juga. Peristiwa demi peristiwa datang dan pergi, ada yang memilukan tapi tidak sedikit pula yang membahagiakan. Tapi ingatlah, itu semua hanyalah peristiwa yang menjadi bagian dalam hidupmu.

Kini tak terasa waktu telah membawamu menuju kedewasaan,
tuk memilih pintu-pintu kehidupan yang akan tentukan ornamen detik ini dan esok.
Untukmu aku titipkan doa, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmatNya kepadamu, selalu memberimu nikmat sehat, dan memudahkan semua usahamu menuju kesuksesan di jalanNya.


~Andini Nova
note : tulisan ini dibuat sekitar enam bulan yang lalu saat seorang teman berulang tahun.

Subtitution

Coba buka mata anda lebar-lebar,
Dan lihat dengan lebih jelas lagi.
Bagaimana? sudah?
Yap, "Saya Nova, sekali lagi saya ulangi, NOVA"
"bukan DIA atau DIA."
Salah besar jika anda melihat saya demi mengalihkan pandangan anda dari mereka.


"Hey sorry, i'm not a subtitution person."

~Andini Nova

22 Desember 2010




there was no message from you on yesterday..

~Andini Nova

Minggu, 19 Desember 2010

Selamat Datang, Ukhti!

Bagaimana kalau kita akui saja bahwa hubungan kita kacau. Dan kita tetap mempertahankannya. Kita tahu kalau kita sering bertengkar. Tapi kita tidak ingin hidup tanpa diri kita masing-masing. Dengan begitu kita bisa hidup bersama. Menderita, tapi bahagia karena tidak terpisah.

Entah sudah berapa kali ia memperlakukanku seakan aku ini hotel yang bebas ia singgahi tiap ia ingin lalu ia tinggalkan saat sudah bosan. 3 tahun pernikahan kami berjalan seperti ini, tanpa perubahan. Kadang aku merasa jengah, letih karena terus tersakiti. Sebagai istri, harga diriku benar-benar diinjak-olehnya. Nyaris tanpa sisa. Tapi di lain sisi memang harus kuakui, aku menikmati perlakuannya.

Ananda Gibran. Lelaki itulah yang menjadi suamiku. Masih teringat jelas wajahnya yang sumringah saat melafalkan ijab qabul. Membuat namaku berganti jadi Nyonya Gibran. mengisi hari-hariku, hinggap di setiap rutinitas hidupku, dan dengan perlahan tapi pasti mencengkram hatiku.

Sesuai dengan nama belakang yang diberikan orang tuanya, Gibran, yang diambil dari nama penulis terkenal Kahlil Gibran. Nanda-begitu ia dipanggil-memang seorang lelaki yang puitis. Ia pandai menyulap kata demi kata menjadi puisi indah yang bisa membuat setiap orang yang membacanya menjadi terenyuh, termasuk diriku. Setiap ucapannya selalu saja terdengar indah, walau seringkali jauh dari realitas, bahkan mungkin terselubung niat busuk.

Seperti hari ini, ketika tadi di jam istirahat makan siang, aku memergokinya tengah mengobrol sangat akrab dengan Dannisha di kantin kantor, sambil sesekali mereka berpegangan tangan dan saling merangkul. Bukan main kedongkolanku. Langsung saja kuhampiri mereka dengan dengan membawa sejuta api cemburu yang berkobar.

"Nanda!".

Dua terdakwa perselingkuhan itu terlihat kaget dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Nanda menatap ke arahku dengan wajah penuh kepanikan. Ia langsung bangkit dan memegang tanganku, tapi kutepis. "Kei, jangan mikir macem-macem. Ini ngga seperti yang kamu lihat".

"Bulshit!"

Segera saja kutinggalkan tempat itu, muak rasanya jika harus lama-lama melihat wajah busuk mereka. Kudengar derap langkah kaki di belakangku, sepertinya Nanda mengikutiku. Kupercepat langkahku, namun tiba-tiba ia menarik tanganku dengan kasar. Kuputar tubuhku menghadapnya, "Lepas!" akupun langsung kembali ke ruang kerjaku, meninggalkannya yang terdiam penuh kekesalan. Hah, tidak salah?! Harusnya aku yang kesal, Bung!

Saat jam pulang tiba, Nanda menghampiriku dan menyeretku menuju parkiran. Entah mengapa aku tidak memberontak. Dan akhirnya, sperti biasa, kami pulang bersama. Seakan tidak ada sesuatu yang salah.

Sesampainya di rumah, Nanda berusaha menjelaskan kejadian tadi siang, dan meminta maaf seolah-olah ia merasa bersalah. Ya, seolah-olah. Aku sudah hapal benar lakunya. Permintaan maafnya tidak menyiratkan apa-apa. Hanya sekedar ritual yang ia lakukan setiap habis melakukan kesalahan. Dan setelah itu? Nothing!

Aku mengacuhkannya, rasanya benar-benar bosan terus terjepit dalam situasi basi. Akur, bertengkar, menyakiti, tersakiti, minta maaf, memaafkan, akur lagi, terus berulang seperti itu. Tidak ada dari kami yang berubah. Entahlah, aku rasa aku sudah cukup menjadi istri yang baik. Memang dasar dia saja yang brengsek!

Dari awal memang pernikahan ini adalah kesalahan. Kami yang tadinya merupakan sepasang kekasih yang dimabuk asmara, karena buta agama, jadilah kebablasan, dan aku hamil! Mau tak mau pernikahan bodoh ini harus terjadi. Aku akui aku memang mencintainya, tapi menikah? Oh tak pernah aku bayangkan akan melepas masa lajangku sebegini cepat. Di umurku yang baru menginjak 18 tahun! Tepat sebulan sebelum pengumuman kelulusan SMA. Untung saja tidak ada orang luar yang mengetahui kehamilanku. Akhirnya aku lulus dengan mulus dan tanpa menyandang predikat siswi SMA yang hamil di luar nikah.

bersambung

~Andini Nova

Ya Ishbir..

Manusia adalah kaum victorian yang di luar terlihat acuh di dalam merasa butuh.

Perlahan tapi pasti, hati ini menjadi ringkih.
Tidak siap mengatakan, karena memang waktunya pun belum datang.
Tak kuat untuk menyimpan, tapi mencoba bertahan dengan iman dan sabar.

Tidak ada yang datang hanya dengan memikirkannya kan?
Namun bagiku, cukuplah mengharapkanmu dalam diam.
Walau kecenderungan terkadang menimbulkan bahaya, tapi kita berdoa tidak untuk kita.

Menahan.
Mulut ini diam bukan lantaran bisu,
Hanya ada beberapa hal yang memang tidak harus disampaikan.

Aku tidak pandai mengatur kata-kata yang berantakan ini, seberantakan rasa ini.
Biarlah perasaan ini tetap menjadi misteri yang kita nikmati sendiri.
Belajar menjaganya agar tetap sejalan dengan syara.

Walau tak ada kata yang terucap untuk memberi arti,
Pun kita memang sudah sama-sama mengerti.
Karena hanya itu yang kita ketahui di bumi ini dan hanya itu yang kita perlu tahu.

Jika sudah begini,
Tentu kamu dan aku tidak ada yang perlu lari atau bersembunyi.
Kita sama-sama sedang menunggu dengan sabar, bergelut dalam euforia penantian.

Dan untuk sekarang, mari masing-masing berjuang.
Untuk diri kita, keluarga kita, agama kita, hidup kita.
Hingga jika Allah memang mempertemukan kita lagi nanti,
Kita telah siap untuk mengatakan, "Aku bersedia."

~Andini Nova

SE. MA. NGAT. SEMANGAT!

Menurut Malthus, semakin sedikit yang kita miliki semakin sedikit yang kita harapkan. Tapi sepertinya jarang ada orang yang ingin memiliki sesuatu hanya sedikit. Jika makan saja inginnya banyak, punya harta maunya banyak, punya anak kalau bisa juga banyak (sesuai mitos banyak anak banyak rejeki, hihi). Lagipula, pernyataan Maltus bertentangan dengan yang diungkapkan oleh Disraeli, bahwa hidup ini terlalu singkat untuk berpikir kecil dan berbuat hal yang kecil-kecil. Maka dari itu, berpikir besarlah! Tp jgn lupa juga, bersyukurlah!

Aku pernah mendengar sebuah kalimat yang bunyinya seperti ini "Simple life, simple problem", tapi entah mengapa batin tidak setuju dengan kalimat itu. (kenapa ya?) karena mungkin bagiku orang-orang yang selalu ingin ke-simple-an dalam setiap hal di kehidupannya, adalah orang yang "culun" (meminjam kosakata dari seorang teman, haha). Life is never flat, (artinya? Jgn tidur malem2), banyak tantangan besar yang menunggu kita di luar sana. Jangan terkungkung terlalu lama dalam zona nyaman yang tanpa disadari telah membuat diri kita menjadi pribadi yang manja.

Apa asiknya jadi orang "biasa-biasa saja?". Hidup biasa-biasa saja, nilai biasa-biasa saja, otak biasa-biasa saja, ibadah biasa-biasa saja. Apalagi jadi pribadi yang "asal", asal kuliah, asal lulus, asal solat, dan semua asal-asal lainnya. Kalau bisa jadi luar biasa, kenapa masih suka sama yang biasa? (apalagi sama si asal) ckck.

Lebih baik menggunakan otak kita untuk berpikir dan membuat gagasan daripada menjadikannya sebagai gudang fakta (Albert Enstein)

Sebenarnya saya juga masih sulit untuk mengimplementasikan hal-hal yang saya tulis. Tapi, so what? Yang sulit justru yang menantang untuk diraih. Sekarang ini saya masih dalam proses pencapaian semuanya. Everything's possible, right? Semua mungkin dengan seizin-Nya :) , asal kita mau berusaha dan berdoa. Hasil mempunyai korelasi positif dengan usaha yang kita lakukan. Jika usaha kita maksimal, ditambah dengan doa dan tawakal kepada Allah, Insya Allah hasil yang diperoleh juga sebanding.

Menurut Terry Wagon dan Ken Blanchard, dunia pengetahuan kita dibagi ke dalam 3 irisan pai. Irisan pertama dan terkecil, kita tahu apa yang kita tahu. Irisan kedua yg sedikit lebih besar dari irisan pertama, kita tahu apa yang kita tidak tahu. Irisan ketiga yang paling besar, kita tidak tahu apa yang kita tidak tahu.Kalau dianalisis, sepertinya aku masuk dalam kategori pai irisan kedua. Iya ngga sih? Iya kayanya. Banyak hal yang belum aku tahu, untungnya aku tahu kalau aku tidak tahu, jadi aku terus mencari tahu. Semakin banyak pertanyaan yang muncul darimu, menandakan semakin sering kamu berpikir. Mungkin untuk saat ini aku termasuk orang yang tidak tahu apa-apa, yah bisa dibilang tidak pintar (kalau tidak mau disebut bodoh), hmm tapi mungkin lebih tepatnya "aku belum pintar", aku masih dalam proses menuju ke sana. Jadi mohon bimbingannya bagi teman-teman semua yang mungkin lebih pintar dari aku.

Sepertinya tulisanku ini sudah mulai ngelantur. Ah biarkanlah. Mari berusaha lebih keras untuk hidup kita tanpa lupa bersyukur atas semua nikmatNya.

SE MA NGAT, SEMANGAT! hamasah!!! :D

~Andini Nova

Telah Lari

bahagia?
apa itu bahagia?

bagaimana rasanya bahagia?
memangnya kamu seperti apa saat bahagia?
memangnya dia seperti apa saat bahagia?
memangnya kita seperti apa saat bahagia?
memangnya benar kalian akan bahagia?

tapi sekarang? impian itu justru menghilang kan?
atau bersembunyi? atau bahkan lari membawa ketakutannya?
ketakutan bahwa kamu, dia, kita tidak akan pernah berhasil mencapainya.

lalu jika ia menghilang. mungkin saja ia akan berada di sebuah bintang
Tapi, ah!
begitu banyak bintang di angkasa
harus kemana kamu cari? mencari ke bintang? bintang yang mana?
jangan bercanda!

sudahlah, lebih baik kamu anggap saja semuanya terlalu gelap, jadi tidak bisa melihat apa-apa
atau anggap sekitarmu teramat berisik, sehingga tidak mampu mendengar apapun
pejamkan matamu, dan berlakonlah seakan tuli.

Ya, memang hanya sebatas impian kan?
ia impian. hanya impian
Dan akuilah, bahwa kamu telah kehilangan jejaknya
bahkan bayangannya pun tak sanggup kamu temukan...

~Andini Nova

Jealous?

Ya.
Aku ingin menyangkalnya.
Tapi kamu benar.
Aku kaget melihat dia seperti itu.
Aku marah karena melihat ada seseorang di sampingnya.
Setelah melihat itu aku merasa sedih.
Karena sedih, aku kalah.

Taek Yong dalam serial Korea He's Beautiful

I Have a Dream..

Aku punya sebuah mimpi, bahwa aku bisa terus istiqomah di jalanNya. Apapun yg terjadi, apapun yang orang lain katakan tentangku, tidak akan pernah cukup mampu untuk membuatku berpaling. Bukankah Allah Maha Mengetahui?

Aku punya sebuah mimpi, bahwa suatu hari nanti aku akan menjadi seorang novelis terkenal. Alangkah senangnya melihat orang-orang menikmati karyaku.

Aku punya sebuah mimpi, bahwa suatu hari aku akan menjadi seorang Hj yang mabrur. Dan tentu saja aku tidak ingin sendiri, aku ingin mama dan jidahku merasakan hal yang sama, amin.

Aku punya sebuah mimpi. Bahwa suatu hari nanti aku akan menjadi seorang istri yang solihah bagi suamiku, ibu yang baik bagi anak-anakku, yang mencintai mereka dengan sepenuh hatiku, dan bersama-sama menuju cintaNya.

Aku punya sebuah mimpi, bahwa suatu hari nanti aku pasti sehat, aku bisa kesana-kemari tanpa beban, berlari tanpa ketakutan akan lelah, dan tidur tanpa kecemasan.

Aku punya sebuah niat, bahwa mulai hari ini aku akan lebih menyayangi diriku sendiri, tidak merusaknya, tidak menyiakannya, agar semua mimpiku itu bisa kuraih suatu hari nanti.

Banyak aforisme yang sebenarnya bertentangan dengan nurani, tapi aku lelah mengeluh, dan memang tidak boleh mengeluh. Hanya orang-orang lemah yang selalu punya alasan mengapa dirinya tidak pernah maju.

Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jka kamu mengingkari nikmatKu, maka pasti azabku sangat berat" (QS Ibrahim : 7)

Hamasah! \O.O/

~Andini Nova

On the way to Dufan

antrian
Hari ini aku ke Dufan! Aaaaa setelah sekian lama, tepatnya 19 tahun menunggu, akhirnya hari ini datang juga. Hahaha. Aku pergi dengan teman-teman sekelas di kampus. Rencananya mau berangkat bareng, tapi karena satu dan lain hal, akhirnya kami berangkat sendiri-sendiri dan sepakat bertemu di halte busway Ancol jam 10.

Dari rumah aku berangkat pukul 9, ya lewat-lewat dikitlah. Itu juga setelah melewati berbagai adegan ribet. Lupa inilah, itulah. Belum ini belum itu, ketinggalan apalah, aaaa riweuh. Lalu setelah memohon doa restu dari keluarga dan mendengarkan wejangan-wejangan (berasa mau nikah), akhirnya kulangkahkan kaki menuju halte busway Indosiar. Bismillahitawakaltu alallah walahaula walakuwwata illa billaah.

Dari indosiar, aku transit di harmoni dan menuju pintu pemberangkatan arah Ancol. Wuidihh, panjang banget antriannya. Dengan sabar diri ini menanti datangnya bus Transjakarta. Lima menit, sepuluh menit, 15 menit, waduh ngga dateng-dateng juga. Antrian sudah makin panjang. Padat!

Iseng, sambil mendengarkan musik melalui headset, kuamati situasi sekitar. Hmm, antrian didominasi keluarga kecil, ibu bapak yang membawa anaknya, pasangan muda mudi, dan remaja remaji dengan dandanan gahoel, hehe. Pandanganku terhenti pada sepasang kekasih yang sepertinya tengah dimabuk asmara. Sudah bisa ditebak apa yang biasanya dilakukan sepasang kekasih. Yap! Bermesraan. Dengan tanpa malu-malu mereka berpegangan tangan dan sesekali saling merangkul, memeluk, dan Si lelaki mencium si wanita. Idihh! Memang sih, cuma kecupan di kepala (cuma?), tapi tetap saja kan tindakan seperti itu tidak layak dilakukan oleh mereka yang belum menikah (ehem, jadi inget dulu hmmm), apalagi di tempat umum! Wah parah ini! Gemes deh eike lihatnya. Kualihkan pandangan dari mereka, dan kulihat dua anak kecil sedang asyik menonton adegan 17+ itu. Wajah mereka terlihat bingung dan malu-malu, lalu ketawa-ketiwi sambil saling berbisik.

Wah bahaya nih, pikirku. Kalau mereka terus dibiarkan melihat kaya beginian, bisa-bisa nanti mereka mencontoh. ngga boleh dibiarin ini mah. Wah parah, ih parah, aaa parah! (heboh sendiri). Ya sudah, akhirnya kuputuskan untuk menegur pasangan itu dengan sopan. Digarisbawahi ya, "dengan sopan". Pakai senyum pula :)

"Emm.. Mas, maaf, diliatin anak kecil tuh. Tolong jangan bermesraan disini. Ini tempat umum. Maaf ya mas."

Pasangan itu langsung melihat ke arahku dengan pandangan tidak senang. Daaaan, si lelaki menjawab,
"Apa deh lo. Jangan ngusik urusan orang dong. Hak gue mau ngapain kek."

Deg! Wah, dibilangin baik-baik malah marah. Sabar, tenang va tenang. Jangan kebawa emosi. "Iya, saya tahu itu emang hak anda mau ngapain. Tapi ini tempat umum loh, tolong jangan beradegan sevulgar itu."

"Terus, urusan lo apa? Sok alim banget", wajahnya makin sewot.

Aih aih ni orang ya. Untung cowo! Jadi saya ng berani mukul (takut dibalesnya lebih parah, haha). Ngga lah becanda, ngga boleh ada adegan kekerasan, ini bukan film action. Ok, tarik nafaaas. Slow...

"Gini loh Mas. Coba lihat di sekeliling anda, banyak anak kecil. Kalian tidak sepantasnya beradegan seperti itu disini. Gimana kalau anak kecil itu mencontoh perbuatan kalian? Kalian mau tanggung jawab?" Tahan diri sedikit selama di tempat umum bisa kan? Punya malu sedikit bisa kan?"
Oops! Ok kuakui kalimat terakhirku agak kejam. Afwaaan, hehe.

Dan mereka langsung terdiam. Si lelaki langsung melepaskan pelukannya, dan si wanita menunduk seketika, entah apa yang dia lihat di bawah. Orang-orang yang sedang mengantri juga kompak langsung pada kasak kusuk. Hmm cuek ajalah. Tapi kulihat dari air mukanya para orang tua yang membawa anak, aku rasa mereka setuju dengan tindakanku. Paling-paling yang tidak setuju ya para pasangan yang lain, dag dig dug waswas akan ditegur juga hehehe.

Ah yasudahlah. Bis belum juga datang. Kukencangkan lagi headset, lanjut mendengarkan lagu yang diputar oleh Nokia E51 kesayanganku, Pas Band-Jengah.
"Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Fushilat:40). Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu." (HR. Bukhari)

~Andini Nova
hanya tulisan normatif

Selasa, 23 November 2010

satu tahun!

23 November.

Hari ini setahun yang lalu, ketika kuputuskan untuk melepas semua pakaian jahiliyah itu.

Hari ini setahun yang lalu, ketika hati mantap memilih untuk memakaimu.

satu tahun yang amat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dalam hidupku.

satu tahun yang membuatku lebih mengerti akan banyak hal.

satu tahun yang penuh pelajaran, hikmah, dan berkah.

Semoga tetap istiqomah menjaga jilbab ini.

Terima kasih Ya Allah, atas semua pencerahan.

Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena Allah Azza Wa Jalla, maka Allah akan menggantikan baginya yang lebih baik dari perkara tersebut " (Musnad Ahmad: 3/363, Al-Haitsami berkata di dalam kitab Mujma'uz Zawa'id 10/296)


~Andini Nova

Minggu, 07 November 2010

Mimpi yang Aneh!


Tadi aku bermimpi, menurutku itu mimpi aneh. Aneh bangeeetttt. Ih, pokoknya aneh deh. Beneran aneh. Yeee ngga percaya! Dibilang aneh juga! Ckckckk ahahha (apa sih? -,-a). Jadi begini ceritanya, jeng jeng jeng…

Di dalam mimpi itu, aku sedang pergi ke sebuah mall, hmm tapi seperti pameran buku gitu, karena di tempat itu banyak sekali stand buku. Anehnya, saat itu aku tidak memakai kerudung. Aku ingat sekali, di mimpi itu aku berfikir, ah sehari doang ini lepas kerudung, lagipula aku pergi bersama keluargaku dan naik mobil pribadi pula. (padahal di dunia nyata boro-boro punya mobil hihi). Di mimpi itu aku memakai celana pendek hampir menyentuh lutut, dan t-shirt (tapi lupa warna apa, kayanya celananya abu-abu deh), aku juga membiarkan rambut panjangku terurai.

Saat sedang melihat-lihat buku, aku seorang diri. Tak tau juga kemana anggota keluargaku yang lain. Tiba-tiba ada yang menghampiriku, seorang lelaki. Ia berkata gini “Eh Nov, noh gara-gara lu tuh si Anti jadi begitu”.

Aku yang tak paham maksud ucapannya, segera mengikuti langkahnya. Kami berdua tiba di sebuah stand buku dimana kasirnya itu seorang perempuan dan wajahnyaaaa… wajah tetanggaku (umurnya sebaya denganku, teman main waktu kecil, sampai sekarang juga masih suka ketemu sih). Tapi ada yang berbeda, apa yaaa…. Oh My God! Dia berkerudung! Warna kerudungnya oranye atau merah agak-agak lupa juga, padahal di dunia nyata sampai sekarang ia memang belum berkerudung. Lalu aku menghampirinya. Di situ ada beberapa orang yang aku tidak kenal.

Lalu aku berkata “Lo pakai kerudung?”

“Iya, An”, jawabnya singkat sambil tersenyum. (keluarga dan teman rumahku memanggilku Andini)

“Sejak kapan? Kok bisa?”, tanyaku dengan rasa penuh penasaran.

“Belum lama sih, karena liat lu pakai kerudung, jadi termotivasi gitu, hehe”

Aku cuma bisa melongo. Pokoknya saat itu perasaanku ngga enak banget.

Lalu dia balik bertanya kepadaku,
“Kok lu ngga pakai kerudung, An?”

Ya ampuuunn, malu bukan main aku ditanya kayak gitu. Aku menjawab sekenanya, “Yah biasalah, fluktuasi iman, iman gue lagi turun nih, hehe”. Jawabku mencoba sesantai mungkin untuk menutupi malu. Lalu aku mendengar bisik-bisik dari teman-temannya, “Padahal karena dia si Anti pakai kerudung, eh sekarang dia lepas kerudung”. Aku langsung saja pergi dari situ. Lari dari kenyataan….

Begitulah ceritanya... Eiitttsssss! mimpiku belum selesai, itu baru session pertama (panjang juga yaaa, kaya cinta fitri aja hahhaa). Tapi serius, ini beneran mimpiku tadi, nih aja baru bangun, solat subuh langsung ngetik di komputer. Kalau nanti-nanti ngetiknya, takut keburu lupa (maklum, aku pengidap PIKUN haha). Kata pikunnya ngga usah pake huruf kapital gitu kalee dibold pula! (padahal hasil ketikan sendiri , ngomel-ng omel sendiri, ckck ya sudahlah).

Setelah kejadian tadi yang sangat berhasil membuatku malu itu, setting di mimpiku tiba-tiba langsung berubah. Tapi aku masih tetap tidak memakai kerudung. Pakaiannya masih sama kaya yang kupakai di pameran buku tadi. Sepertinya saat itu, waktu sudah menjelang sore karena sinar matahari tidak terlihat. Entahlah, mungkin juga karena pengaruh hujan, ya di mimpi itu hujan sedang turun. Seingatku, saat itu aku sedang di sebuah tempat seperti koridor sekolah dan aku sedang duduk-duduk melihat teman-temanku yang asyik bermain kartu uno (kalau ngga salah nih yaaa), kalau ngeliat dari permainannya sih, berarti mereka teman-teman kampusku, karena saat ini memang teman sekelas di kampus lagi pada keranjingan main uno, ckck.

Back to the story, entah karena kebelet atau apa, aku tiba-tiba pamit ke mereka “Eh bentar ya gue kesana dulu” (entahlah kesana mana). Yang jelas setelah pamit aku berjalan pelan menuju suatu tempat yang aku pun tak tahu mau kemana. Aku melewati beberapa kerumunan orang yang juga sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Agak aneh deh pokoknya, entah setting di mimpi itu kampus atau sekolah. Bener-bener ngga jelas! Saat tengah berjalan, diiringi tetesan hujan, tiba-tiba terdengar suara ribut dan “DOR DOR DOR!!!”. Aku langsung saja tersentak kaget. Ada apaan nih, pikirku. Dan saat aku menoleh ke kanan….. terlihat sebuah tempat seperti lapangan parkir dan disitu banyak polisi! Polisi yang sedang menembakkan pistolnya dengan liar. Ke arahku, ke arah orang-orang tadi, pokoknya ke semua arah deh! Astaghfirrullahal’adzim.. kontan aku dan orang-orang tadi langsung lari terbirit-birit menyelamatkan diri. Pas adegan ini nih, persis banget kaya adegan di film The Matrix, jadi pas aku menghindari peluru yang ditembakkan polisi, gayaku lompat kesana lompat kesini, menghindar ke kanan dan ke kiri, dengan effect slow motion… hahahha serius ini serius emang kaya gitu kejadiannya di mimpi tadi. (tanpa rekayasa!). Ada beberapa dari orang-orang tadi yang terkena tembakan.. kayanya tewas seketika deh, ada juga yang merintih kesakitan , berdarah-darah. Haduuuhhh pokoknya suasananya genting, horror, menyeramkan, mengerikan!!! Udah gitu hujan makin lebat aja, becek, disambut suata petir yang bersahutan, bikin suasana makin horror aja!

Aku teringat dengan teman-temanku yang sedang main uno tadi, ya ampun! Gimana kabar mereka yaa, langsung saja aku berteriak “Woii ada polisi woii ada polisiiiiii!!!” ngga tau deh suaraku itu bakal kedengeran sama mereka atau ngga, yang penting teriak ajalah. “Woi kabuur woi kabuuurrrr”. Setelah berteriak, aku langsung lari lagi, sambil terus menghindari peluru dari tembakan polisi itu, dalam hati aku berdoa “Ya Allah, jangan sampai kena kek, Ya Allah lindungi aku Ya Allah”.

Lalu aku melewati sebuah lapangan dimana disitu banyak anak-anak yang sedang bermain.. main apa ya tadi? Kayanya bulu tangkis atau ngga voli deh agak ngga jelas juga mereka lagi pada ngapain. Pokoknya tuh lapangan. Yang jelas bukan lapangan bola, karena ngga ada rumputnya. Padahal lagi ujan, malah main di lapangan, ckck. (sempet-sempetnya ngomel). Saat aku melewati mereka, aku berteriak lagi “Polisi woooiiii polisiiiiii, kabuuurrrrr!!!”. Langsung saja bocah-bocah itu lari bersamaku. (Sebenernya ini setting ceritanya dimana sih, ada anak kecil segala, ampun deh). Di belakang kami para polisi terus mengejar dan menembakkan pistolnya makin sembarangan. Aku ingat, setelah beberapa saat berlari, aku dihadapkan pada dua pilihan yaitu belok ke kanan ke sebuah koridor gitu, atau ke kiri ke sebuah pintu kecil dimana pintu itu mengarah ke perkampungan warga. Kulihat anak-anak tadi lari kesana, kupikir, “Ah kayanya lebih aman kalau aku lari ke kampong, bisa sembunyi di rumah warga”.

Akhirnya kuputuskan untuk ambil arah kiri, baru aja melewati pintu kecil itu, dan membelokkan langkah ke kanan, ternyataaaaaaaa…. Sudah ada beberapa polisi disana! Gaswat! Terlihat beberapa orang yang sedang duduk di bawah (aspal) dan polisi sedang mengintrogasi mereka. Haduhhh, apes banget, malah ketangkep. Tapi aku tuh juga bingung emang kita-kita ini pada salah apa sih sampe dikejar-kejar kaya anak kambing, pake ditembak pistol pula. Sadis abis! Aku melangkah gontai ke arah polisi yang sudah memanggil-manggilku itu.

Aku takuuuuuutttt bangeeeettt. Ya Allah aku belum mau mati hikshiks, aku belum nikah nih, belum punya suami yang soleh, belum punya anak-anak yang lucu-lucu, belum bahagiain mama, belum.... (kalau kata-kata yang ini cuma tambahan aja yaaa, ahhahah :p). tapi lagi-lagi aneh, aku disuruh polisi itu masuk ke sebuah kelas, (kelasnya berada tepat di samping aku berdiri sekarang).

Lalu masuklah aku ke kelas itu. Ketika masuk, (masih di pintu nih), ada seorang lelaki berkata “Teroris Nov teroris”. Suaranya agak aneh, tapi kayanya kenal deh sama nih orang. Pas aku lihat wajahnyaaaa….. dia Abah! Teman SMA ku dulu. Kok ada dia segala sih. Haduuhhhh. Ya sudahlah, kami berdua masuk ke kelas dan langsung menempati kursi yang kosong.

Di dalam kelas itu ada beberapa orang yang kukenal, Eni (teman sekelasku di kampus saat ini, ada juga beberapa teman SMA-ku, teman SMPku, bahkan sampai teman SD-ku pun ada! Ngga terlalu jelas juga sih wajah-wajahnya, tapi aku yakin mereka memang teman-temanku. Terlihat juga seorang polisi tengah berdiri di depan kelas dekat papan tulis. Entahlah ia sedang berbicara apa.

Aku bertanya pada Eni yang duduk di depanku, ada apaan sih ini, En? Ia menjawab, “Nyari teroris, Nov”. “HAH! TERORIS???! MAKSUD LOOOO ENNN???!" Tanyaku histeris. Ia tidak menjawab pertanyaanku. Wajah orang-orang di kelas ini pada aneh deh, horror! Kaya tanpa ekspresi gitu. Terus si polisi nanya, “Jadi yang tidak hadir hari ini adalah Marco, Caesar, dan Ai?” tampangnya serem abis. Dan entah kenapa, Eni yang menjawab pertanyaan itu. “Iya, Pak. Mereka yang tidak masuk. Sebenarnya mereka juga memang sudah lama tidak kuliah lagi. Menghilang begitu saja…”.

Aku makin bingung. “Marco? Caesar? Ai?” siapa pula itu. Tapi di mimpi itu aku tau banget bahwa yang di maksud Caesar dan Ai adalah bekas teman SD-ku dulu. Tapi kalau Marco? Baru denger. Ya ampuuun, kenapa dengan dua teman SD-ku itu? Apakah mereka terlibat jaringan terorisme? Aduh, suasana dan jalan cerita mimpiku makin ngga jelas. Lalu polisi itu berkata lagi “Ya, mereka teroris!”. Cerita di mimpi itu harus berakhir sampai situ, karena aku tiba-tiba terbangun. TAMAT.

***
Begitulah mimpiku, saudara-saudara! Agak aneh ya? Bagiku sih aneh banget. Karena dalam satu mimpi, aku dipertemukan dengan teman SD, SMP, SMA, Kampus, bahkan teman rumah. Entah apa makna dari mimpi ini. Yang jelas, aku juga ngerasa merinding dan agak takut saat bangun dari tidur. Aku juga ngerasa aneh, memikirkan kenapa di dalam mimpi itu aku menanggalkan kerudungku. Ya Allah na'uudzubillahmindzalik. Jangan sampai deh.

Tapiii…. Akhirnya aku sadar sesuatu. Sebenarnya, pukul setengah 5 tadi (pas banget subuh), jidahku -panggilanku kepada nenek- sudah membangunkanku agar aku segera solat subuh. Aku inget aku cuma menjawab “Iya”, tapi malah tidur lagi. Nah di tidur itulah mimpi itu terjadi. padahal jangka waktunya cuma ngga sampai satu jam loh, tapi kok mimpinya panjang banget ya. Bangun-bangun, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 6. Langsung aja buru-buru aku mengambil air wudhu dan solat.

Menurutku mimpi itu termasuk mimpi buruk, sangat-sangat buruk. Dimana aku menanggalkan kerudungku karena aku bilang imanku lagi turun dan juga karena di mimpi itu keluargaku sudah punya mobil!, dimana aku ke kampus ngga pakai kerudung (ngga kebayang!), dimana tiba-tiba aku dikejar polisi dan ditembakin pula! Ya ampuuunnn. Kayanya tuh mimpi datang dari syaitan deh (mengkambinghitamkan syaitan haha), tapi kayanya emang iya sih. Biasanya langsung bangun, ini malah tidur lagi, bukannya solat subuh! Huh. Alhasil solat subuh setengah 6. Bener-bener lalai! Ampuni aku Ya Allah.

Tapi yang masih tak kumengerti adalah mengapa teman-temanku dari berbagai masa pada muncul di dalam mimpiku itu. Sekali lagi, entahlah apa maksudnya, Wallahualam. Yang jelas aku berdoa semoga mereka semua baik-baik saja dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Dan aku sekaligus mengingatkan diri sendiri juga para pembaca tulisanku ini (itu juga kalau ada yang baca, ahaha), bagi kalian yang berkerudung, jaga kerudung kalian sampai nafas terakhir kalian ya, jangan sampai dilepas. Bagi kalian yang belum berkerudung, ayo secepatnya menyusul, hehe. Juga jangan sampai kita melalaikan solat, kalau dibangunin solat subuh, langsung bangun! jangan tidur lagi. Teruuusss, jaga kesehatan dan makan tepat waktu (apa hubungannya ya? ahhaha). Yang penting semoga kita sehat selalu dan tetap istiqomah, Amin..

Sekian ceritaku kali ini, just for share ajaaa kok heheheh ^^

~Andini Nova

Sabtu, 30 Oktober 2010

SAKSIKAN!

Tak ada jalan keluar,mungkin buntu.Tak bisa kembali, aku dan kau tak mengingat jalannya. Bukan karena ada jurang yang tak bisa dilewati, tapi memang keinginan untuk berhenti. Tak usah renungkan malam tak berbintang. Ia sudah lelah bersinar.

Aku menghela nafas panjang. Mencoba bersikap setenang mungkin walau sesungguhnya jantungku memang berdegup sedikit lebih cepat saat membaca update status Zhafran.

"Aku sayang kamu! Terima kasih ya untuk hari ini."

Aku memandangi layar monitor dengan tatapan sayu. Sekali lagi kucoba membaca deretan huruf itu, "Aku sayang kamu..", juga status hubungannya yg telah berganti menjadi "In relationship with Ayudia Rahman". Agak kaget membacanya. Tapi kekagetanku itu langsung berubah jadi senyuman. Kelegaan dan rasa syukur seketika menjalar ke tubuhku. Subhanallah, keputusanku memang tepat!

Zhafran adalah mantan pacarku. Kami berpacaran hampir dua tahun lamanya. Hubungan kami baik-baik saja, bahkan sangat baik. Kami saling mencintai, pertengkaranpun jarang kami lalui. Tapi dua bulan yang lalu, tepatnya Sabtu sore, aku mengajaknya bertemu. Kami janjian di sebuah kafe di bilangan Tebet. Hari itu adalah hari terberat sekaligus paling melegakan dalam hidupku.

"Aku mau pakai jilbab". Ucapku dengan mantap, membuka obrolan.

"Hah?!", Zhafran langsung tersedak setelah mendengar ucapanku. Hampir jus alpukat yang sedang diminumnya muncrat ke wajahku kalau saja ia tidak menutup mulutnya dengan tangan.

"Aku mau pakai jilbab", kuulang perkataanku tadi.

"Kok tiba-tiba gini? Ada angin apa?", tanyanya sambil mengelap mulutnya dengan tisu.

"Ngga tiba-tiba. Aku emang udah lama niat mau pakai jilbab, cuma baru sekarang aku ngerasa mantap."

"Yakin?", ia mengernyitkan dahi, menyiratkan keraguan akan keputusanku ini.

"Insya Allah. Aku juga mau tobat."

"Tobat? Memangnya kamu udah buat dosa apa pake tobat segala?"

Aku diam sejenak, kutundukkan kepalaku. Berkali-kali aku menelan ludah. Perang batin lagi-lagi datang. Antara meneruskan keputusanku yang satu lagi atau membatalkannya. Antara memberitahunya atau pergi dengan setumpuk tanda tanya.

"Ditanya kok malah diem?"

Aku masih belum bersuara. Kuangkat kepalaku dan kupandangi wajahnya. Lelaki ini yang telah bersama-sama denganku selama dua tahun, melewati susah senang berdua, tangis dan tawa. Ah, berat rasanya jika harus mengakhiri kebersamaan indah itu.

Di tengah lamunanku, tiba-tiba suara adzan berkumandang. Aku terhenyak, Astaghfirullah! Desisku dalam hati. Kenapa jadi ragu begini? Ngga boleh! Aku harus tetap melakukannya!
Sepertinya suara itu sengaja dikirim Allah untuk menyadarkanku yang mulai ragu.

"Dosaku emang udah banyak. Makanya aku tobat, selagi masih sempet.", akhirnya aku bersuara juga.

"Apa sih? Kayanya kamu ngga ngelakuin hal macem-macem deh."

"Kamu salah. Mungkin kamu dan aku ngga menyadarinya, tapi kita udah berbuat dosa. Pacaran itu dosa, Zhaf"

"Dosa? Kita pacaran sehat, ngga aneh-aneh. Solat kita juga jalan terus. Trus dimana letak dosanya?"

"Ya pacarannya yang dosa.",

"Kamu kenapa sih, tiba-tiba jadi religius gini?"
Pasti panjang kalau harus menjelaskan padanya secara detail. Aku ingin cepat-cepat mengakhiri semua ini,sebelum hatiku goyah lagi. Lagipula waktu ashar sudah tiba, aku tidak boleh terlalu banyak membuang waktu.

"Dalam islam, ngga ada istilah pacaran, Zhaf. Pacaran itu mendekati zina. Kita emang ngga macem-macem, tapi kita sering telponan, smsan, saling ucap sayang, padahal kita bukan mahrom!" wuih.. keren juga kalimat kaya gitu bisa muncul dari mulutku. Aku yang tadinya apatis banget sama masalah agama, sekarang malah ngomong kaya gitu. Siapa yang nyangka ya?

"Kamu apaan sih. Kaya Bu haji deh. Jangan berlebihan gitu. Selama kita ngga macem-macem, it's OK!"

"Ngga OK bagiku. Aku mau putus", akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutku. "Putus"

"Andin! Jangan bercanda!" bentaknya.

"Aku ngga bercanda. Aku bilang aku mau tobat, jadi aku mau kita putus." aku berkata sambil memalingkan wajah karena tidak berani menatapnya.

"Aku bisa terima kamu mau pakai jilbab, tapi kalau putus, aku ngga bisa. Aku terlanjur cinta banget sama kamu", suaranya mulai melunak.

"Aku juga cinta sama kamu, tapi maaf, cintaku ke Allah jauh lebih besar. Jadi aku mau kita putus. Aku takut kita terperosok lebih dalam ke jurang kesalahan!"

"Aku ngga ngerti jalan pikiran kamu. Berlebihan!"

"Terserah. Yang jelas aku mau putus. Klo nanti, entah berapa tahun lagi, kamu masih cinta aku dan siap menikah, datang ke rumahku".

Itulah kalimat terakhir yg kuucap sebelum meninggalkannya sendirian, duduk dengan wajah penuh keterkejutan.

***

Sudah dua bulan semenjak peristiwa menegangkan itu. Alhamdulillah, sudah dua bulan juga aku memakai jilbab. Pekerjaanku lancar, Keluarga dan teman-teman jg sangat mendukung perubahanku.

Sebenarnya tak lama setelah kejadian waktu itu, Zhafran sempat datang ke rumah, membujuk agar aku mengubah keputusanku. Ia juga memohon dan memberitahu berkali-tentang betapa cintanya ia kepadaku. Tapi keputusanku sudah bulat. Aku ingin bertaubat, mencoba menjadi muslim seutuhnya. Kutolak dirinya dengan sopan, dan kukatakan sekali lagi, "Datanglah kesini saat kamu sudah siap menikahiku".

And, what happens now? Sekarang dia telah berpacaran dengan wanita lain. Kekecewaan memang terbesit, tapi rasa syukurku mengalahkan hal itu. Tidak ada setitik penyesalanpun bersemayam di hatiku. Terima kasih Ya Allah, telah Kau bukakan pintu hatiku untuk kembali ke jalanMU. Dengan mantap kukatakan "Saksikan, bahwa aku seorang muslim!

Aku masih disini, tidak kemana-mana. Masih terus memperbaiki diri dan menunggu calon suamiku yang sekarang entah berada dimana, suatu hari datang melamarku..

***



“Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan menahan pemberian karena Allah, sungguh ía telah rnenyempurnakan imannya.” (Diriwayatkan Abu Daud).

Jika kita bertemu dan berpisah karena Allah, Insya Allah kita termasuk dari 7 orang yang dilindungi Allah pada hari kiamat. Hehe, keep istiqomah. Hamasah! ^.^v


~Andini Nova

Rabu, 13 Oktober 2010

No, I am Not!!!

One day in a classroom ..

I am in front of the class to tell about the summary of a fiction novel. The story which I chose is Narcissus and Echo. After have finished, lecturer asked to the students in the classroom at the time,

Lecturer : "All, Do you think Nova is a narcissist?"

All : "Absolutely yes!" (Very compact)

Lecturer : chuckled. "Nova, do you feel you are a narcissistic person?"

Me : "Oh no I am not, ma'am."

All : They absolutely disagree with my answer."Of course yes, ma'am!!!"

Me : grumbled. Cruel! grrrr. "No, I am not, ma'am. They lie! I was a shy. Please, trust me!"

All : WOOOOOOO Lebaay (laughing so loud)

Lecture : Laughing, this time seemed happier. "Ok ok, finish it."

Me : "THANK'S FOR YOUR ATTENTION. WASSALAMUALAIKUM!"
(inwardly plan for revenge)

* Based on a true story with a bit of dramatization.


~Andini Nova

Minggu, 10 Oktober 2010

Selamat Ulang Tahun, Nova!

Tulisan ini dibuat oleh sahabatku, namanya Nadia Nurfadilah. terenyuh banget saat bacanya. aaaa sedih, seneng, syukur dan haru bercampur jadi satu. apalagi pas pertama baca, pas banget tgl 16 nya. hiks2 nadia makasih yaaaaaa. semoga angka 20 bisa kita temui, dan kita masih bersama. amiiiinnnnnn :)

Check this out..

Kepada sahabat ku tersayang,
Yang kuat hatinya, keras pemikirannya, dan tangguh pendiriannya
Yang selalu mengajak ku untuk semakin dekat dengan-Nya
Yang telah mengajarkan ku untuk lebih santai menghadapi setiap rintangan  Yang mengisi hari-hari ku dengan canda tawa kegilaannya
Yang telah dua semester ini berjuang bersama-sama denganku di perkuliahan
Yang sering membuat ku khawatir ketika dia tak dapat dihubungi, apalagi ketika wajahnya tak kunjung terlihat di kelas kami,
Yang selalu mendukung ku dalam setiap kompetisi
Yang setia menguatkan ku tatkala terluka
Yang tak juga lupa memarahi ku di kala aku bersalah
Yang telah mempercayakan ku untuk mendengar segala keluh kesah nya, mengizinkan ku merasakan kehangatan keluarganya, serta tak lupa mengenalkan ku pada kucing-kucing nya yang lucu.
Selamat ulang tahun Novayuandini Gemilang Putri, semoga tahun mu yang ke-19 ini menjadi tahun di mana yang dicita-cita kan tercapai, tahun yang penuh berkah dan rahmat dari-Nya. Amin.
Selalu jaga kesehatan dan tetap semangat berjuang bersama Nadia yang cantik ini!
Hahahahha… :)

Ya Allah beri kami kesehatan dan umur yang panjang agar bisa menjalin ukhuwah lebih lama, amiinnn lagiiii

Jumat, 08 Oktober 2010

Aku, Kamu, Kita

Tegurlah aku, jika sikapku mulai menyimpang dari yang seharusnya, jika kata-kataku mulai sering menyakiti hati sesama, jika leluconku telah melampaui batas, jika wajahku terlalu masam dan enggan tersenyum serta malas menebar salam, saat pakaianku mulai seronok, saat hijabku tidak sempurna, saat aku lebih sering menonton televisi dibanding mengikuti majelis, dan saat bibirku tak lagi basah dengan bacaan dzikir,

Ingatkan aku, saat imanku mulai lemah untuk tetap berjuang dalam jalanNya, saat aku mulai lupa untuk bersyukur atas nikmatNya, saat raga ini mulai sombong untuk bersujud kepadaNya, saat shalatku mulai menjadi rutinitas spiritual semata, saat aku mulai jarang melantunkan ayatnya, saat ku lebih mementingkan duniawi, saat aku lebih sering menghabiskan uangku untuk membeli pakaian daripada bersedeqah, dan saat aku mulai lupa menjaga tingkahku sebagai seorang muslimah.

Bimbinglah aku, saat aku mulai kehilangan arah, saat aku mulai ragu, saat aku bingung dan buta, saat aku ingin mempelajari lebih dalam lagi tentang agamaku, tentang kebaikan, tentang kebenaran dan tentang jihad.

Jangan mencibirku, saat aku membutuhkan waktu yang lebih lama untuk paham, saat aku sering salah dalam setiap proses pembelajaran, saat aku mudah menangis, saat aku terlalu lemah.

Tapi kuatkanlah aku, ajari aku, koreksi kesalahanku, beritahu aku pembenarannya, dan cobalah sabar dalam menghadapiku. Karena aku benar-benar ingin belajar menjadi hamba yang lebih baik di mataNya, sama sepertimu, yang ingin dicintaiNya, yang dirahmatiNya, yang dijauhkan dari siksaNya dan dijanjikan indah surgaNya yang kekal lagi abadi.

Aku, kamu, dia, kita, mereka, mari kita saling mengingatkan, membantu dan membimbing dalam kebaikan untuk meningkatkan ketaqwaan dan mempererat ukhuwah islamiyah. Sampai jumpa di surga dengan wajah-wajah penuh cahaya. Insya Allah, amin ya robbal alamin.


~Andini Nova

Jika

Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dgn kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran sedangkan kamu mengetahuinya (QS AL-BAQARAH:42)

Ya Allah, jika cinta ini adalah ketertawanan, tawanlah hatiku dengan cinta kpd-Mu, agar tidak ada lagi yang dapat menawan hatiku.

Jika rindu ini adalah rasa sakit, penuhilah rasa sakit ini dengan rindu kepada-Mu. Agar tak ada lagi yang kurindui melebihi rinduku kepada-Mu.

Jika kecemasan dan perasaan takut kehilangan ini adalah kesalahan, sadarkanlah aku dari kemabukan. Agar tak ada lagi yang kutakuti selain takut kehilangan cinta-Mu.

Jangan masukkan namanya di hatiku, tapi masukkanlah nama-MU agar hatiku tenang. Aku meminta kepada-MU yang memiliki cinta kekal dan sejati. Bimbing aku agar senantiasa hidup di jalan-Mu. Bantu aku untuk menjauhi segala kebatilan. Dan tumbuhkanlah cinta itu jika memang telah datang yang halal bagiku. Sabar dan tabahkan hatiku agar sanggup menunggu hingga saat itu tiba.

Rabb-ku pasti menjawab doa-doaku dengan cara-Nya dan aku percaya itulah yang terbaik untukku.

~Andini Nova
Jakarta, 17 September 2010

Pembalasan

Oleh Andini Nova


Dan aku melihat sebuah koper di ujung pintu masuk. Ayahku pergi malam itu.



Waktu menunjukkan pukul 00.53. Sudah sangat larut. Namun aku masih terjaga, berbaring sambil memandang langit-langit kamar yang sempit ini. Suara gemericik air hujan sesekali terdengar, membuat malam ini tidak terlalu sunyi.

Pikiranku menerawang ke 12 tahun yang lalu. Tepatnya saat aku duduk di bangku 2 SMP. Tidak banyak yang kuingat dari masa itu. Hanya beberapa kenangan pahit yang lukanya masih membekas hingga detik ini.


1998

Selama ini aku merasa semua baik-baik saja. Sampai suatu ketika aku didudukkan di sebuah kursi di ruang tamu dan ibuku berkata bahwa ia dan ayah akan berpisah. Aku memandang wajahnya, matanya bengkak. Sepertinya ia habis menangis hebat. Ibu memelukku erat, aku merasakan tubuhnya gemetaran. Aku mengerti perkataannya barusan. Perpisahan yang ia maksud pasti perceraian. Tapi aku sama sekali tak tahu apa alasan hingga mereka mengambil keputusan seekstrim itu. Karena sekali lagi, selama ini aku merasa semua sangat baik-baik saja.

Sambil terus memeluk ibuku, aku mencoba mengingat semuanya. Ayah dan ibuku memang jarang bertengkar. Setahuku begitu, entahlah. Mungkin mereka sering bertengkar tapi tidak di hadapanku. Tapi dari pengamatanku, aku yakin tidak ada masalah serius dalam hubungan mereka.

Ayahku adalah seorang ayah dan suami yang baik. Walaupun memang keras dan tegas. Ia sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya. Kebutuhan materi maupun nonmateri kami sekeluarga telah ia penuhi. Bahkan lebih dari cukup. Dia juga yang mengajarkanku tentang pentingnya kedisiplinan. Sesekali ia bergurau denganku. Kami tertawa bersama. Sikapnya pada ibu juga baik, walau terkadang cenderung posesif. Tapi aku rasa itu karena ayah sangat mencintai ibu. Tidak salah jika di mataku dia adalah sosok yang hampir sempurna.



Ibuku juga tidak jauh berbeda. Ia seorang istri yang patuh terhadap suami. Mungkin juga karena dipengaruhi sikap posesif ayah. Ia jarang keluar rumah sendiri. Kalaupun iya, hanya untuk urusan seperti berbelanja ke pasar atau membeli kebutuhan lain. Selebihnya ia selalu pergi bersamaku atau ayah. Ibu juga pintar masak. Aku dan ayah sangat suka masakannya, karena itu kami sekeluarga jarang sekali makan di luar. Bagi kami masakan ibulah yang paling lezat. Memang, tubuh ibu lemah dan gampang sakit, tapi aku rasa itu bukan suatu masalah. Karena ayah sudah tahu kondisi ibu sebelum mereka menikah.

Makanya, aku tak habis pikir. Bagaimana bisa dua orang yang sama-sama baik dan saling mencintai, memutuskan untuk berpisah? Bukankah hubungan mereka selama ini juga baik-baik saja? Lalu apa alasannya? Aku terus-menerus bertanya dalam hati.

Tiba-tiba Ibu melepas pelukannya. Membuatku sedikit terkejut dan menghentikan lamunanku.

"Sarah..", ibu memanggil namaku sembari mengelus kepalaku lembut. Suaranya terdengar parau.

"Maaf untuk sekarang ibu ngga bisa menjelaskan apa alasan ibu dan ayah berpisah. Tapi suatu hari nanti kamu akan tau semuanya."

Melihat keadaannya yang sangat rapuh, aku memutuskan untuk tidak bertanya apa-apa. Aku tidak ingin memaksanya saat ini, hanya akan menambah bebannya, pikirku.

Suasana menjadi hening sejenak, sampai ibu berkata,

"Kamu ikut ibu atau ayah? Ikut ibu aja, ya? Temani ibu? Ya, Sar?"

Pertanyaan yang sulit. Tapi aku tidak mungkin tega meninggalkan ibu sendiri. Sedangkan aku sangat tahu bahwa kondisi fisiknya lemah. Kuputuskan untuk ikut bersamanya, menemaninya.

"Aku ikut ibu",

Dan sejak malam itu, aku tidak pernah melihat ayah lagi. Aku tinggal hanya berdua dengan ibu. Ini benar-benar kepergian dan perpisahan tiba-tiba yang meninggalkan setumpuk tanda tanya besar bagiku.

Pasca perceraian ibu dan ayah, keadaanku dan ibu berubah 180 derajat. Kami yang sebelumnya hidup serba cukup tiba-tiba harus berhadapan dengan kesusahan. Beberapa kali ibu mencoba bekerja. Mulai dari menjadi office girl hingga pembantu rumah tangga. Gaji tidak seberapa, namun harus mengeluarkan tenaga ekstra. Fisiknya yang lemah tidak mampu terus menopang, hingga ia kerap kali harus berhenti di tengah jalan. Aku yang saat itu masih SMP, tidak bisa berbuat apa-apa. Peringatan dari wali kelas karena terlambat membayar SPP pun sering kuterima. Ibu terpaksa harus hutang sana-sini agar kami tetap bisa bertahan, bisa makan walaupun seadanya.


Sering aku mendapati ibu sedang menangis di kamar sambil memandangi foto ayah, namun tidak lama ia menjerit dan mengumpat. Aku hanya bisa menangis melihat keadaannya. Pasti ibu merasa sangat menderita, belum sembuh lukanya karena berpisah dengan ayah, ditambah lagi sekarang harus hidup susah. Sebenarnya keadaan seperti ini tidak perlu kami alami kalau saja ibu mau menerima uang kiriman dari ayah. Namun entah kenapa ia bersikeras menolak semua pemberian dari ayah. Beberapa kali ayah datang ke rumah untuk menjengukku, tapi ibu selalu mengusirnya. Bahkan tiap kali aku membicarakan tentang ayah, raut wajah dan tatapan ibu selalu berubah jadi mengerikan, seakan ia ingin mengubur seseorang hidup-hidup. Tapi ah, aku mencoba mengabaikannya, mungkin hanya perasaanku saja.

Keadaan memburuk. Ibu jatuh sakit. Ia tidak lagi bekerja, hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur. Kami berdua benar-benar tidak mempunyai uang saat itu. Kami kelaparan dan ibu pun memerlukan pengobatan. Aku membujuk ibu untuk meminta bantuan dari ayah, namun ia malah murka.

"Jangan sebut tentang dia di depanku! Sepeserpun aku tak sudi memakai uangnya!" bentaknya.

Aku sangat terkejut. Mengapa ibu jadi sebegini bencinya pada ayah.

"Aku tak sudi melihat lagi wajahnya yang busuk itu!"

Aku tercengang mendengar semua ucapannya. Badanku seketika lemas. Tak pernah aku melihat sikap ibu yang seperti ini. Bahkan sebelumnya ia jarang sekali marah.

"Kenapa ibu ngomong gitu? Kenapa bu? Kenapa? Ayah salah apa", aku bertanya sambil menangis.

"Diam!!!" teriaknya. Lalu menjerit-jerit seperti orang gila.

Aku terpaksa patuh. Memaksa dan terus bertanya hanya akan memperburuk keadaannya. Walau di pikiranku terisi banyak pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Aku berniat menghubungi ayah diam-diam, namun apa daya aku tidak tahu nomor telepon atau alamat ayah. Ayah pun tak pernah datang ke rumah lagi. Mungkin jenuh karena selalu diusir oleh ibu. Untung saja rumah yang kami tinggali adalah rumah orangtua ibu, kalau saja rumah ini punya ayah, pasti ibu tidak akan mau tinggal disini lagi dan kami harus tinggal di jalan. Keadaan kami berdua benar-benar pelik, aku tak bisa dan tak boleh minta bantuan ayah, saudara ibu yang aku tahu hanya tante Mia, kakak dari ibu, sedangkan nenek dan kakekku sudah meninggal. Namun meminta bantuan pada tante Mia rasanya sangat tidak mungkin. Setahun yang lalu ibu pernah cerita bahwa tante Mia meninggal setelah sebelumnya masuk rumah sakit jiwa. Akhirnya aku terpaksa meminta belas kasihan para tetangga. Beruntung beberapa bersedia membantu, memberi makanan dan sedikit uang. Namun hal itu memang tidak cukup membuat keadaan jadi membaik. Malah penyakit ibu makin parah karena tidak menerima perawatan dan obat yang memadai. Ia tak mampu lagi bertahan. Dan akhirnya Ibu pergi, selamanya. Meninggalkanku sendirian dalam keterpurukan ini.


*

Sudah 5 tahun sejak kepergian ibu. Kalau saja aku melanjutkan sekolahku, mungkin aku telah lulus SMA. Sebenarnya beberapa waktu setelah ibu meninggal, wali kelasku datang ke rumah, menyusulku karena aku sudah 2 minggu lebih tidak masuk sekolah. Setelah aku menceritakan semuanya, ia berniat untuk mengadopsiku. Namun aku menolak. Ibu guruku terus memaksa. Aku yang saat itu benar-benar sedang terguncang dan labil, dipaksa seperti itu aku menjadi murka.

"Aku bilang ngga! Pergi! Pergi!!!"

Akhirnya sejak saat itu aku pun putus sekolah. Aku tidak terfikir apa-apa. Aku merasa tidak ada gunanya lagi hidup di dunia. Yang kulakukan hanya berdiam diri di dalam rumah sambil menangis sepanjang hari. Semua tetangga dan teman yang berdatangan dan menawarkan untuk membantu, aku usir. Aku tidak ingin bertemu siapa-siapa. Aku tidak ingin melakukan apa-apa. Sampai puncaknya suatu hari aku berniat bunuh diri tapi kubatalkan karena ternyata aku masih takut mati. Akhirnya sejak saat itu aku memutuskan untuk melanjutkan hidupku. Aku pergi dari rumah, karena jika aku tetap tinggal disitu, aku tidak akan lepas dari bayang-bayang masa lalu.


Saat itu aku kerja serabutan, mengamen, sampai mengemis. Tapi beruntung aku bisa bertahan hingga saat ini, hingga umurku 18 tahun. Selama hidup di jalan, aku merasakan betapa keras dan kejamnya dunia ini. Persaingan antar pengamen dan pengemis yang sering berakhir dengan penganiayaan. Beberapa kali aku dan kawan-kawan senasib dipukuli oleh preman yang menaungi pengamen dan pengemis dari kelompok lain. Dari hari ke hari berlangsung seperti itu hingga akhirnya aku menjadi terbiasa bahkan bisa melawan dan lebih kejam dari mereka. Semua proses ini membentuk diriku menjadi orang yang berhati dingin. Tapi toh, aku rasa ini cara terbaik untuk bertahan hidup. Hidup di jalanan seperti ini memang tidak boleh lemah dan jangan mempercayai orang lain. Bahkan kawan sekalipun. Karena sewaktu-waktu mereka bisa menjadi lawan yang bisa saja membunuhku.

*

Siang itu terasa panas. Aku bersantai di bawah pohon di sebuah taman dekat dengan terminal tempat aku biasa mengamen. Tiba-tiba aku teringat ibu. Aku merindui dia. Beribu pertanyaan usang kembali muncul di otakku. Kenapa dia pergi begitu cepat, kenapa dia meninggalkanku sendirian, kenapa ayah tak pernah mencariku, kenapa aku harus mengalami hidup seperti ini. Kalau saja ayah dan ibu tidak berpisah, aku tidak akan begini.

Kuputuskan untuk mengunjungi rumahku yang telah lama kutinggalkan. Kuberanikan diri, karena aku benar merindui ibu. Disana aku bisa mengambil fotonya untuk kusimpan. Karena dulu saat aku pergi, aku tidak membawa apapun. Sesampainya di rumah, ternyata keadaannya tidak banyak berubah. Hanya terlihat usang tidak terawat karena tidak ada yang meninggali. Dengan agak ragu aku membuka pintu dan masuk ke dalam. Merinding juga rasanya. 5 tahun rumah ini kosong dan sekarang aku disini sendiri. Aku hendak menuju kamarku dulu, tapi ketika melewati kamar ibu, entah mengapa aku memutuskan untuk masuk kesitu.


Keadaan di kamar ibu masih sama seperti dulu. Bahkan posisi tiap barang juga tidak berubah. Aku memang tidak pernah masuk ke kamar ibu lagi semenjak ia meninggal. Aku duduk di tempat tidur ibu dan mulai mengamati seluruh bagian ruangan. Pandanganku terhenti pada sebuah amplop putih yang terselip di tumpukan baju yang berada di atas meja. Aku terdiam sejenak. Aku mencoba mengingat, sehari sebelum ibu meninggal, aku memang baru saja menstrika baju, termasuk bajunya. Aku biasa meletakkan bajunya yang sudah kusetrika di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Karena ibu lebih suka menata bajunya sendiri di lemari. Akhirnya kuambil amplop itu.

"Apa ini?", gumamku dalam hati.

Kubuka amplop itu, di dalamnya terdapat sebuah kertas. Sepertinya surat. Ternyata benar. Aku membacanya perlahan dan teliti. Sepanjang membaca, badanku gemetar, bulu kudukku merinding, peluhku jatuh satu-persatu dan aku menangis, perasaanku bergemuruh.

"Biadab! Biadab!!!"

Aku langsung berlari meninggalkan rumah. Dengan perasaan yang dipenuhi amarah aku kembali ke rumah kardusku di kolong jembatan. Semalaman aku diam dan berpikir, sambil terus mengumpat, "Biadap! Brengsek! Lo ngga akan selamat! Lo ngga akan selamat!!!"

Esok harinya, aku pergi ke sebuah perumahan di kawasan Bendungan Hilir, tepatnya ke alamat yang ditulis d dalam surat itu. Mataku terus tertuju pada sebuah rumah besar bercat hitam abu-abu. Aku mengamati dari jauh. Menunggu hingga tanpa terasa sore menjelang dan hari mulai gelap. Tiba-tiba sebuah mobil datang dan masuk ke rumah tersebut. Nampak seorang pria paruh baya keluar dari mobil. Aku sangat ingat wajah itu. Wajah si biadab!!!

Aku kembali ke rumah kardus dan bergegas mencari seorang preman di daerah situ dan berbincang dengannya.

"Lo ada ngga, Bang?", tanyaku.

"Emang buat apa lo nyari barang gituan?", ia balik bertanya dengan wajah serius.

"Gue ada perlu. Penting banget. Bakal gue bayar. Gue ada simpenan 500rb. Please, pinjemin gue."

"Oke. Karena lo uda gue anggap ade gue sendiri, bakal gue pinjemin. Tapi kalo kejadian apa-apa, jangan bawa-bawa gue."

"Iya, Bang. Gue janji".

Malamnya,

"Besok lo akan dapetin pembalasan atas semua kebiadaban lo!!! Demi ibu, gue pasti bunuh lo! Lo mesti mati di tangan gue!!" aku menahan amarah, tapi entah mengapa aku juga menangis. Setelah itu aku tidur sangat nyenyak. Benar-benar nyenyak. Sebelumnya aku belum pernah tidur senyenyak ini.

*

Aku sedang duduk sambil memegang foto ibu ketika seorang penjaga datang ke kamarku.

"Sarah Inggrid, keluar!" seru penjaga sembari membuka gembok jeruji.

"Aku pergi dulu, Bu. Aku udah melakukannya. Ibu tenang aja, aku udah menembaknya." kucium foto ibu lalu kuletakkan di atas kasur.

Kutinggalkan kamar sempit itu dan penjaga menuntunku menuju ruang sidang.

Suasana tidak begitu ramai. Hanya terdapat seorang hakim dan jaksa penuntut. Tidak ada pengacara untukku, karena aku memang tidak perlu pembelaan.

Akhirnya hakim membacakan putusannya, "Dengan ini memutuskan bahwa Saudari Sarah Inggrid Hartanto terbukti bersalah karena melakukan pembunuhan berencana terhadap Dedi Hartanto hingga mengakibatkan kematian. Maka terdakwa dihukum kurungan penjara seumur hidup"

Aku menutup mata, lalu tersenyum. Puas.

***


29 Juni 1998

Sar, ibu sudah tidak sanggup bertahan. Ibu benar tidak mau harus meninggalkan kamu sendiri. Tapi ibu benar-benar sudah tidak kuat. Sar, dulu ibu pernah berjanji akan menceritakan padamu alasan kenapa ibu dan ayahmu berpisah. Sekarang ibu akan menceritakan semuanya. Setahun yang lalu, Tantemu, Mia, tiba-tiba mengalami gangguan kejiwaan. Ia seperti orang gila. Akhirnya ayah dan ibu memasukkannya ke rumah sakit jiwa. Karena keadaannya sudah semakin parah, ditambah lagi ia belum menikah, jadi tidak ada yang mengurusnya kalau dia tetap tinggal di rumahnya. Namun tidak lama setelah masuk ke RS, Mia bunuh diri. Ibu sangat sedih dan terpukul saat itu. Ibu pun tidak tahu apa sebenarnya yang menyebabkan Mia menjadi gila. Sampai suatu hari, tepatnya 5 bulan lalu, 2 hari sebelum ayah dan ibu berpisah, ketika kami berdua bertengkar hebat. Ayahmu menuduh ibu berselingkuh dengan teman kerjanya, Doni, yang beberapa kali pernah berkunjung ke rumah kita. Ibu membantah, karena ibu memang tidak melakukannya. Namun ayahmu tetap menuduh ibu bahkan berkata bahwa ibu adalah wanita murahan.

"Kamu memang wanita murahan. Sama persis seperti kakakmu yang mati konyol itu."

Ibu sangat terkejut mendengarnya. "Apa maksudmu???"

"Hahaha. Kakakmu sudah berumur 40 lebih tapi masih saja belum menikah. Lalu ia datang mengemis padaku untuk dicarikan lelaki untuknya. Aku pikir daripada mencarikan, kenapa tidak aku saja. Lagipula kau penyakitan dan sudah tidak bisa melayaniku. Akhirnya kami menjalin hubungan tanpa sepengetahuanmu. Sialnya, dia hamil. Dan dia minta aku menikahinya. Aku menolak, namun dia terus memaksa. Karena geram, akhirnya aku mengancamnya. Jika dia tetap memaksa, aku akan membunuhmu. Ternyata dia tidak tega juga adiknya dibunuh, padahal dia telah mengkhianatimu. Akhirnya dia membatalkan tuntutannya dan aku menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya agar tidak ada orang yang tahu tentang hubungan kami. Kakakmu memang bodoh, ia menuruti perkataanku. Namun tidak lama setelah itu, ia merasa bersalah terhadapmu dan juga bayinya. Tapi ia tidak juga berani jujur kepadamu karena aku terus mengancamnya. Akhirnya dia pun menjadi gila, bahkan bunuh diri. Kebodohan kakakmu benar-benar menguntungkanku. Hahaha"

"Biadab. Teganya kamu! Dasar bajingan!!!"

Ibupun minta berpisah dengan ayahmu. Ayahmu mengabulkan dengan syarat ibu berjanji tidak akan menceritakan hal ini kepada siapapun, termasuk kamu. Akhirnya kamipun bercerai. Sar, ibu benar-benar tidak terima diperlakukan begini oleh bajingan itu. Bukan hanya ibu, tantemu pun diperlakukan serupa, bahkan lebih kejam. Ibu ingin membalas dendam, tapi ibu merasa waktu ibu tidak banyak lagi. Jika kamu sudah membaca surat ini, balaskan dendam ibu, nak. Balaskan dendam Mia. Dialah yang membuat kita sengsara. Biarkan dia merasakan apa yang kita rasakan.."
(ngp)

Demi masa, sesungguhnya diriku kerugian

Aku tak tahu apa yang membuatku sering melamun. Aku tak tahu apa yang sebenarnya aku pikirkan, aku inginkan. Aku tak tahu apa yang aku cari, aku pun tak yakin apa yang ingin ku bicarakan. Entahlah, hari-hari belakangan aku merasa bersemangat sekali. Aku rajin menebar senyum, aku jadi jarang marah, jarang tersinggung, aku mulai berusaha mengendalikan emosiku, sikapku, perkataanku. Berusaha sabar dan tetap tenang. Tapi kenapa ya? aku masih merasa ada yang kurang. Tapi aku tak tahu apa itu.
Yang jelas kekurangan itu membuatku tidak bisa memaknai dan merasakan keindahan dari semua yang aku lakukan. Aku beraktivitas, tapi pikiranku kosong. Aku tidak merasakan apa-apa, semua biasa saja. Aku terus bertanya dan bertanya pada diri sendiri, apa? kenapa? Mencari dan terus mencari sampai akhirnya di hari ini aku menemukan jawabannya, bahwa ternyata,
"Aku belum mencintai Tuhanku sepenuh hati"

Bagaimana bisa aku menikmati ketenangan, ketentraman, keikhlasan, jika cintaku pada Tuhanku saja cuma setengah-setengah.
Mohon ampun Ya Allah..

~Andini Nova

Minggu, 13 Juni 2010

Qaryah Thayyibah; Sekolah Kebebasan di Tengah Belenggu Pendidikan Indonesia

Qaryah Thayyibah; Sekolah Kebebasan di Tengah Belenggu Pendidikan Indonesia

Oleh Andini Nova

Ada pemandangan yang tidak biasa jika berkunjung ke rumah Ahmad Bahruddin, warga Desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah. Rumah Bahruddin ramai dipenuhi oleh para remaja yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang sedang bermain komputer, ada yang berdiskusi, ada pula yang membaca buku. Ya, pertengahan Juli 2003, Bahruddin memang memutuskan untuk mendirikan sebuah sekolah alternatif yaitu SMP Terbuka Qaryah Thayyibah dengan menggunakan dua ruangan di rumahnya. Tidak heran jika rumahnya selalu ramai tiap hari. Ide mendirikan sekolah alternative ini muncul ketika pada pertengahan tahun 2003, anak pertamanya, Hilmy, akan masuk SMP. Bahruddin terusik dengan anak-anak petani di desanya yang tidak mampu membayar uang sumbangan masuk SMP negeri yang saat itu mencapai Rp750.000, uang sekolah rata-rata Rp 35.000 per-bulan, uang seragam dan uang buku yang jumlahnya mencapai ratusan ribu rupiah, belum lagi ditambah biaya transport naik angkutan desa sebesar Rp1000 sekali jalan. “Saya mungkin mampu, tetapi bagaimana dengan orang-orang lain di desa saya?” tuturnya.

Bagi masyarakat Desa Kalibening yang mayoritas berprofesi sebagai petani, pendidikan bukanlah hal yang utama, sehingga tidak ada alasan mendesak untuk mengenyam pendidikan, apalagi jika harus membayar biaya yang mahal. Hati Bahruddin pun tergerak untuk peduli akan nasib teman-teman Hilmy tersebut. Rasa kepeduliannya itu ia wujudkan dengan menggagas ide pendirian sekolah alternatif yang berkualitas tapi dengan biaya yang murah.

Langkah pertama yang diambil Bahruddin yaitu mengumpulkan tetangganya dan mengadakan diskusi dengan mereka terkait dengan idenya itu. Dalam diskusi itu dibahas beberapa hal mengenai keluhan warga setempat mengenai pendidikan di Indonesia saat ini yang tidak juga berkualitas namun biayanya mahal. Setelah membahas berbagai keluhan itu, Bahruddin pun menceritakan idenya untuk mendirikan sebuah sekolah alternatif tingkat menengah pertama sebagai solusi untuk mengatasi keluhan-keluhan itu. Pada awalnya, dari tiga puluh peserta diskusi saat itu, hanya dua belas orang yang menerima idenya. Alasan yang dikemukakan oleh delapan belas warga yang menolak adalah karena takut coba-coba.

Menghadapi respon seperti itu, Bahruddin tidak gentar, ia bersama dua belas warga yang pro terhadap idenya, tetap maju dan akhirnya SMP Alternatif Qaryah Thayyibah ini pun berdiri dan mulai beroperasi dengan murid awal berjumlah 24 orang. Siswa sekolah ini tidak dipatok harus belajar sesuai kurikulum seperti sekolah formal. Sekolah ini memang masih menggunakan kurikulum nasional sebagai acuan, namun hal ini dilakukan agar lulusan SMP Qaryah Thayyibah tetap mendapat ijazah resmi dan pengakuan dari pemerintah serta masyarakat umum. Cara pembelajaran yang bebas dan tidak terikat oleh jadwal memang menjadi ciri dari sekolah ini. Siswa sedang ingin belajar apa, saat itulah ia mencari sendiri materi pelajaran yang ingin diketahuinya. Ia pun bisa mencari partner dan membentuk suatu kelompok kecil untuk berdiskusi tentang suatu hal. Tempat belajar pun tidak memandang lokasi, bisa dimana saja sesuai dengan keinginan peserta didik, ada yang belajar ruang kelas, di halaman, atau di kebun. Dari sini, siswa sudah dirintis untuk memilih sendiri apa yang menjadi minat mereka dan menentukan cara belajar sendiri yang dirasa cocok dengan mereka sehingga menjadi lebih fokus untuk menekuninya.

Menurut sekolah ini, belajar maksimal adalah yang didasari dengan keinginan dan kebutuhan siswa. Pandangan itulah yang mendasari pilar orientasi pendidikan independen dalam mengembangkan minat dan bakat para peserta didik. Kebebasan dan kemandirian dalam proses pembelajaran di sekolah ini tetap terkontrol dengan adanya beberapa guru pendamping sebagai teman diskusi, fasilitator dan juga motivator. Suasana kaku dan tegang yang biasanya terjadi di sekolah formal, tidak akan ditemukan pada sekolah ini karena hubungan antara siswa dan guru sangat akrab seperti halnya teman. Keakraban inilah yang membuat para siswa menjadi lebih enjoy dalam belajar.

Untuk menunjang proses belajar, fasilitas komputer yang dilengkapi dengan jaringan internet pun disediakan. Komputer-komputer itu dibeli dengan uang hasil sumbangan para warga. Untuk fasilitas internet, sekolah ini tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun karena Bahruddin dan para pendiri lainnya yang merupakan anggota Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah, bekerja sama dengan Roy Budhianto Handoko, direktur perusahaan internet di Salatiga, Indo.net yang memberi fasilitas internet 24 jam per-hari. Dengan adanya fasilitas komputer, internet, dan wi fi ini, para siswa diharapkan menjadi peserta didik yang melek teknologi, dan hal itu memang terjadi.

Jangan bicara soal produktivitas di sini. Para siswa yang umurnya masih belasan, sudah bisa membuat film sendiri. Setiap akhir pekan di akhir bulan, ada pemutaran film ini untuk ditonton ramai-ramai. Kalau film saja dengan mudahnya diproduksi, apalagi cuma sekadar buku. Di sini, karya-karya siswa sudah dibukukan dan diterbitkan oleh penerbit progresif dari Jogjakarta, LKiS. Alhasil, meskipun masih berstatus pelajar, para siswa di sekolah ini sudah bisa mendapat penghasilan sendiri dari karya-karya yang mereka ciptakan.

Sekolah yang pada awalnya hanya mempunyai 24 siswa ini, sekarang telah mempunya 150 siswa yang tidak hanya berasal dari Salatiga, tapi juga dari daerah lain seperti Jogjakarta, Solo, Malang, bahkan Jakarta. Pendek kata, sekolah ini benar-benar menjadi alternatif bagi pendidikan yang sekarang ini terasa sangat membelenggu, tidak membebaskan. Belajar sesungguhnya bukan pada ujian, tapi kehidupan. Tetap menjaga nilai kearifan lokal tapi berwawasan global dengan pengetahuan yang benar adalah pendidikan yang sesungguhnya, dan Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah berhasil melakukan hal itu. (ngp)

***

Kau Seperti Gorengan, Tidak Menyehatkan

Kamu hanyalah sepenggal masa lalu yang sama sekali tidak layak untuk dikenang.
Bagiku, kamu hanya sekedar gorengan, tidak menyehatkan. Cintamu mengandung kolesterol tinggi yang bisa membuatku terkena serangan jantung.

Kamu tidak sepenting itu.
Kamu hanyalah aktor pembantu dalam beberapa adegan di hidupku.
Karena itu kamu sama sekali tidak pantas membusungkan dada, menunjukkan kesombongan seakan kamu orang paling dibutuhkan.

Aku tidak berminat berurusan dengan virus langka macam dirimu. Berkali-kali aku melakukan riset dan akhirnya telah kutemukan vaksin untuk membasmimu, maka bersiaplah kamu untuk musnah.

Kamu cuma seonggok benalu yang selalu menghisap kenikmatan dari tubuhku.
Tidak tahu malu.
Tapi sungguh sayang, kejayaanmu harus berakhir sampai disini, Karena akulah sang inang yang akan menendangmu jauh-jauh dari hidupku.

Kamu tak berhak berbicara tentang cinta.
Karena batu kali sepertimu, tidak akan bisa merasakan.
Kamu sulit tertembus oleh air kasih sayang, karena di dalam tubuhmu hanya tersimpan setumpuk kekerasan untuk menghancurkan.

Kamu juga terlihat bagai tukang kredit.
Menjajakan cinta palsu dan memintaku membayar perlahan-lahan sebagai balasan atas cinta yang telah kau berikan.
Rendahan.
Otakmu tak ubahnya seperti jurnal penerimaan kas yang hanya mencatat pemasukan, tanpa pernh berpikir untuk mengeluarkan modal.

Kepalamu besar.

Makhluk macam dirimu, tidak pantas berkeliaran di hidupku. Hanya membawa penyakit keputusasaan.
Maka ku lempar kau jauh-jauh seperti sebungkus sampah yang harus dibuang menuju tempat pembakaran.

Dan kamu tidak berhak untuk berkata jangan..

~Andini Nova